Sabtu, 26 September 2026
19:50 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG
Elegi

Elegi

250px-William_Blake_-_The_Poems_of_Thomas_Gray%2C_Design_107%2C_%22Elegy_Written_in_a_Country_Church-Yard.%22_-_Google_Art_Project.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Elegy Written in a Country Church-Yard, ilustrasi karya William Blake.

Elegi atau gita duka (bahasa Inggris:elegy) adalah istilah umum dalam kesusastraan yang merujuk kepada syair atau nyanyian yang mengandung ratapan dan ungkapan dukacita, khususnya pada peristiwa kematian. Namun tidak hanya kematian, penggunaan kata "elegi" dalam syair atau lirik lagu juga dapat ditujukan untuk menggambarkan perasaan kehilangan. Hal ini dapat dilihat dari salah satu lagu penyanyi Indonesia, Ebiet G. Ade berjudul Elegi Esok Pagi.

Karena mendefinisikan suatu ratapan kesedihan, elegi juga menjadi salah satu jenis genre puisi modern, yaitu puisi elegi. Puisi ini dapat diartikan sebagai puisi baru yang berisi ratap tangis atau kesedihan. Objek yang digambarkan di dalam puisi elegi biasanya berupa pengalaman-pengalaman pahit atas peristiwa yang pernah dialami, atau dapat juga berupa penyesalan atau sesuatu yang pernah dilakukan di masa lalu. Elegi juga dapat digunakan untuk mengungkapkan empati atas peristiwa kemalangan yang dialami oleh orang lain. Namun sebenarnya, puisi elegi sudah ada sejak zaman kesusastraan Yunani dan Romawi. Saat itu, semua puisi yang bertemakan cinta, perang, dan juga kematian dimasukkan dalam puisi elegi. Lalu, sejak abad ke-16, istilah puisi elegi diterapkan untuk puisi ratapan atas kematian seseorang.[1][2]

Dengan mengategorikan elegi sebagai puisi baru, maka para penikmat seni dapat melihat ciri dari puisi baru tesebut. Ciri yang akan dilihat pertama kali, bahwa pengarang puisi baru dicantumkan dalam puisi. Selain itu, puisi baru juga mengganakan majas, dan gaya bahasa yang dinamis, atau boleh dikatakan gaya bahasanya dapat berubah-ubah. Jika dilihat dari strukturnya, puisi baru akan tersusun rapi, dan bersifat simetris. Kebanyakan puisi ini berbentuk empat dalam seuntai. Dalam puisi ini (elegi), setiap barisnya berbentuk sebuah kesatuan sinkasis yang utuh.[3]

Dengan melihat elegi, kita dapat mengetahui bahwa di dalam penulisan sebuah puisi terdapat beberapa jenis puisi yang dapat dilihat dari isi puisi tersebut. Jenis pertama adalah balada, yang merupakan jenis puisi baru, yang menceritakan sebuah kisah. Puisi jenis balada biasanya terdiri dari 3 bait dan 8 larik, yaitu a-b-a-b-b-c-c-b, kemudian strukturnya berubah menjadi a-b-a-b-b-c-b-c.

Lihat pula

Referensi

Lihat entri elegi di kamus bebas Wikikamus.


Ikon rintisan

Artikel bertopik bahasa ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan