Selasa, 29 September 2026
06:42 WIB
TERKINI
Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Internasional Profesor Biao Xiang: Idola Gen Z China yang Berani Bahas Kecemasan Hidup Berita Pelaku Injak Al-Qur'an di Lebak Divonis Penjara, Wajib Minta Maaf Publik Berita Dilema Ganjil Genap Jakarta: Evaluasi Setelah 1 Dekade, Relaksasi Jadi Perdebatan Berita Evakuasi Buaya Peliharaan di Bandar Lampung Penuh Haru, Pemilik Sempat Pingsan Berita Polemik Buku 'Memburu Muhammad': Penulis dan Tokoh Islam Jelaskan Niat Baik Regional Flyover Ciroyom Bandung Rampung, Solusi Baru Atasi Kemacetan Kota Regional Informasi Persiapan Vihara Jelang Imlek Belum Tersedia Regional Wujudkan Rumah Impian: Pendaftaran KPR Kini dalam Genggaman dengan BTN Mobile Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Internasional Profesor Biao Xiang: Idola Gen Z China yang Berani Bahas Kecemasan Hidup Berita Pelaku Injak Al-Qur'an di Lebak Divonis Penjara, Wajib Minta Maaf Publik Berita Dilema Ganjil Genap Jakarta: Evaluasi Setelah 1 Dekade, Relaksasi Jadi Perdebatan Berita Evakuasi Buaya Peliharaan di Bandar Lampung Penuh Haru, Pemilik Sempat Pingsan Berita Polemik Buku 'Memburu Muhammad': Penulis dan Tokoh Islam Jelaskan Niat Baik Regional Flyover Ciroyom Bandung Rampung, Solusi Baru Atasi Kemacetan Kota Regional Informasi Persiapan Vihara Jelang Imlek Belum Tersedia Regional Wujudkan Rumah Impian: Pendaftaran KPR Kini dalam Genggaman dengan BTN Mobile Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto

Hasan Din

politisi Indonesia dan ayah dari Fatmawati

Hasan Din
Lahir1905 (1905)
Meninggal1974 (umur 68–69)
PekerjaanPengusaha
Pasangan menikahSiti Chadijah
dan 3 lainnya
AnakFatmawati
Hildawati

Dayang Purnimawati Hasan Din

Aty Milawati Hasan Din

Hasan Din (lahir di Padang, Sumatera Barat, tahun 1905 - wafat 1974) adalah seorang pengusaha dan tokoh Muhammadiyah di Bengkulu.[1] Dia merupakan ayah dari Fatmawati, ibu negara Republik Indonesia yang pertama.

Kehidupan

Hasan merupakan seorang pengusaha Minangkabau yang aktif melakukan dakwah di Bengkulu. Pada tahun 1939-1952, dia menjadi Ketua Dewan Pimpinan Muhammadiyah Bengkulu. Disana "Datuk", biasa orang memanggil, juga diangkat sebagai Direktur Bank Muslim Indonesia. Setelah kemerdekaan, dia mendirikan perusahaan ekspor-impor bersama Abdul Karim Oei, seorang Tionghoa asal Sumatera Barat. Perusahaan ini diberi nama PT Mega, diambil dari nama cucunya, Megawati Soekarnoputri. Pada akhir dekade 1940-an, Hasan berkenalan dengan Liem Sioe Liong. Perkenalannya bermula ketika organisasi Tionghoa Cong Siang Hwee memberikan perlindungan kepada para pejuang dari kejaran Belanda. Dia berlindung di rumah Liem yang ketika itu masih berdomisili di Kudus.[2] Sejak berkenalan dengan Liem, bisnisnya semakin berkembang. Hasan juga memberikan keuntungan kepada Liem, sebagai partner bisnis pribuminya yang pertama. Pada masa Orde Baru, perusahaannya PT Mega menjadi salah satu dari dua importir cengkih yang diberikan izin oleh pemerintah. Hasan juga tercatat sebagai direktur Bank Central Asia, bank yang didirikan Liem pada tahun 1957.[1]

Referensi

  1. 1 2 Richard Borsuk, Nancy Chng; Liem Sioe Liong's Salim Group: The Business Pillar of Suharto's Indonesia; 2014
  2. ↑ https://m.tempo.co/read/news/2012/06/12/093409952/kakek-megawati-buka-jalan-bisnis-om-liem Diarsipkan 2016-08-16 di Wayback Machine. Kakek Megawati Buka Jalan Bisnis Om Liem


20px-Soekarno.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Artikel bertopik biografi Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan