Selasa, 27 Oktober 2026
23:56 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung
Hewan jinak

Hewan jinak

hewan yang telah menoleransi dan terbiasa hidup bersama manusia

Bagikan:
250px-20120623_Sqwiki_the_Squirrel_at_Wiknic.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Di taman publik, beberapa hewan liar, seperti tupai abu-abu timur ini, telah cukup jinak sehingga kehilangan rasa takut alaminya kepada manusia.

Hewan jinak adalah hewan yang relatif toleran dengan keberadaan manusia. Kejinakan dapat muncul secara alami (misalnya pada kasus kejinakan pulau) atau karena proses pelatihan hewan yang disengaja dan diarahkan oleh manusia sehingga hewan tersebut melawan naluri awalnya yang liar atau alami untuk menghindari atau menyerang manusia. Tingkat kejinakan hewan merupakan tingkat kemudahan yang dibutuhkan manusia untuk melatih hewan tersebut. Hal ini bervariasi di antara individu hewan, ras, atau spesies.[1]

Hewan jinak sering disamakan dengan hewan domestik. Namun, kedua istilah tersebut mengacu pada dua konsep yang berbeda.[2] Sebagai contoh, sejumlah satwa liar, misalnya gajah yang terlatih, bukanlah hewan domestik meskipun mereka bersifat jinak kepada manusia. Di sisi lain, hewan feral merupakan hewan domestik yang tidak jinak. Penjinakan juga berbeda dengan pelatihan hewan, meskipun dalam beberapa konteks istilah ini dapat saling menggantikan. Penjinakan menyiratkan bahwa hewan jinak tidak hanya menolerir berada dekat dengan manusia, tetapi juga dapat disentuh oleh manusia.[3][4] Namun, dalam definisi umum, label "jinak" digunakan pada hewan yang tidak mengancam atau melukai manusia yang tidak menyakiti atau mengancam mereka.

Referensi

  1. ↑ Price, Edward O. (2008). Principles and applications of domestic animal behavior: an introductory text. ISBN 978-1-78064-055-6. OCLC 1376460488.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ↑ Hemmer, Helmut (1990). Domestication : the decline of environmental appreciation (Edisi 2). Cambridge [England]: Cambridge University Press. ISBN 0-521-34178-7. OCLC 19814423.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ↑ Geist, Valerius (2011). "Wildlife habituation: advances in understanding and management application". Human-Wildlife Interactions. 5 (1): 9–12. ISSN 2155-3858.
  4. ↑ Geist, Valerius (2011). "Response to Rogers and Mansfield (2011) and Stringham (2011)". Human-Wildlife Interactions. 5 (2): 192–196. ISSN 2155-3858.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan