Rabu, 21 Oktober 2026
06:38 WIB
TERKINI
Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari
Gambang Semarang

Gambang Semarang

Bagikan:
Wikifikasi
Artikel ini perlu diwikifikasi agar memenuhi standar kualitas Wikipedia. Anda dapat memberikan bantuan berupa penambahan pranala dalam, atau dengan merapikan tata letak dari artikel ini.
Untuk keterangan lebih lanjut, klik [tampil] di bagian kanan.
  • Mengganti markah HTML dengan markah wiki bila dimungkinkan.
  • Tambahkan pranala wiki. Bila dirasa perlu, buatlah pautan ke artikel wiki lainnya dengan cara menambahkan "[[" dan "]]" pada kata yang bersangkutan (lihat WP:LINK untuk keterangan lebih lanjut). Mohon jangan memasang pranala pada kata yang sudah diketahui secara umum oleh para pembaca, seperti profesi, istilah geografi umum, dan perkakas sehari-hari.
  • Sunting bagian pembuka. Buat atau kembangkan bagian pembuka dari artikel ini.
  • Susun header artikel ini sesuai dengan pedoman tata letak.
  • Tambahkan kotak info bila jenis artikel memungkinkan.
  • Hapus tag/templat ini.
250px-Gambang_Semarang.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Gambang Semarang

Gambang Semarang adalah kesenian musik tradisional kerakyatan yang berasal dari Semarang dan merupakan gabungan dari seni musik, vokal, tari dan lawak. Yang menjadi ciri khas dari kesenian ini adalah alunan musik yang mengiringi gerak telapak kaki secara dinamis sesuai irama lagu. Alat musik yang dipakai antara lain bonang, gambang, gong suwuk, kempul,[1] peking, saron, kendang dan ketipung. Gambang Semarang merupakan bentuk akulturasi budaya antara etnis Tionghoa dengan Jawa dengan tokoh-tokoh perintisnya kebanyakan beretnis tionghoa seperti Lie Ho Sun dan Oey Yok Siang.[2] Pada pengembangan selanjutnya, Gambang Semarang semakin diisi oleh unsur kejawaan, lagu yang dimainkan adalah lagu pop Jawa.

Lirik lagu

Empat penari kian kemari
Jalan berlenggang, aduh
Langkah gayanya menurut suara
Irama gambang

Sambil bernyanyi jongkok berdiri
Kaki melintang, aduh
Sungguh jenaka waktu mereka
Tari berdendang

Bersuka ria, gelak tertawa
Semua orang karena
Hati tertarik gerak-gerik
Si tukang gendang

Empat penari membikin hati
Menjadi senang, aduh
Itulah dia malam gembira
Gambang Semarang

Sejarah

Kesenian Gambang Semarang merupakan turunan kesenian betawi Gambang Kromong yang memang lekat dengan budaya kalangan tionghoa. Gambang Semarang pada mulanya merupakan gagasan Lie Ho Sun, pada tahun 1930 untuk membawa dan mengembangkan Gambang Kromong di Semarang.[3] Gagasan tersebut disampaikan kepada Burgermeester (wali kota), dan langsung mendapatkan tanggapan baik dari wali kota. Lie Ho Sun sendiri adalah anggota volksraad yang gemar bermain musik keroncong, dan juga anggota organisasi kesenian “Krido Handoyo”.[4]

Dengan bantuan biaya dari walikota, ia membeli peralatan gambang kromong di Batavia bersama-sama dengan kelompok senimannya. Selanjutnya bermunculanlah berbagai komunitas Gambang di Semarang.[3] Kegiatan gambang Semarang periode pertama digawangi oleh beberapa pemain kelompok gambang kromong “Kedaung” yang melatih pemain baru yang berasal dari grup keroncong “Irama Indonesia”. Tahun 1942, gambang Semarang bubar dan berhenti untuk sementara waktu karena perang antara rakyat dengan Jepang. Tahun 1949, Cik Boen dari “Irama Indonesia” kembali mengaktifkan gambang Semarang. Di yang sama, The Lian Kian juga memulai kembali Gambang Semarang tetapi tidak bertahan lama. Tahun 1957 muncul generasi kedua dengan tokoh Yaw Tia Boen. Pada masa ini, terjadi kolaborasi Gambang Semarang dengan musik lain, seperti jazz, keroncong, dangdut dan lagu barat. Generasi ketiga terbentuk sekitar tahun 1974 dengan tokohnya Sunoto, Bah Kalud, dan Jayadi. Pada masa ini didirikan Paguyuban Gambang Semarang yang mendapat pengesahan dari Kanwil Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jateng tahun 1979 sebagai kategori kesenian rakyat.[5]

Trivia

Lagu "Aksi Kucing" ciptaan Oey Yok Siang, musisi Gambang Semarang, dipopulerkan kembali pada tahun 2007 oleh band White Shoes.[6]

Referensi

  1. ↑ Muis, M. (2009). Pendefinisian lema alat musik di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. hlm. 51
  2. ↑ Firdaus, Y. F. (26 April 2017). "Menelisik Asal Usul Gambang Semarang, Simbol Keberagaman Warga Kota". EIN Institute. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-06-07. Diakses tanggal 4 Maret 2019.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. 1 2 Sadtiti, Sri (1 Juli 2016). "Gambang Semarang: Sebuah Identitas Budaya Semarang yang Termarginalkan". Imajinasi : Jurnal Seni. 10 (2): 143–152. ISSN 2549-6697. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-09-18. Diakses tanggal 2019-03-04.
  4. ↑ Dais Dharmawan Paluseri, Shakti Adhima Putra, Hendra Surya Hutama, Mochtar Hidayat, and Ririn Arisa Putri. Penetapan Warisan Takbenda Indonesia Tahun 2018. Edited by Lien Dwiari Ratnawati. 2018.
  5. ↑ Pujakesuma, Andi (15 Agustus 2018). "Kisah perjalanan Gambang Semarang, kesenian khas Kota Semarang". Merdeka.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-02-16. Diakses tanggal 16 Februari 2023.
  6. ↑ Ismayanto, Darma (6 September 2012). "Meong... Meong... Segala Zaman". Historia.id. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-09-24. Diakses tanggal 4 Maret 2019.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan