Minggu, 25 Oktober 2026
23:33 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung

Gamar

Bagikan:

Tumenggung Cakra Yuda atau dikenal juga dengan nama Tumenggung Gamar adalah salah seorang panglima Perang Banjar. Ia dilantik menjadi Tumenggung pada 10 Desember 1860 oleh Pangeran Hidayatullah dengan gelar lengkapnya adalah Tumenggung Cakra Yuda untuk mengadakan perang Sabil terhadap kolonial Belanda.[1][2][3]

Pengangkatan sebagai Pemimpin Perang

Surat pengangkatan Tumenggung Gamar sebagai pimpinan perang seperti berikut ;

“ Surat Seruan Pangeran Hidajatoellah ;

Dengan ini saya menganugrahkan kepada seorang rakyat bernama Gamar gelar Tumenggung Cakra Yuda dan dengan ini pula memperkenankan kepadanya melakukan Perang Sabilullah untuk menegakkan kejayaan agama dan ajaran Nabi Muhammad Rasululloh SAW.

Selanjutnya saya memaklumkan, bahwa pengangkatan ini tidak dapat diubah lagi, sehingga dengan demikian Tuan dapat mengadakan musyawarah atau persetujuan dengan Mufti Muhammad Cholid (mufti gubernemen ), Mufti Abdul Jalil, Pangulu Machmud ( pengulu gubernemen Martapura ), Tuan Chalifah Idjra-ie ( bertugas melakukan penyumpahan para saksi di Mahkamah Militer di Martapura ), semua haji yang di Dalam Pagar ( tempat tinggal para ulama ) dan yang ada di mana-mana dan semua kepala di dalam perang ini disamping semua penduduk kampung, baik lelaki maupun perempuan, yang masih terikat kepada Al Khaliq dan Rasulnya.

Bilamana ada di antara mereka yang tidak memperhatikan atau ada yang menentang peraturan yang telah saya keluarkan, maka saya memperkenankan kepada Tuan untuk menghukumnya sampai mati dengan jalan dipancung kepalanya dan menghancurkan harta bendanya.

Dalam hal Tuan tidak melaksanakan kemauan saya ini dengan saksama dan tidak memperhatikan semua perintah yang telah saya keluarkan dengan persetujuan orang tua saya, maka Tuan dan seluruh keturunan Tuan selama lamanya akan terkutuk.

Saya memohon semoga Yang Maha Kuasa akan memperkenankan harapan saya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Menggempur Pasukan Belanda

Pada 19 Maret 1861, Tumenggung Gamar dan pasukannya menggempur patroli Belanda di Karang Intan dan hal tersebut dilakukannya berulang-ulang. Pada suatu kesempatan, anak buah Tumenggung Gamar terpaksa harus membunuh Kepala Distrik Riam Kanan (Kiai Patih Warga Dalam) di Karang Intan karena diduga sangat membantu pihak Belanda.[4]

Kematian

Perlawanan Tumenggung Gamar di Lok Tunggul tidak berhasil sehingga Ia dengan pasukannya terpaksa mengundurkan diri ke kawasan Tanah Bumbu di sebelah tenggara pulau Kalimantan. Di tempat ini pertempuran terjadi lagi. Tumenggung Gamar gugur dalam salah satu pertempuran tahun 1886.[5]

Referensi

  1. ↑ Kiai Bondan, Amir Hasan (1953). Suluh Sedjarah Kalimantan. Bandjarmasin: Fadjar. hlm. 56. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-07-28. Diakses tanggal 2020-04-10.
  2. ↑ van Rees, Willem Adriaan (1865). De bandjermasinsche krijg van 1859-1863: met portretten, platen en een terreinkaart (dalam bahasa Belanda). Vol. 2. Arnhem: D. A. Thieme.
  3. ↑ "Salinan arsip". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-09-11. Diakses tanggal 2017-08-13.
  4. ↑ Mayur, Gusti (1979). Perang Banjar. Rapi. hlm. 85. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-07-28. Diakses tanggal 2020-04-10.
  5. ↑ Said, Muhammad (2011). Raja Diraja Kerajaan Banjar Abad IV-XXI. Martapura: Pustaka Agung Kesultanan Banjar. hlm. 39. ISBN 978-602-19360-0-9.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan