Harun Sohar atau yang dikenal dengan nama Letjend Harun Sohar, merupakan salah satu pejuang asal Sumatera Selatan yang berperan dalam perjuangan di wilayah lahat.[1] pada masa pendudukan jepang, beliau mengikuti pendidikan gyugun di pagar alam dan menyelesaikannya pada tahun 1944 dengan pangkat letnan dua. setelah Indonesia merderka, ia terlibat dalam pembentukan dan kepemimpinan BPKR, BKR, dan TKR di lahat.[2]
Pada tahun 1946, Harun Sohar menjabat sebagai komandan resimen II divisi I lahat dan kemudian menjadi komandan resimen XIII Lahat. ia memimpin pasukan lahat dalam peristiwa lima hari lima malam di palembang pada januari 1947 dan menjadi komandan pertama brigade garuda dempo. pada masa agresi militer belanda II, ia turut memimpin perjuangan di wilayah pagar alam, lematang, kikim, dan semendo. setelah masa revolusi, Harun Sohar melanjutkan karier militernya hingga menjabat sebagai panglima kodam IV/ sriwijaya pada tahun 1958 sampai 1962.[3]
Perjuangan Harun Sohar pada Agresi Militer Belanda I di Lahat
- Harun Sohar berperan dalam pembentukan brigade garuda dempo untuk mempertahankan wilayah lahat sebelum agresi militer belanda I.
- menjadi pemimpin awal brigade garuda dempo dan mengorganisasi kembali pasukan TNI di wilayah lahat dan sekitarnya.
- pertahanan lematang-kikim, Harun Sohar memimpin wilayah pertahanan lematang-kikim dalam menghadapi pergerakan pasukan belanda.
- pertahanan lahat dan pagar alam, Harun Sohar mengatur pertahanan pasukan TNI di wilayah lahat, pagar alam, dan sekitarnya.
- pertempuran jembatan kebur, pasukan TNI melakukan perlawanan terhadap pasukan belanda di sekitarnya.
- Pertempuran Jembatan Kebur, pasukan TNI melakukan perlawanan terhadap pasukan Belanda di sekitar Jembatan Kebur untuk menghambat pergerakan mereka.
- Pertempuran Pagar Gunung, pasukan TNI turut melakukan perlawanan terhadap Belanda di wilayah Pagar Gunung.
- Perang gerilya, setelah Belanda menguasai beberapa wilayah, pasukan TNI melanjutkan perlawanan melalui strategi gerilya di sekitar Lahat dan Pagar Alam.
Karier setelah kemederkaan
- panglima kodam IV/sriwijaya, Harun Sohar menjabat sebagai panglima kodam IV/sriwijaya dan terlibat dalam berbagai kegiatan pembangunan di Sumatera Selatan.
- pembangunan Jembatan Ampera, Harun Sohar bersama gubernur Sumatera Selatan indra caya menginisiasi pembangunan Jembatan Ampera dan mengusulkan pembangunan tersebut kepada presiden soekarno.[4]
- Universitas Sriwijaya, Harun Sohar bersama gubernur achmad bastari turut berperan dalam prose smenjadikan Universitas Sriwijaya sebagai universitas negeri.
- atas militer di moskow, setelah menyelesikan tugas sebagai pangdam sriwijaya, Harun Sohar mendapat penugasan sebagai atase militer indonesia di moskow.
- ketua badan pusat penggunaan dana PBB, ketika berpangkat mayor jenderal Harun Sohar dipercaya menjabat sebagai ketua badan pusat penggunaan dana PBB.
- pembantu ketua sektor khusus irian barat, Harun Sohar kemudian mendapat penugasan sebagai pembantu ketua sektor khusus irian barat.
- anggota MPR-RI, pada tahun 1987 hingga 1992 Harun Sohar menjadi anggota majelis permusyawaratan rakyat republik Indonesia.
Referensi
- ↑ "Letjen Harun Sohar, Jenderal dari Mulak Ulu, Lahat". beritapagi.co.id. 2023-11-30. Diakses tanggal 2026-08-23.
- ↑ Slyika (2023-12-01). "Jenderal Mulak Ulu". Beritaind. Diakses tanggal 2026-08-23.
- ↑ "Client Challenge". id.scribd.com. Diakses tanggal 2026-08-23.
- ↑ sumateraekspres.id (2024-08-11). "Jenderal Harun Sohar, Dari Desa Kecil Menuju Panggung Nasional". sumateraekspres.id. Diakses tanggal 2026-08-23.