Minggu, 01 November 2026
11:36 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Hendrik Marsman

Hendrik Marsman

Bagikan:
250px-HendrikMarsman193X.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Hendrik Marsman

Hendrik Marsman (lahir di Zeist, 30 September 1899 dan meninggal di laut 21 Juni 1940) adalah seorang penulis sajak dan prosa asal Belanda. [1] Sebelum menjadi penulis sajak dan prosa, Hendrik Marsman pernah berkuliah hukum di Ultrecht.[1] Semula ia bekerja sebagai pengacara di kota itu, tetapi ia segera mengalihkannya dalam bidang sastra.[1] Pada tahun 1921 sampai tahun 1922, Marsman mengunjungi Jerman dan segera terpengaruh pada ekspresionisme yang sedang menanjak, yang lebih menonjolkan lirik kota besar dengan bayangan tegang pengalaman romantik penyair.[1] Di antara tokoh impresionisme Jerman pada saat itu adalah Trakl dan Heym.[1] Pengaruh ini sangat jelas pada kumpulan sajak Verzen yang diterbitkan pada tahun 1923.[1] Dalam perkembangan selanjutnya, Marsman mengakui hanya ada satu hukum kehidupan dan membuat dirinya menjadi penyebar paham vitalisme.[1] Pada tahun 1930, Marsman mengundurkan diri dari jabatannya sebagai redaktur majalah De Vrije Bladen karena menurutnya majalah ini tidak mampu menggelorakan semangat generasi muda.[1] Mundurnya ia dari redaktur ini juga menandakan akhir karierernya dalam bidang jurnalistik.[1] Akhirnya sejak tahun 1933, ia memfokuskan diri dalam bidang literatur di daratan Eropa.[2] Karya-karyanya sering kali memperlihatkan ketakutannya pada kematian.[1] Karyanya ini juga memengaruhi karakteristik karya sastra dunia, termasuk karya sastra Angkatan ’45, era Chairil Anwar.[1]

Hendrik Marsman kemudian meninggal di tengah lautan ketika kapal yang membawa dirinya melarikan diri ke Inggris dibom oleh Angkatan Laut Jerman pada 21 Juni 1940.[2]

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 (Indonesia) Shaadily, Hassan. Ensiklopedia Indonesia Jilid 4. Jakarta: Ichtiar Baru dan Van Hoeve.
  2. 1 2 (Inggris) "Biography of Hendrik Marsman".
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan