Sabtu, 03 Oktober 2026
18:33 WIB
TERKINI
Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan

Gusti Mayur

Bagikan:

Gusti Mayur adalah Pemimpin umum Mimbar Indonesia, majalah mingguan terkemuka pada masa penjajahan Belanda yang berkantor di Jakarta. Ia berasal dari Banjarmasin, Kalimantan selatan.[1]

Ketika berusia 13 tahun ia pergi ke Surabaya dan ia magang sebagai tukang set pada percetakan Indonesische Studie Club pimpinan dr. Sutomo. Pada setiap petang harinya ia mengambil kursus hingga akhirnya memperoleh ijazah MULO, bahkan diterima menjadi siswa NIAS (sekolah dokter) di kota itu. Ia pun berhasil dalam pekerjaannya, sampai akhimya menduduki jabatan pemimpin perusahaan percetakan tersebut. Ia kemudian duduk dalam keredaksian Soeloeh Indonesia bersama sejumlah tokoh Partai Persatuan Bangsa Indonesia, yang kemudian berfusi dengan Budi Utomo menjadi Partai Indonesia Raya.

Pada tahun 1939 ia menerbitkan majalah Terang Boelan (di Surabaya), majalah hiburan bergambar yang kemudian dilarang terbit oleh Jepang. Ia diajak kembali ke Kalimantan ketika Jepang datang, tetapi ia menolak ajakan tersebut. Ketika Jepang mengeluarkan larangan bagi setiap kegiatan partai politik, Mayur bersama sejumlah pernimpin Parindra tetap bertekad terus berjuang mencapai Indonesia mulia. Dalam pemahaman Parindra, kata "mulia" mencakup pengertian "merdeka". Dalam masa revolusi, ia menjadi pengurus Badan Penerangan Ikatan Pejuang Kalimantan. Sementara itu ia menyempatkan diri belajar di Fakultas Hukum UGM. Setelah Belanda melakukan agresinya yang kedua ia pindah ke Jakarta dan kemudian ia menghimpun kekuatan serta menerbitkan majalah mingguan Mimbar Indonesia bersama H.B. Jassin, Djamaluddin adinegoro dan Supomo.

Referensi

  1. ↑ "Gusti Mayur | Portal Resmi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta". web.archive.org. 2019-09-01. Diarsipkan dari versi asli pada 2019-09-01. Diakses tanggal 2019-09-01.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan