Jumat, 16 Oktober 2026
00:36 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M

Ekonomi Jerman Nazi

Bagikan:

Seperti sebagian besar negara barat lainnya, ekonomi Jerman mengalami dampak dari Depresi Besar dengan peningkatan pengangguran menjelang Kejatuhan Wall Street 1929.[1] Saat Adolf Hitler menjadi Kanselir Jerman pada 1933, ia memperkenalkan kebijakan-kebijakan yang ditujukan untuk menunjang ekonomi. Perubahannya meliputi privatisasi industri negara, autarki dan tarif impor. Meskipun pendapatan mingguan meningkat 19%[2] pada periode antara 1932-1938, rata-rata jam kerja juga meningkat menjadi sekitar 60 per pekan pada 1939. Selain itu, perdagangan luar negeri menurut pada barang-barang konsumen seperti unggas, buah dan pakaian untuk sebagian besar orang Jerman.[3]

Referensi

Catatan

  1. ↑ Adam Tooze, The Wages of Destruction: The Making and Breaking of the Nazi Economy (2008)
  2. ↑ Bry, Gerhard (1960). Wages in Germany 1871-1945. New Jersey: Princeton University Press. hlm. 331, 362. ISBN 0-87014-067-1.{{cite book}}: Ketidakcocokan ISBN / tanggal
  3. ↑ Evans, Richard J. "Business, Politics, and War." The Third Reich in Power. New York: Penguin, 2006. 392. Print

Daftar pustaka

Bacaan tambahan

  • Dean, Martin: Robbing the Jews: The Confiscation of Jewish Property in the Holocaust, 1935–1945, Cambridge University Press, 2008.
  • Kaillis, Aristotle: Fascist Ideology, Routledge London, 2000.
  • Timothy Mason & Richard Overy "Debate: Germany, 'Domestic Crisis' and War in 1939" pages 200–240 from Past and Present, Number 122, February 1989; reprinted as "Debate: Germany, 'domestic crisis’ and the War in 1939" from The Origins of The Second World War edited by Patrick Finney, Edward Arnold: London, United Kingdom, 1997, ISBN0-340-67640-X.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan