Selasa, 27 Oktober 2026
23:14 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung
Gateball

Gateball

Bagikan:
250px-Playing_Gate_Ball.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Suasana permainan gateball.

Gateball (Jepang: ゲートボール, Hepburn: gētobōru) adalah olahraga modifikasi permainan croquet, yang menggunakan palu untuk memukul bola. Olahraga ini tidak mengenal batas tertentu sehingga tergolong sebagai barrier-free sport (olahraga tanpa batas).[1]

Olahraga ini pertama kali dikenalkan di Jepang, kemudian menyebar ke seluruh dunia. Seiring dengan perkembangan waktu, permainan gateball menyebar ke berbagai negara lain, termasuk Bolivia, Paraguay, dan Peru pada tahun 1987, Argentina dan Kanada pada tahun 1989, selanjutnya Singapura bergabung pada tahun 1994, yang disusul oleh Hong Kong pada tahun 1998, Australia tahun 2003, dan Makau pada tahun 2005.

Di Indonesia, olahraga ini sudah banyak peminatnya mulai dari kota-kota besar hingga ke daerah seperti Jakarta, Yogyakarta, Jawa Barat hingga Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.[2]

Sejarah

Olahraga ini pertama kali dicetuskan oleh Suzuki Kazunobu di Jepang pada tahun 1947, sebagai hasil modifikasi terhadap permainan croquet yang berasal dari benua Eropa. Sebagian informasi menyebutkan olahraga ini berasal dari Prancis, tetapi sebagian lainnya menyebutkan berasal dari Inggris. Pada masa itu industri karet Jepang mengalami penurunan produksi yang sangat parah, sehingga masyarakat mengalami kesulitan untuk mendapatkan bahan dasar utama untuk kebutuhan berbagai peralatan permainan olahraga terutama untuk membuat bola.

Suzuki memodifikasi aturan permainan croquet dan menciptakan permainan baru yang dinamakan gateball (bahasa Jepang: geeto booru) sebagai permainan bagi para kaum muda. Gateball menjadi populer pada akhir tahun 1950-an ketika seorang instruktur pendidikan jasmani memperkenalkan olahraga ini untuk masyarakat perempuan dan warga senior dari Kumamoto, Jepang.

Pada tahun 1962, Asosiasi Gateball Kumamoto dibentuk dan didirikan dengan merumuskan seperangkat peraturan yang bersifat lokal. Pola permainan ini kemudian dikenal secara nasional setelah didemonstrasikan pada pertemuan kebugaran nasional di Kumamoto tahun 1976.

Adapun perkembangan gateball di Indonesia berawal dari Bali. Sejumlah wisatawan asal Jepang pada awal tahun 1997 meminta kepada pemilik hotel Tohpati di Bali untuk menyediakan lapangan gateball. Jika disediakan, para wisatawan yang sebagian besar berusia lanjut tersebut berjanji akan rutin datang ke hotelnya setiap tiga bulan. [3]

Setelah dari Bali, gateball terus merebak ke berbagai daerah. Akhirnya terbentuk Persatuan Gateball Seluruh Indonesia (Pergatsi) yang ditandai dengan deklarasi dan pengukuhan Pengurus Besar (PB) Pergatsi dengan Ketua Umum Ir.Djoko Kirmanto, Dipl.HE pada 29 Mei 2011. Logo dan mars PB Pergatsi diciptakan oleh Yoseph Madrani (alm). Adapun pelantikan pengurus PB Pergatsi dilakukan oleh Haryono Isman selaku Ketua Umum Pengurus Nasional FORMI (Forum Olahraga Masyarakat Indonesia) [4]

Referensi

  1. ↑ "Direktur Doktrin Kodiklatau Mengadakan Latihan Bersama Dengan Para Pemain Gateball dari Jawa Barat". Puspen TNI. 30 September 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2020-07-17. Diakses tanggal 17 Juli 2019.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ "Mengenal Lebih Dekat Olahraga Gateball". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2020-07-13. Diakses tanggal 14 Juli 2020.
  3. ↑ Siahaan, Paul Ames Halomoan (Juli–Agustus 2025). "Gateball, dari Bali Menembus PON". Majalah Lintas. Vol. Tahun XVI, no. 96. hlm. 82–83.{{cite magazine}}: Pemeliharaan CS1: Format tanggal (link)
  4. ↑ Sekretariat PB Pergatsi (Tanggal_Publikasi). "Sejarah". Website Resmi PB Pergatsi. PB Pergatsi. Diakses tanggal 26 Nobvember 2025.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date= and |date=

Pranala luar


Ikon rintisan

Artikel bertopik olahraga ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan