Minggu, 27 September 2026
17:31 WIB
TERKINI
Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Bandar Lampung Mantan Gubernur Lampung Disidang Korupsi PI 10 Persen, Begini Respons Uniknya Account Satu Akun, Berbagai Akses: Kemudahan Login Terpadu KG Media ID Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Bandar Lampung Mantan Gubernur Lampung Disidang Korupsi PI 10 Persen, Begini Respons Uniknya Account Satu Akun, Berbagai Akses: Kemudahan Login Terpadu KG Media ID Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda
Haankhef

Haankhef

250px-Haankhef%26KemaScarabsPetrie.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Segel scarabnya "Penyegel kerajaan, ayahanda dewa Haankhef" dan "anggota elite, putri raja Kema".[1]

Haankhef merupakan ayahanda dari raja-raja Mesir Kuno, Neferhotep I, Sihathor, dan Sobekhotep IV, yang berturut-turut memerintah Mesir pada paruh kedua abad ke-18 SM, sebagai raja-raja Dinasti ke-13.

Pengesahan

Haankhef dikenal dari sejumlah monumen yang semuanya terhubung dengan putra-putra kerajaannya. Di monumennya Haankhef menyandang gelar "Penyegel Kerajaan" dan "Ayahanda Dewa". Kedua gelar diberikan kepadanya setelah putra-putranya menjadi raja dan oleh karena itu tidak diketahui posisi apa yang dipegangnya sebelum kejadian ini. "Ayahanda Dewa" adalah gelar yang sering diberikan kepada orang tua non-kerajaan seorang raja dan ayahanda Haankhef, Nehy, memang dikenal sebagai "petugas resimen kota" di Thebes. Demikian pula ibunda Haankhef, Senebtysy hanya memegang gelar umum "Nyonya Rumah". Ini menunjukkan bahwa Haankhef termasuk keluarga pejabat militer tingkat menengah.[2] Peran apa yang dimainkan latar belakang ini dalam aksesi Neferhotep I ke takhta tidak diketahui. Haankhef adalah satu dari hanya dua ayahanda dari seorang firaun yang disebutkan di kanon Turin, sebuah daftar raja yang disunting pada awal era Ramses. Alasan untuk hak istimewa yang langka ini tidak pasti, mungkin terkait dengan dua putra kerajaannya yang kemudian dianggap sebagai raja terbesar Dinasti ke-13 dalam periode yang tidak berguncang di Mesir.

Keluarga

Istri Haankhef dikenal telah dinamai Kemi berkat beberapa sumber, khususnya batu prasasti buatan Neferhotep I di Pulau Sehel, Konosso dan Philae. Dalam prasasti ini, Kemi sering dinamakan bersama dengan Haankhef meski ada juga sejumlah segel scaraboid yang menamainya dan putranya tanpa menyebutkan Haankhef. Sebuah prasasti Neferhotep I dari Abydos menunjukkan bahwa ia telah tiada pada tahun kedua putra sulungnya. Cucu Haankhef oleh Neferhotep I juga bernama Haankhef, mungkin untuk menghormatinya.

Sumber

  1. ↑ Flinders Petrie, Scarabs and cylinders with names (1917), available copyright-free here, pl. XVIII
  2. ↑ K.S.B. Ryholt, The Political Situation in Egypt during the Second Intermediate Period, c.1800–1550 BC, Carsten Niebuhr Institute Publications, vol. 20. Copenhagen: Museum Tusculanum Press, 1997, p. 225
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan