Kamis, 24 September 2026
12:03 WIB
TERKINI
Nasional Pemulihan Pascabencana NTT: PSI Desak Perhatian Berkelanjutan Setelah Kunjungan Presiden Megapolitan Diantar Ayah, Zaki Berburu Peluang Kerja di Job Fair Setelah 4 Kali Gagal Regional Misteri Terkuak: Jasad ABK Kapal Jurnalis di Enggano Teridentifikasi Lewat DNA Cek Fakta Waspada! Penipuan Cek Bansos 2026 Marak, Data Pribadi Jadi Incaran Cek Fakta Waspada Penipuan BLT Kesra 2026 via Telegram: Kenali Prosedur Resmi Cek Fakta Mengungkap Tiga Hoaks Besar Korupsi yang Menjerat Nama Mantan Presiden Jokowi Hukum & Kriminal Aktivis Desak Kemenimipas Transparan Ungkap Dokumen Remisi Pemerkosa Belasan Santriwati Eropa & Amerika Presiden Trump Serukan Negara Anggota Mundur dari ICC, Ancam Sanksi Lembaga Eropa & Amerika AS, Denmark, dan Greenland Sepakati Perluasan Militer Strategis Tanpa Batas Waktu Hukum KPK Ungkap Puluhan Celah Korupsi Pengurusan Dokumen Tanah di ATR/BPN Nasional Pemulihan Pascabencana NTT: PSI Desak Perhatian Berkelanjutan Setelah Kunjungan Presiden Megapolitan Diantar Ayah, Zaki Berburu Peluang Kerja di Job Fair Setelah 4 Kali Gagal Regional Misteri Terkuak: Jasad ABK Kapal Jurnalis di Enggano Teridentifikasi Lewat DNA Cek Fakta Waspada! Penipuan Cek Bansos 2026 Marak, Data Pribadi Jadi Incaran Cek Fakta Waspada Penipuan BLT Kesra 2026 via Telegram: Kenali Prosedur Resmi Cek Fakta Mengungkap Tiga Hoaks Besar Korupsi yang Menjerat Nama Mantan Presiden Jokowi Hukum & Kriminal Aktivis Desak Kemenimipas Transparan Ungkap Dokumen Remisi Pemerkosa Belasan Santriwati Eropa & Amerika Presiden Trump Serukan Negara Anggota Mundur dari ICC, Ancam Sanksi Lembaga Eropa & Amerika AS, Denmark, dan Greenland Sepakati Perluasan Militer Strategis Tanpa Batas Waktu Hukum KPK Ungkap Puluhan Celah Korupsi Pengurusan Dokumen Tanah di ATR/BPN
Encomienda

Encomienda

250px-Francisco_Hernandez_Giron_2.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Francisco Hernández Giron adalah encomendero Spanyol di Peru yang menentang Leyes Nuevas (Hukum-Hukum Baru) pada tahun 1553. Hukum ini memberi hak kepada penduduk asli dan melindungi mereka dari perlakuan buruk.

Encomienda (pengucapan bahasa Spanyol: [eŋkoˈmjenda]) adalah sistem yang diterapkan di jajahan Spanyol di benua Amerika untuk mengatur tenaga kerja dan otonomi penduduk asli.

Dalam sistem ini, Kerajaan Spanyol memberikan kepada orang-orang yang disebut encomendero sejumlah penduduk asli untuk dilindungi dari suku-suku musuh. Encomendero bertugas mengajari mereka bahasa Spanyol dan iman Katolik, dan sebagai gantinya mereka dapat memperoleh upeti dalam bentuk tenaga kerja, emas, atau produk lainnya.[1] Nyatanya, perbedaan antara encomienda dan perbudakan tidak banyak.[1] Banyak penduduk asli yang dipaksa melakukan kerja keras dan akan dihukum berat atau dibunuh bila menolak.[1]

Di wilayah bekas Kekaisaran Inka, sistem ini melanjutkan tradisi Inka (dan bahkan pra-Inka) yang mengambil upeti dalam bentuk tenaga kerja.

Catatan kaki

  1. 1 2 3 Rodriguez, Junius P. (2007). Encyclopedia of Slave Resistance and Rebellion. Vol. 1. hlm. 184. ISBN 978-0-313-33272-2.

Rujukan

Ikon rintisan

Artikel bertopik sejarah ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan