Sabtu, 03 Oktober 2026
22:41 WIB
TERKINI
Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan
Hematofobia

Hematofobia

Bagikan:
Artikel ini membutuhkan lebih banyak pranala ke artikel lain untuk meningkatkan kualitasnya. Silakan mengembangkan artikel ini dengan menambahkan pranala yang relevan ke konteks pada teks yang sudah ada. (Februari 2023) (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
40px-Wiki_letter_w.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Oktober 2022)
250px-Firefighter_having_blood_drawn.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Mengalami pusing ketika sampel darah diambil tidak selalu setara dengan mempunyai hematofobia. Hematofobia dapat muncul dengan gejala yang kurang lebih jauh lebih parah dan menjengkelkan[1].

Hematofobia adalah nama lain dari ketakutan berlebihan seseorang terhadap darah[2] mau itu terkait dengan situasi yang berhubungan langsung dengan darah ataupun tidak.[3] Karena itulah biasanya para penderita merasa sangat ketakutan tidak hanya ketika mereka melihat atau berada di sekitar darah, tetapi mereka juga akan merasa sangat ketakutan jika melihat luka keropeng dan suntikan vaksinasi. Dengan demikian, selain ketakutan akan melihat atau berada di sekitar darah sendiri ataupun darah orang lain, hematofobia juga dilandasi oleh perspektif lain yaitu ketakutan akan indikasi yang menyebabkan hal ini.[3]

Tanda dan gejala

Hematofobia adalah salah satu fobia yang unik. Karena selain terdiri dari dua fase yang dimana fase kedua akan membatalkan fase pertama, hematofobia juga sering menyebabkan penderitanya kehilangan kesadaran atau pingsan. Pada fase pertama gejala awal yang dapat timbul adalah berupa rasa jijik yang mendalam, mual, pusing, detak jantung meningkat, dan kewaspadaan meningkat secara ekstrem. Selanjutnya pada fase kedua, sering terjadi penurunan tekanan darah secara tajam secara tiba-tiba sehingga otak kekurangan oksigen yang menyebabkan penderita akan pingsan. Berbeda dengan fobia-fobia yang lain yang gejalanya merupakan perwujudan dari peningkatan ketegangan secara mendadak, yang diikuti dengan hadirnya tingkat stres dan ketakutan yang luar biasa tinggi yang kemudian akan diikuti oleh desakan untuk meninggalkan sumber ketakutannya.[3]

Penyebab

Faktor gen dan keturunan diduga merupakan salah satu faktor terkuat kenapa seseorang dapat mengidap hematofobia ini. Namun faktor lingkungan dan trauma masa kecil juga sangat berpengaruh. Karena dari perspektif perilaku, pengidap fobia terhadap darah ini akan mengasosiasikan stimulus yang mereka terima dengan rasa sakit yang pernah mereka alami. Entah itu dari kecelakaan ataupun dari pengalaman perawatan kesehatan mereka. Tetapi, sampai sekarang alasan pasti penyebab hematofobia ini tidaklah diketahui.[3]

Pengobatan

Dibutuhkan pendekatan secara langsung pada pengidap fobia dan perlakuan khusus di bawah perawatan dan pengawasan pribadi dari seorang ahli. Salah satu perlakuan yang acap kali digunakan untuk menyembuhkan hematofobia adalah dengan menerapkan terapi kognitif-perilaku, yang dilandaskan pada pendekatan perilaku dan menekankan desentisasi sehingga pengidap menjadi terbiasa dengan darah.[3]

Cara lain yang juga sering digunakan adalah exposure. Yaitu pengidap diberi paparan secara bertahap akan stimulus fobianya. Selama sesi-sesi itu mereka yang terdiagnosis secara bertahap akan menghadapkan diri mereka pada situasi yang menimbulkan rasa takut pada diri mereka. Dimulai dari yang paling mudah serta ringan hingga yang melibatkan kontak yang lebih langsung dan dekat dengan darah.[3]

Referensi

  1. ↑ "Semua fobia darah perlu diketahui tentang hematofobia / Psikologi klinis". Psikologi, filsafat dan pemikiran tentang kehidupan. Diakses tanggal 2020-01-25.
  2. ↑ https://kbbi.kemendikdasmen.go.id/entri/hematofobia
  3. 1 2 3 4 5 6 https://id.sainte-anastasie.org/articles/psicologa-clnica/fobia-a-la-sangre-todo-lo-que-hay-que-saber-sobre-la-hematofobia.html


Ikon rintisan

Artikel bertopik psikologi ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan