Rabu, 28 Oktober 2026
01:46 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung
Gottscheer

Gottscheer

Bagikan:
330px-Ko%C4%8Devci-Valvasor.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Ilustrasi petani Jerman Gottschee pada abad ke-17.

Gottscheer adalah pemukim-pemukim Jerman di wilayah Kočevje (Gottschee) di Slovenia. Bahasa utama mereka adalah Gottscheerisch, sebuah dialek bahasa Bayern.[1]

Sejarah

Orang Jerman Gottschee berasal dari Grafschaft Tirol dan Kadipaten Kärnten dan pertama kali menetap di wilayah Karniola sekitar tahun 1330. Mereka mempertahankan identitas Jerman mereka setelah terisolasi selama 600 tahun. Mereka membuka lahan di wilayah Gottschee dan mendirikan desa-desa dan kota-kota. Pada tahun 1809, mereka melancarkan pemberontakan Gottscheer 1809 yang mencoba melawan pendudukan Prancis. Setelah berakhirnya kekuasaan Monarki Habsburg pada tahun 1918, Gottschee menjadi wilayah Kerajaan Yugoslavia. Status Gottscheer berubah dari anggota etnis yang menguasai Austria-Hungaria menjadi minoritas etnis di sebuah negara Slavia. Keadaan mereka semakin memburuk setelah meletusnya Perang Dunia II dan dilancarkannya invasi Yugoslavia oleh Blok Poros.[1] Walaupun beberapa anggota komunitas Gottscheer mendukung Nazisme dan ingin "kembali" ke wilayah Reich sebelum invasi Jerman pada tahun 1941, sebagian besar orang Gottscheer tidak ingin bersatu dengan Jerman Raya atau bergabung dengan Partai Nazi. Mereka telah terintegrasi dengan tetangga-tetangga Slovenia mereka dan bahkan telah melakukan kawin campur dan dapat menuturkan dua bahasa sembari mempertahankan adat istiadat dan bahasa Jerman mereka. Meskipun begitu, Jerman Nazi mulai merencanakan "pemindahan" orang-orang Jerman Gottschee dari zona pendudukan Italia ke wilayah Segitiga Rann (bahasa Jerman:Ranner Dreieck), sebuah wilayah di Steiermark Hilir yang terletak di muara Sungai Krka, Sotla, dan Sava. Untuk melakukan hal tersebut, sekitar 46.000 orang Slovenia di Segitiga Rann dideportasi ke Jerman timur untuk dijermanisasi atau dijadikan pekerja paksa. Gottscheer lalu diberi paspor Jerman dan dipindah ke wilayah tersebut. Sebagian besar dipaksa meninggalkan rumah mereka karena Jerman Nazi menetapkan tanggal 31 Desember 1941 sebagai batas waktu perpindahan. Walaupun orang-orang Gottscheer mendapat rumah dan lahan, mereka merasa tidak puas karena nilai dan kualitasnya lebih rendah daripada tempat mereka sebelumnya.

Semenjak mereka tiba di wilayah Segitiga Rann hingga berakhirnya perang, petani-petani Gottschee diintimidasi dan bahkan dibunuh oleh partisan-partisan Yugoslavia yang menganggap mereka sebagai alat rezim pendudukan. Upaya pemindahan Gottscheer mengalami kegagalan dan Jerman Nazi harus mengirim pasukan tambahan untuk melindungi para petani dari kelompok partisan. Setelah perang berakhir, mereka kembali ke Yugoslavia, tetapi mendapati bahwa rumah mereka telah hancur. Saat ini sebagia nbesar orang Gottschee dan keturunannya telah bermigrasi ke Amerika Serikat, Kanada atau Austria.

Referensi

  1. 1 2 Graupera, Jordi (2015). "Al final hi ha el bosc. Obituari d'un poble" [At the end there is the forest. Obituary from a people]. El món d'ahir (dalam bahasa Catalan). 1. Barcelona: 6–17. ISSN 2462-7062.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)


Ikon rintisan

Artikel bertopik kelompok etnik ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan