Sabtu, 07 November 2026
05:39 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis

Gamolan pekhing

alat musik daerah asal Lampung Barat

Bagikan:

Gamolan Pekhing atau Gamolan Lampung adalah instrumen musik dari Sekala Bekhak dan termasuk dalam keluarga instrumen Xilofon. Gamolan Pekhing terdiri atas delapan lempengan bambu dan memiliki kisaran nada lebih dari satu oktaf. Diterangkan dalam Musical Journeys in Sumatra Prof Margaret J. Kartomi, lempengan bambu tersebut diikat secara bersambung dengan tali rotan yang disusupkan melalui sebuah lubang yang ada di setiap lempengan dan disimpul di bagian teratas lempeng. Pada Gamolan Pekhing terdapat penyangga yang tergantung bebas di atas wadah kayu, memberikan resonansi ketika lempeng bambunya dipukul sepasang stick kayu atau bambu.

Tangga nada yang dimiliki oleh Gamolan Lampung adalah 1, 2, 3, 5, 6, 7 [Do, Re, Mi, Sol, La, Si] dan memiliki Langgam Lampung yakni "Sai Khujai Khawa Khitu Khop Kayu". Gamolan Pekhing dimainkan oleh dua orang pemain yang duduk di belakang alat musik ini, salah satu dari mereka memimpin Begamol dengan memainkan pola pola melodis pada enam lempeng, dan yang satunya [Gelitak] mengikutinya pada dua lempeng sisanya. Gamolan Pekhing dimainkan bersama-sama dengan sepasang gong [Tala], drum yang kedua ujungnya bisa dipukul [Gindang] dan sepasang simbal kuningan [Rujih].[1]

Sejarah

Gamolan Pekhing diyakini oleh para Antropologi merupakan prototipe dari gamelan di Jawa, yang dibawa masuk kejawa saat era Kedatuan Sriwijaya pada dinasti Syailendra. Kedua instrumen ini memiliki kesamaan dalam bentuk, bahan yang digunakan yang berbeda. Menurut Prof Margaret J. Kartomi seorang peneliti dan etnomusikolog asal Australia, Gamolan Pekhing ini sudah ada dan lebih tua dari Gamelan. Hal ini terbukti dengan ditemukannya gambar Gamolan Pekhing pada relief candi Borobudur.[2] Sebelum dekade 1990-an, Gamolan Pekhing digunakan dalam ritual acara adat dan upacara penyambutan tamu.

Terdapat beberapa tetabuhan dasar Gamolan yang menyertai beragam ritus adat Lampung yakni Tabuh Nyambai Agung, Tabuh Jakhang Kenali, Tabuh Sekeli Pernong, Tabuh Alau Alau Kembahang, Tabuh Labung Angin, Tabuh Tari dan Tabuh Hiwang. Saat ini, pengembangan Gamolan Pekhing masuk dalam materi muatan lokal di sekolah-sekolah. Gamolan Pekhing ikut mewarnai khazanah kesenian kontemporer melalui kolaborasi dengan instrumen-instrumen musik modern. Selain itu, Gamolan Pekhing menjadi salah satu identitas masyarakat Lampung yang ikut ditampilkan dalam perhelatan daerah seperti Festival Krakatau yang rutin diadakan setiap tahun.[3]

Referensi

  1. ↑ Indonesia, Directorate of Cultural Heritage and Diplomacy, Ministry of Education and Culture of (2019), Bahasa Indonesia: Buku Katalog Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2018 (Buku 2), diterbitkan oleh Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. (PDF), diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2023-07-28, diakses tanggal 2020-01-18{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
  2. ↑ "Alat Musik Gamolan Khas Lampung – Universitas Malahayati". malahayati.ac.id. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-02-05. Diakses tanggal 2020-01-18.
  3. ↑ Kaya, Indonesia. "Gamolan Pekhing, Gamelan Bambu dari Lampung Barat : Kesenian - Situs Budaya Indonesia". IndonesiaKaya (dalam bahasa Indonesia). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-01-28. Diakses tanggal 2020-01-18.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
Ikon rintisan

Artikel bertopik lagu, musik, atau alat musik ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan