Rabu, 23 September 2026
13:41 WIB
TERKINI
Cek Fakta Waspada! Penipuan Cek Bansos 2026 Marak, Data Pribadi Jadi Incaran Cek Fakta Waspada Penipuan BLT Kesra 2026 via Telegram: Kenali Prosedur Resmi Cek Fakta Mengungkap Tiga Hoaks Besar Korupsi yang Menjerat Nama Mantan Presiden Jokowi Hukum & Kriminal Aktivis Desak Kemenimipas Transparan Ungkap Dokumen Remisi Pemerkosa Belasan Santriwati Eropa & Amerika Presiden Trump Serukan Negara Anggota Mundur dari ICC, Ancam Sanksi Lembaga Eropa & Amerika AS, Denmark, dan Greenland Sepakati Perluasan Militer Strategis Tanpa Batas Waktu Hukum KPK Ungkap Puluhan Celah Korupsi Pengurusan Dokumen Tanah di ATR/BPN Kolom Sidang Mahkamah Konstitusi Uji Materi UU Kesehatan, Perlindungan Dokter Jadi Sorotan Politik Pendidikan Gibran di UTS Insearch Australia Dipermasalahkan dalam PHPU Regional Kembalinya Bechi ke Ponpes Picu Kekhawatiran, Bapas Diminta Awasi Ketat Cek Fakta Waspada! Penipuan Cek Bansos 2026 Marak, Data Pribadi Jadi Incaran Cek Fakta Waspada Penipuan BLT Kesra 2026 via Telegram: Kenali Prosedur Resmi Cek Fakta Mengungkap Tiga Hoaks Besar Korupsi yang Menjerat Nama Mantan Presiden Jokowi Hukum & Kriminal Aktivis Desak Kemenimipas Transparan Ungkap Dokumen Remisi Pemerkosa Belasan Santriwati Eropa & Amerika Presiden Trump Serukan Negara Anggota Mundur dari ICC, Ancam Sanksi Lembaga Eropa & Amerika AS, Denmark, dan Greenland Sepakati Perluasan Militer Strategis Tanpa Batas Waktu Hukum KPK Ungkap Puluhan Celah Korupsi Pengurusan Dokumen Tanah di ATR/BPN Kolom Sidang Mahkamah Konstitusi Uji Materi UU Kesehatan, Perlindungan Dokter Jadi Sorotan Politik Pendidikan Gibran di UTS Insearch Australia Dipermasalahkan dalam PHPU Regional Kembalinya Bechi ke Ponpes Picu Kekhawatiran, Bapas Diminta Awasi Ketat

Hemolisis

Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia. Silakan kembangkan artikel ini semampu Anda. Merapikan artikel dapat dilakukan dengan wikifikasi atau membagi artikel ke paragraf-paragraf. Jika sudah dirapikan, silakan hapus templat ini. (Januari 2026) (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
Artikel ini bukan mengenai hemodialisos.

Hemolisis—dari bahasa Yunani αἷμα (aima, haema, hemo-) berarti "darah" dan λύσις (lusis, lysis, -lysis) berarti "lepas", "menjadi bebas" atau "mengeluarkan"[1]—adalah pecahnya membran eritrosit, sehingga hemoglobin bebas ke dalam medium sekelilingnya (plasma). Kerusakan membran eritrosit dapat disebabkan oleh antara lain penambahan larutan hipotonis atau hipertonis ke dalam darah, penurunan tekanan permukaan membran eritrosit, zat/unsur kimia tertentu, pemanasan atau pendinginan, serta rapuh karena ketuaan dalam sirkulasi darah. Apabila medium di sekitar eritrosit menjadi hipotonis (karena penambahan larutan NaCl hipotonis) medium tersebut (plasma dan larutan) akan masuk ke dalam eritrosit melalui membran yang bersifat semipermiabel dan menyebabkan sel eritrosit menggembung. Bila membran tidak kuat lagi menahan tekanan yang ada di dalam sel eritrosit itu sendiri, maka sel akan pecah, akibatnya hemoglobin akan bebas ke dalam medium sekelilingnya. Sebaliknya bila eritrosit berada pada medium yang hipertonis, maka cairan eritrosit akan keluar menuju ke medium luar eritrosit (plasma), akibatnya eritrosit akan keriput (krenasi). Keriput ini dapat dikembalikan dengan cara menambahkan cairan isotonis ke dalam medium luar eritrosit (plasma).

Penyebab Hemolisis

Hemolisis, yaitu penghancuran sel darah merah yang mengakibatkan pelepasan hemoglobin ke dalam plasma, dapat disebabkan oleh berbagai faktor, baik yang bersifat fisik maupun kimia. Beberapa penyebab utama hemolisis meliputi:[2][3]

  1. Larutan Hipotonis atau Hipertonis Penambahan larutan dengan konsentrasi osmotik yang berbeda dapat menyebabkan perubahan volume sel eritrosit. Pada larutan hipotonis, sel eritrosit akan mengalami pembengkakan karena air masuk ke dalam sel, sedangkan pada larutan hipertonis, sel eritrosit akan mengkerut karena kehilangan air. Perubahan bentuk ini dapat menyebabkan kerusakan pada membran sel dan memicu hemolisis.
  2. Kondisi Patologis Beberapa kondisi medis dapat meningkatkan risiko hemolisis, antara lain infeksi, anemia hemolitik autoimun, dan kelainan genetik seperti defisiensi enzim G6PD. Infeksi dapat memengaruhi integritas sel darah merah, sedangkan pada anemia hemolitik autoimun, sistem kekebalan tubuh menyerang sel darah merah yang sehat. Faktor keturunan, seperti kelainan struktur hemoglobin (misalnya dalam kasus sickle cell anemia), juga dapat menyebabkan peningkatan kerusakan sel darah merah.
  3. Prosedur Laboratorium Hemolisis dapat terjadi selama prosedur pengambilan darah atau pengolahan sampel darah di laboratorium. Penggunaan jarum yang terlalu kecil atau pengocokan sampel yang terlalu keras dapat menyebabkan kerusakan fisik pada sel darah merah, yang akhirnya mengarah pada hemolisis in vitro. Selain itu, penanganan sampel yang tidak tepat, seperti pemanasan atau pendinginan yang ekstrem, juga dapat memicu proses penghancuran sel darah merah.

In vivo (di dalam tubuh)

Terjemahkan ke bahasa Indonesia
Artikel ini perlu diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Artikel ini ditulis atau diterjemahkan secara buruk dari Wikipedia bahasa Inggris. Jika halaman ini ditujukan untuk komunitas bahasa Inggris, halaman itu harus dikontribusikan ke Wikipedia bahasa Inggris. Lihat daftar bahasa Wikipedia. Artikel yang sama sekali tidak diterjemahkan dapat dihapus secara cepat sesuai kriteria A2.

Jika Anda ingin memeriksa artikel ini, Anda boleh menggunakan mesin penerjemah. Namun ingat, mohon tidak menyalin hasil terjemahan tersebut ke artikel, karena umumnya merupakan terjemahan berkualitas rendah.

Streptococcus

Artikel utama: Streptococcus

Enterococcus

Artikel utama: Enterococcus

Staphylococcus

Artikel utama: Staphylococcus

In vitro (di luar tubuh)

250px-Hemolysis.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Hemolisis pada darah. Sel darah merah tanpa (di kiri dan tengah) dan dengan (di kanan) hemolisis. Apabila 0.5% pun dari sel darah merahnya terhemolisis, hemoglobin yang terlepas akan menyebabkan serum ataupun plasma berwarna merah keputihan atau merah tua.[4] Perhatikan, bahwa sampel terhemolisis di gambar terlihat bening dan tidak kabur, karena sampelnya tidak terdapat sel-sel darah.

Lihat juga

Rujukan

  1. Terjemahan dari bahasa Yunani ke Inggris, lalu ke Indonesia — An Intermediate Greek-English Lexicon Founded Upon The Seventh Edition Of Liddell And Scott's Greek-English Lexicon. Oxford University Press.
  2. Nugrahena, Nurmalita Putri; Sudarsono, Tantri Analisawati; Wijayanti, Linda (2021-09-27). "Pengaruh Hemolisis Terhadap Nilai Trombosit Dengan Menggunakan Metode Direct Counting". Jurnal Analis Medika Biosains (JAMBS) (dalam bahasa Inggris). 8 (2): 108–113. doi:10.32807/jambs.v8i2.228. ISSN 2656-2456.
  3. Bastian; Nuha, Firna Kamilatun; Trianes, Juwy; Sari, Indah (2022-05-29). "Edukasi Pemanfaatan Serum Hemolisis dengan Penambahan Anti-Rh pada Petugas Laboratorium Puskesmas Mekar Sari". J.Abdimas: Community Health. 3 (1): 14–18. doi:10.30590/jach.v3n1.448. ISSN 2746-542X.
  4. Capital Health[pranala nonaktif permanen]

Pranala luar


Ikon rintisan

Artikel bertopik kedokteran atau medis ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan