Selasa, 13 Oktober 2026
06:55 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM
Film pink

Film pink

Film erotis Jepang

Bagikan:
250px-Pink_Film_Theater_%E6%9C%9D%E6%97%A5%E5%8A%87%E5%A0%B4_-_Yuya_Tamai.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Bioskop film pink

Film pink (ピンク映画, Pinku eiga) merujuk pada film-film yang diproduksi oleh studio independen di Jepang yang menampilkan adegan telanjang (oleh karena itu disebut ‘pink’) atau mengangkat tema seksual.[1] Kategori ini mencakup berbagai genre, mulai dari drama hingga thriller aksi dan film eksploitasi. Banyak film pink dapat disamakan dengan thriller erotis seperti Fatal Attraction atau Basic Instinct.

Studio independen yang memproduksi film pink termasuk OP Eiga, Shintōhō Eiga, Kokuei, dan Xces. Istilah ‘film pink’ mulai digunakan setelah studio besar Toei mulai mengiklankan beberapa filmnya sebagai ‘porno’ pada tahun 1971, dan studio besar lain, Nikkatsu, beralih memproduksi hanya film Roman Porno pada tahun yang sama.[2]

Hingga awal 2000-an, film-film ini hampir eksklusif direkam menggunakan film 35 mm. Belakangan, pembuat film mulai menggunakan video (sambil tetap menekankan narasi soft-core). Banyak bioskop mengganti proyektor 35 mm dengan proyektor video dan mulai mengandalkan video lama untuk memenuhi permintaan pemutaran tiga film sekaligus.

Film-film yang kini dianggap sebagai film pink sangatlah populer pada pertengahan 1960-an dan mendominasi pasar domestik Jepang hingga pertengahan 1980-an.[3][4] Pada 1960-an, film pink sebagian besar diproduksi oleh studio-studio kecil dan independen. Sekitar tahun 1970, studio besar Nikkatsu mulai fokus hampir sepenuhnya pada konten erotis, tetapi Toei, perusahaan produksi film besar lainnya, mulai memproduksi seri film yang dikenal sebagai Pinky Violence. Dengan akses ke kualitas produksi yang lebih tinggi dan dukungan pemeran yang lebih baik, beberapa film jenis ini menjadi film yang sukses dan populer.[5] Meskipun kemunculan video dewasa membuat penonton beralih dari film pink pada 1980-an, film dalam genre ini masih diproduksi hingga kini.

Referensi

  1. ↑ Thomas and Yuko Mihara Weisser. 1998. Japanese Cinema Encyclopedia: The Sex Films. Vital Books.
  2. ↑ e.g. Jasper Sharp. 2008. Behind the Pink Curtain: The Complete History of Japanese Sex Cinema. Fab Press.)
  3. ↑ Richie, Donald (2001). "After the Wave". A Hundred Years of Japanese Film: A Concise History. Tokyo: Kodansha International. ISBN 4-7700-2682-X. For a time, almost half of the annual film production figures released in Japan were composed of these hour-long mini-features.
  4. ↑ Domenig, Roland (2002). "Vital flesh: the mysterious world of Pink Eiga". Diarsipkan dari asli tanggal 2004-11-18. Diakses tanggal 2007-02-19. Since the mid-1960s, pink eiga have been the biggest Japanese film genre... By the late 1970s the production of pink eiga together with Roman Porno amounted to more than 70% of annual Japanese film production.
  5. ↑ Domenig, Roland (2002). "Vital flesh: the mysterious world of Pink Eiga". Diarsipkan dari asli tanggal 2004-11-18. Diakses tanggal 2007-02-19.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan