Rabu, 14 Oktober 2026
18:36 WIB
TERKINI
Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: Satpol PP Cek STNK Kendaraan Besar di SPBU Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Merosot Rp20 Ribu, Cek Rincian Lengkap per Gram Hari Ini Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 14 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan di Tanggamus Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: Satpol PP Cek STNK Kendaraan Besar di SPBU Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Merosot Rp20 Ribu, Cek Rincian Lengkap per Gram Hari Ini Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 14 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan di Tanggamus

Hanna Fransisca

Bagikan:

Hanna Fransisca (lahir 30 Mei 1979) adalah sastrawan berkebangsaan Indonesia. Namanya dikenal malalui karya-karanya berupa puisi, cerpen, dan esai yang dimuat di berbagai media massa. Selain itu dia juga menerbitkan dan naskah drama. Beberapa penghargaan telah diterima atas karya-karyanya. Hanna merupakan salah satu sastrawan yang belajar secara autodidak.[1][2][3]

Latar belakang

Hanna Fransisca lahir di Singkawang, Kalimantan Barat, 30 Mei 1979. Menempuh pendidikan hingga lulus SMP. Menjelang dewasa, ia sempat bekerja bersama orang-orang Dayak, berdagang karet mentah dan menjadi pelayan toko, kemudian merantau ke Jakarta. Ia mulai belajar menulis secara otodiak, lewat dunia maya dan bacaan. Tulisan-tulisannya dimuat di berbagai media massa antara lain Harian Kompas, Suara Merdeka, Koran Tempo, Malang Pos, Pikiran Rakyat, majalah sastra Pusat, Horison, dan Jurnal Sajak. Dalam sejumlah karya tulisnya, ia kerap mewarnai ceritanya dengan hal-hal yang paling dekat dengan dirinya. Budaya dan pernak-pernik kehidupan sosial warga Tionghoa, rutinitas kehidupan pasar yang sering ia amati, penggusuran lahan atas nama pembangunan yang kerap memicu percik kerusuhan, konflik etnik para pedagang kaki lima, hingga empatinya terhadap nasib orang gila. Cerita pendek pertamanya, Darahku Tumpah di Kelenteng, terpilih sebagai salah satu cerpen pilihan Jakarta International Literary Festival 2008.[4][5]

Pada tahun 2010, ia menerbitkan buku kumpulan puisinya Konde Penyair Han di Goethe Haus, Jakarta, bercerita tentang masa lalunya yang getir. Buku ini mendapat penghargaan sebagai kumpulan puisi terbaik versi majalah Tempo (2010) dan mengantarkannya masuk sebagai 5 besar nominator penerima penghargaan Khatulistiwa Literary Award 2010, untuk kategori puisi. Selain itu ia juga terpilih sebagai tokoh sastra versi majalah Tempo 2011.

Setelah sukses pada karya pertamanya, pada bulan juni 2010, ia kembali menerbitkan kumpulan cerpen karyanya dalam antologi Kolecer & Hari Raya Hantu. Pada tahun 2012, ia kembali meluncurkan 3 buah buku sekaligus yakni Benih Kayu Dewa Dapur, kumpulan cerpen Sulaiman Pergi ke Tanjung Cina dan sebuah buku naskah drama bertajuk Kawan Tidur. Selain berkecimpung sebagai penulis, perempuan yang hingga kini tetap menetap di Jakarta ini juga aktif di organisasi sosial Lions Club Jakarta Kalimantan Barat Prima.

Karya

  • Konde Penyair Han (Kumpulan Puisi, 2010)
  • Antologi Kolecer dan Hari Raya Hantu (Kumpulan Cerpen, 2010)
  • Benih Kayu Dewa Dapur (2012)
  • Sulaiman Pergi ke Tanjung Cina (Kumpulan Cerpen, 2012)
  • Kawan Tidur (Naskah Drama, 2012

Pencapaian

  • Darahku Tumpah di Kelenteng terpilih sebagai salah satu cerpen pilihan Jakarta International Literary Festival 2008
  • Kumpulan puisi Konde Penyair Han mendapat penghargaan sebagai kumpulan puisi terbaik versi Majalah Tempo 2010
  • Tokoh sastra versi majalah Tempo 2011

Referensi

  1. ↑ Situs resmi Taman Ismail Marzuki Diarsipkan 2015-04-02 di Wayback Machine, diakses 10 Maret 2015
  2. ↑ https://lontar.org/product/a-man-bathing-other-poems/. Diakses tanggal 2026-06-01.{{cite web}}: |title= tidak ada atau kosong
  3. ↑ https://perpustakaan.jakarta.go.id/book/detail. Diakses tanggal 2026-06-01.{{cite web}}: |title= tidak ada atau kosong
  4. ↑ Kalbariana: Hanna Fransisca, harum puisi penyair Hans Diarsipkan 2015-04-02 di Wayback Machine, diakses 10 Maret 2015
  5. ↑ Hanna Fransisca, Khawatirkan Minat Baca Warga Singkawang Diarsipkan 2015-03-30 di Wayback Machine, diakses 10 Maret 2015


Ikon rintisan

Artikel bertopik biografi tokoh ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan