Jumat, 30 Oktober 2026
03:51 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Ferdinand Richthofen

Ferdinand Richthofen

Bagikan:
Ferdinand von Richthofen
(1833-1905)
250px-Ferdinand_von_Richthofen.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Lahir(1833-05-05)5 Mei 1833
Meninggal6 Oktober 1905(1905-10-06) (umur 72)
AlmamaterUniversity of Breslau
University of Berlin
Karier ilmiah
Bidanggeography
Tempat kerjaUniversity of Bonn
University of Leipzig
University of Berlin
Mahasiswa doktoral
Sven Hedin
Alfred Philippson
Arthur Berson
Wilhelm Sievers

Ferdinand Freiherr von Richthofen (5 Mei 1833 - 6 Oktober 1905) adalah seorang penjelajah, ahli geografi, dan ilmuwan asal Jerman.[1] Dia terkenal karena membawa istilah baru seperti "Seidenstrasse" dan "Seidenstraßen" = "Jalan sutra" atau "Jalur sutra" pada tahun 1877.[1] Ia juga orang yang menerapan standar praktik korografi dan korologi.[1] Dia juga adalah paman dari Perang Dunia I angkatan udara Manfred von Richthofen yang dikenal sebagai "Red Baron ".[1][2]

Ia lahir di Karlsruhe, Prusia Silesia, dan dididik di Breslau dan Berlin.[2] Dia melakukan perjalanan atau belajar di Pegunungan Alpen dari Tyrol dan Carpathians di Transylvania.[2] Pada 1860, ia bergabung dengan Eulenburg Expedition, seorang Prusia ekspedisi yang mengunjungi Ceylon, Jepang, Taiwan, Sulawesi, Jawa, para Filipina, Siam, Burma antara 1860 dan 1862.[2] Tidak ada karya penting yang dihasilkan dari perjalanan ini, karena banyak catatan dan koleksi Richthofen hilang pada saat perjalanan.[2]

Rujukan

  1. 1 2 3 4 "Approaches Old and New to the Silk Roads" Vadime Eliseeff in: The Silk Roads: Highways of Culture and Commerce. Paris (1998) UNESCO, Reprint: Berghahn Books (2000), pp. 1-2. ISBN 92-3-103652-1; ISBN 1-57181-221-0; ISBN 1-57181-222-9 (pbk)
  2. 1 2 3 4 5 Waugh, Daniel. (2007). "Richthofen's "Silk Roads": Toward the Archaeology of a Concept." The Silk Road. Volume 5, Number 1, Summer 2007, p. 4.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan