Rabu, 28 Oktober 2026
21:03 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Geografi Mesopotamia

Geografi Mesopotamia

Bagikan:
250px-N-Mesopotamia_and_Syria_english.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Peta yang menunjukkan luas Mesopotamia

Geografi Mesopotamia, yang mencakup etnologi dan sejarah-nya, berpusat pada dua sungai besar, Sungai Tigris dan Sungai Efrat. Meskipun bagian selatan datar dan berawa, pertemuan kedua sungai tersebut, di tempat dataran tinggi yang bergelombang di utara tiba-tiba menurun ke dalam aluvium Babilon, cenderung memisahkan keduanya lebih jauh lagi. Pada masa-masa awal yang tercatat, bagian utara termasuk dalam Mesopotamia; wilayah ini ditandai sebagai Asyur setelah munculnya monarki Asyur. Selain Assur, ibu kota asli Asyur, kota-kota utama negara itu, Niniwe, Kalaḫ, dan Arbela, semuanya berada di tepi timur Sungai Tigris. Alasannya adalah persediaan airnya yang melimpah, sedangkan dataran luas di sisi barat harus bergantung pada aliran sungai yang bermuara ke Sungai Efrat.

Definisi Mesopotamia

Mesopotamia berarti "(Tanah) di antara dua sungai" dalam bahasa Yunani kuno, merujuk pada tanah di antara sungai Tigris dan Efrat, tetapi wilayah ini dapat didefinisikan secara luas untuk mencakup wilayah yang sekarang merupakan sebagian besar Irak, Suriah timur, Turki tenggara.[1] Kemunculan nama Mesopotamia yang paling tua diketahui terjadi pada abad ke-4 SM, ketika nama tersebut digunakan untuk merujuk pada wilayah di sebelah timur Sungai Efrat di utara Suriah.[2] Pada masa modern, istilah ini lebih umum diterapkan pada semua wilayah antara Sungai Efrat dan Sungai Tigris,[butuh rujukan] dengan demikian mencakup tidak hanya sebagian wilayah Suriah tetapi juga hampir seluruh wilayah Irak dan tenggara Turki, serta sebagian wilayah barat daya Iran.[3] Stepa yang berdekatan di sebelah barat Sungai Efrat dan bagian barat Pegunungan Zagros juga sering dimasukkan ke dalam istilah Mesopotamia yang lebih luas.[4][5][6] Perbedaan lebih lanjut biasanya dibuat antara Mesopotamia Hulu atau Utara dan Mesopotamia Hilir atau Selatan.[7] Mesopotamia Hulu, juga dikenal sebagai Jazirah, adalah wilayah antara Sungai Efrat dan Tigris dari sumbernya hingga Bagdad.[4] Mesopotamia Hilir adalah wilayah dari Baghdad hingga Teluk Persia.[7] Dalam penggunaan ilmiah modern, istilah Mesopotamia seringkali juga memiliki konotasi kronologis. Dalam historiografi Barat modern tentang wilayah tersebut, istilah "Mesopotamia" biasanya digunakan untuk merujuk wilayah tersebut sejak awal zaman, hingga penaklukan Muslim pada tahun 630-an, dengan nama Arab Irak dan Jazirah untuk menggambarkan wilayah tersebut setelah peristiwa tersebut.[3][8]

Referensi

Daftar pustaka

  • Bahrani, Z. (1998), "Conjuring Mesopotamia: Imaginative Geography and a World Past", dalam Meskell, L. (ed.), Archaeology under Fire: Nationalism, Politics and Heritage in the Eastern Mediterranean and Middle East, London: Routledge, hlm. 159–174, ISBN 978-0-415-19655-0
  • Canard, M. (2011), "al-ḎJazīra, Ḏjazīrat Aḳūr or Iḳlīm Aḳūr", dalam Bearman, P.; Bianquis, Th.; Bosworth, C.E.; van Donzel, E.; Heinrichs, W.P. (ed.), Encyclopaedia of Islam, Second Edition, Leiden: Brill Online, OCLC 624382576
  • Finkelstein, J.J. (1962), "Mesopotamia", Journal of Near Eastern Studies, 21 (2): 73–92, doi:10.1086/371676, JSTOR 543884, S2CID 222432558
  • Foster, Benjamin R.; Polinger Foster, Karen (2009), Civilizations of Ancient Iraq, Princeton: Princeton University Press, ISBN 978-0-691-13722-3
  • Matthews, Roger (2003), The Archaeology of Mesopotamia. Theories and Approaches, Approaching the past, Milton Square: Routledge, ISBN 0-415-25317-9
  • Miquel, A.; Brice, W.C.; Sourdel, D.; Aubin, J.; Holt, P.M.; Kelidar, A.; Blanc, H.; MacKenzie, D.N.; Pellat, Ch. (2011), "ʿIrāḳ", dalam Bearman, P.; Bianquis, Th.; Bosworth, C.E.; van Donzel, E.; Heinrichs, W.P. (ed.), Encyclopaedia of Islam, Second Edition, Leiden: Brill Online, OCLC 624382576
  • Wilkinson, Tony J. (2000), "Regional Approaches to Mesopotamian Archaeology: the Contribution of Archaeological Surveys", Journal of Archaeological Research, 8 (3): 219–267, doi:10.1023/A:1009487620969, ISSN 1573-7756, S2CID 140771958

Bacaan lebih lanjut

  • Douglas Frayne, The Early Dynastic List of Geographical Names (1992).
  • Piotr Steinkeller, On the Reading and Location of the Toponyms ÚR×Ú.KI and A.ḪA.KI, Journal of Cuneiform Studies, Vol. 32, No. 1 (Jan., 1980), pp. 23–33.
  • William W. Hallo, The Road to Emar Journal of Cuneiform Studies, Vol. 18, No. 3 (1964), pp. 57–88
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan