Senin, 26 Oktober 2026
13:59 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung

Ekoteologi

Bagikan:

Ekoteologi adalah cabang teologi yang mengkaji hubungan antara ajaran agama dan lingkungan hidup, yang menganggap menjaga dan melestarikan alam sebagai bagian integral dari tanggung jawab iman. Istilah ini menggabungkan dua kata yaitu "eko" (rumah/lingkungan) dan teologi (Ilmu tentang Tuhan), yang berfokus pada bagaiman nilai-nilai keagamaan dapat mendorong kesadaran, kepedulian dan tindakan baik personal maupun komunal terhadap bumi.[1]

Meski pertama kali istilah ini mulai diperkenalkan secara publik sebagai sebuah konsep teologis pada tahun 1960-an oleh teolog Protestan Amerika Joseph Sittler, gagasan ini muncul sebagai respons terhadap krisis lingkungan yang nyata pada paruh kedua abad ke-20, dimana Sittler menyerukan adanya teologi anugerah baru yang mencakup alam, bukan hanya manusia.

Istilah ini kemudian populer dan digunakan secara luas, terutama setelah diterbitkannya volume dewan gereja-gereja sedunia yang berjudul Ecotheology:Voices from South and North pada tahun 1994, dan perubahan nama jurnal Theology in Green menjadi Ecotheology pada tahu 1996.

Referensi

  1. ↑ Aceh, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi. "Ekoteologi Gagasan Menteri Agama: Upaya Nyata Menjaga Lingkungan". Ekoteologi Gagasan Menteri Agama: Upaya Nyata Menjaga Lingkungan. Diakses tanggal 2025-11-23.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan