Kamis, 24 September 2026
21:34 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia Otomotif EXOBOT: Bukti Ambisi Arab Saudi di Pasar Mobil Listrik Dunia Olahraga Modernisasi Pendataan Atlet: KONI Lampung Buka Pendaftaran Daring Porprov X 2026 Olahraga Porprov X Lampung 2026: Pendaftaran Peserta Resmi Dibuka Secara Daring Eropa & Amerika Delegasi AS Walk Out Saat Presiden Iran Kecam Serangan di Sidang PBB Eropa & Amerika Presiden Iran Kecam AS di PBB: Kami Korban Terorisme, Bukan Pelaku Internasional Ekspresi Tak Terduga Donald Trump Kala Pesawat Pengebom B-1 Meraung di Udara Hukum Mobil Halangi Ambulans Pasien Kritis di Surakarta: Sorotan Pentingnya Prioritas Jalan dan Sanksi Hukum Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia Otomotif EXOBOT: Bukti Ambisi Arab Saudi di Pasar Mobil Listrik Dunia Olahraga Modernisasi Pendataan Atlet: KONI Lampung Buka Pendaftaran Daring Porprov X 2026 Olahraga Porprov X Lampung 2026: Pendaftaran Peserta Resmi Dibuka Secara Daring Eropa & Amerika Delegasi AS Walk Out Saat Presiden Iran Kecam Serangan di Sidang PBB Eropa & Amerika Presiden Iran Kecam AS di PBB: Kami Korban Terorisme, Bukan Pelaku Internasional Ekspresi Tak Terduga Donald Trump Kala Pesawat Pengebom B-1 Meraung di Udara Hukum Mobil Halangi Ambulans Pasien Kritis di Surakarta: Sorotan Pentingnya Prioritas Jalan dan Sanksi Hukum
Hollandsch Inlandsche Kweekschool

Hollandsch Inlandsche Kweekschool

Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia. Silakan kembangkan artikel ini semampu Anda. Merapikan artikel dapat dilakukan dengan wikifikasi atau membagi artikel ke paragraf-paragraf. Jika sudah dirapikan, silakan hapus templat ini. (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
lossy-page1-250px-KITLV_A910_-_De_Hollandsch-Inlandsche_Kweekschool_te_Blitar%2C_KITLV_55949.tiff.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Hollandsch-Inlandsche Kweekschool di Blitar, Jawa, ca 1920

Mengenal Hollandsch Inlandsche Kweekschool (HIK)

Hollandsch Inlandsche Kweekschool disingkat HIK adalah sekolah yang didirikan untuk pendidikan guru pada masa kolonial Belanda di Hindia. HIK didirikan pada akhir abad ke-19 oleh pemerintah kolonial Belanda.

Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas tenaga pendidik di kalangan pribumi yang mengajar di sekolah dasar berbahasa Belanda. HIK berlokasi di kota besar seperti Yogyakarta dan Surakarta, tetapi HIK juga mengalokasikan sekolahnya di berbagai lokasi yang strategis untuk mencapai keterjangkauan bagi pendidikan anak anak pribumi.

Sejarah Kweekschool di Hindia Belanda

VOC dan para misionaris Kristen mendirikan sekolah pendidikan guru (kweekschool) Nusantara pada tahun 1834. Pendidikan guru ini pertama kali diselenggarakan di Ambon pada 1834. Sekolah ini beroperasi selama 30 tahun (1864). Sehingga dapat memenuhi kebutuhan kebutuhan guru pribumi bagi sekolah-sekolah yang ada pada waktu itu.

Sementara itu, Zending di Minahasa pada 1852 mendirikan sekolah yang serupa. Lalu pada tahun 1855 dibuka satu lagi di Tanahwangko (Minahasa). Bahasa pengantar yang digunakan sekolah di Ambon dan Minahasa adalah bahasa Melayu.

Sebagai kelanjutan dari Keputusan Raja, tanggal 30 September 1848, tentang pembukaan sekolah dasar negeri (SDN) maka untuk memenuhi kebutuhan guru pada sekolah-sekolah dasar tersebut dibuka sekolah pendidikan guru negeri pertama di Nusantara pada 1852 di Surakarta didasarkan atas keputusan pemerintah tanggal 30 Agustus 1851.

Sementara itu, untuk menghasilkan guru Sekolah Desa, pemerintah menyelenggarakan kursus-kursus guru yang diberi nama Normaal Cursus

Sekolah guru di Surakarta ini murid-muridnya diambil dari kalangan priyayi Jawa. Bahasa pengantarnya adalah bahasa Jawa dan Melayu. Sekolah ini pada 1875 dipindahkan dari Surakarta ke Magelang. Setelah pendirian sekolah guru di Surakarta berturut-turut didirikan sekolah sejenis, yaitu:

  1. Sekolah di Bukit Tinggi (Fort de Kock) pada 1856,
  2. Tanah Baru, Tapanuli pada 1864, yang kemudian ditutup pada 1874,
  3. Tondano pada 1873, ditutup pada tahun 1875
  4. Ambon pada 1874,
  5. Probolinggo pada 1875,
  6. Banjarmasin pada 1875, ditutup pada tahun 1893
  7. Makassar pada 1876, ditutup pada tahun 1895
  8. Padang Sidempuan pada 1879, ditutup pada tahun 1891

Jenis sekolah ini mengalami pasang surut karena adanya perubahan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan sehingga beberapa sekolah ditutup dengan alasan penghematan keuangan negara.Selain itu, karena faktor bahasa.

Di Kweekschool, bahasa Belanda mulai diajarkan pada 1865, dan pada 1871 bahasa tersebut merupakan bahasa wajib, tetapi pada 1885 dan pada 1871 bahasa tersebut tidak lagi merupakan bahasa wajib. Pada dasawarsa kedua abad ke-20, bahasa Belanda bukan lagi hanya bahasa wajib melainkan menjadi bahasa pengantar.

Pemerintah Hindia Belanda tidak banyak campur tangan terhadap pendidikan guru bagi golongan Eropa, dan diserahkannya kepada swasta. Pada akhir abad ke-19 pemerintah hanya menyelenggarakan kursus-kursus malam di Batavia (1871) dan Surabaya (1891). Oleh pihak Katolik, didirikan kursus-kursus di Batavia (Jakarta sekarang), Semarang, dan Surabaya (1890).

Peraturan Pendidikan 1848, 1892, dan Politik Etis 1901

Peraturan pendidikan dasar untuk masyarakat pada waktu Hindia Belanda pertama kali dikeluarkan pada tahun 1848, dan disempurnakan pada tahun 1892. Peraturan tersebut menetapkan bahwa pendidikan dasar harus ada pada setiap Karesidenan, Kabupaten, Kawedanaan, pusat-pusat kerajinan, perdagangan, atau tempat yang dianggap perlu . Peraturan yang terakhir (1898) diterapkan pada tahun 1901 setelah adanya Politik Etis atau Politik Balas Budi dari Kerajaan Belanda, yang diucapkan pada pidato penobatan Ratu Belanda Wilhelmina pada 17 September 1901, yang intinya ada 3 hal penting: irigrasi, transmigrasi [pranala nonaktif permanen], pendidikan.

Pada zaman Hindia Belanda anak masuk HIS pada usia 6 th dan tidak ada Kelompok Bermain (Speel Groep) atau Taman Kanak-Kanak (Voorbels), sehingga langsung masuk dan selama 7 tahun belajar. Setelah itu dapat melanjutkan ke MULO, HBS, atau Kweekschool.

Bagi masyarakat keturunan Tionghoa biasanya memilih jalur HCS (Hollandsch Chineesche School) karena selain bahasa pengantar Belanda, juga diberikan bahasa Tionghoa.

Di luar jalur resmi Pemerintah Hindia Belanda, maka masih ada pihak swasta seperti Taman Siswa, Perguruan Rakyat, Kristen dan Katolik. Pada jalur pendidikan Islam ada pendidikan yang diselenggrakan oleh Muhamadiyah: Pondok Pesantren tersebar di seluruh Indonesia, Muallimin di Yogyakarta, dlsb

Jenis jenjang pendidikan guru

Kweekschool adalah salah satu sistem pendidikan pada zaman Hindia Belanda, terdiri atas HIK (Holandsche Indische Kweekschool), atau sekolah guru bantu yang ada di semua Kabupaten dan HKS (Hoogere Kweek School), atau sekolah guru atas yang ada di Jakarta, Medan, Bandung, dan Semarang.

Salah satu lulusan HKS Bandung adalah Ibu Sud.[1] Europeesche Kweek School (EKS, sebangsa sekolah guru atas dengan bahasa pengantar Belanda, yang berbeda dengan HIK) yang hanya diperuntukan bagi orang Belanda atau pribumi ataupun orang Arab/Tionghoa yang mahir sekali berbahasa Belanda, dan hanya ada di Surabaya.

Pada waktu itu pembagian siswa diatur sedemikian rupa, misalnya satu kelas ada 28 orang, maka terdiri 20 orang Belanda, 6 orang Arab/Tionghoa, dan 2 orang pribumi.

Selain itu juga dikenal Hollandsche Chineesche Kweekschool (HCK) khusus untuk yang keturunan Tionghoa, salah satu lulusan HCK adalah P.K. Oyong.[2]

Di Muntilan ada Katholieke Kweek School [3] atau sebangsa seminari khusus untuk guru beragama Katholiek yang didirikan pada tahun 1911 dengan nama Kolese Xaverius Muntilan, lulusannya (yang pandai main musik) adalah antara lain Cornel Simanjuntak (meninggal pada waktu revolusi sekitar 1946 akibat penyakit kronis TBC), R.A.J. Sudjasmin (di mana pada tahun 1946-1948 Gedung Kolese ini dipakai sebagai pendidikan Kepolisian RI sehingga dia berminat masuk jajaran Kepolisian RI), Binsar Sitompul, Liberty Manik, Suwandi, dlsb.

Setelah K.H.A. Dahlan mengujungi Muntilan, maka dia juga terinspirasi mendirikan bagi orang Islam, yaitu Muallimin di Yogyakarta pada tahun 1918.[4]

Lihat pula

Referensi

  1. "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2020-11-28. Diakses tanggal 2008-06-06.
  2. "Salinan arsip". Diakses tanggal 2008-06-06.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: layanan pengarsipan yang sudah usang (link)
  3. "Salinan arsip". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2002-11-07. Diakses tanggal 2002-11-07.
  4. "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2008-06-07. Diakses tanggal 2008-06-06.


Ikon rintisan

Artikel bertopik sejarah ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan