Kamis, 15 Oktober 2026
19:38 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M

Gambar Idoep

Bagikan:

Gambar Idoep adalah pemutaran film pertama pada tanggal 5 Desember 1900 di Batavia.[1] Film yang diputar saat itu merupakan film dokumenter perjalanan Ratu dan Raja Belanda di Den Haag.[2] Tempat pemutaran film ini bertempat di sebuah rumah di sebelah pabrik kereta Maatschappij Fuchss di Kebon Jae, Tanah Abang.[2] Pemutaran film ini diulas dalam surat kabar Bintang Betawi yang terbit 4 Desember 1900.[3] Tiga tahun setelah pemutaran perdana ini, tempat pemutaran yang awalnya merupakan rumah seorang pengusaha diubah menjadi bioskop bernama The Royal Bioscoope tanggal 28 Maret 1903.[3]

Pemutaran film Gambar Idoep mengawali pengenalan tentan bioskop di Indonesia.[4] "Gambar idoep" sendiri sebenarnya merupakan sebutan untuk film pada zaman itu.[2]

Pada hari itu, harga tiketnya adalah f2 untuk kelas I, f1 untuk kelas II, dan f0,5 untuk kelas III.[5] Salah satu hal yang menarik dalam pemutaran film perdana ini adalah pemilihan tayangan pukul 7 malam. Kelihatannya pemilik bioskop sudah memperhitungkan dengan cermat pemilihan waktu ini. Hal ini karena pada tahun-tahun tersebut, jenis hiburan yang ada di kota-kota di Indonesia saat itu hanyalah komedi stambul dan opera Melayu, yang waktu mulainya berkisar jam 9 hingga 12 malam. Sehingga, ada jeda waktu kosong antara jam pulang kerja (jam 5-6 sore) hingga waktu pemutaran hiburan ini. Oleh karena itu, pemilihan waktu jam 7 malam dianggap pas.[5] Sejak 1 Januari 1901, harga tiket diturunkan menjadi f1,25 untuk kelas I, f0,75 untuk kelas II, dan f0,25 untuk kelas III.[4] Saat itu pun pemilik bioskop memberlakukan peraturan yang rasialis. Orang Tionghoa, Eropa, dan India minimal harus membeli tiket kelas II, sedangkan orang Jawa dan Islam hanya boleh membeli tiket kelas III.[4]

Referensi

  1. ↑ "Gambar Idoep". jakarta.go.id. Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Pemprov DKI Jakarta. Diarsipkan dari asli tanggal 2018-03-04. Diakses tanggal 4 Maret 2018.
  2. 1 2 3 Indra, Putu Agung Nara. "Gambar Idoep yang Menghidupkan Nusantara". tirto.id. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-03-06. Diakses tanggal 2018-03-04.
  3. 1 2 "Jejak Gambar Idoep di Batavia dan Donggala". muvila.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2018-06-04. Diakses tanggal 2018-03-04.
  4. 1 2 3 1952-, Budi Susanto, A., (2003). Identitas dan postkolonialitas di Indonesia. Yogyakarta: Lembaga Studi Realino. ISBN 9792108513. OCLC 56479125.{{cite book}}: |last= memiliki nama numerikPemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
  5. 1 2 1952-, Budi Susanto, A., (2005). Penghibur(an) : masa lalu dan budaya hidup masa kini Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. ISBN 9792111298. OCLC 67987752. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2009-02-20. Diakses tanggal 2018-03-04.{{cite book}}: |last= memiliki nama numerikPemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan