Sabtu, 31 Oktober 2026
18:43 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Efek teleskopik

Efek teleskopik

jenis kecelakaan kereta api

Bagikan:
250px-NTSB-Woodley-Park-Accident.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Efek teleskopik dari suatu rangkaian kereta api

Dalam kecelakaan kereta api, efek teleskopik atau tumpang tindih adalah kondisi di mana sebuah kereta atau gerbong terdorong ke atas dan menumpuk kereta atau gerbong di depannya, atau ketika bagian depan kereta masuk ke dalam bagian belakang kereta di depannya.

Istilah ini berasal dari kemiripan posisi dua kereta setelah bertabrakan dengan mekanisme tabung teleskop, yang mana tabung teleskop dapat memanjang dan menyusut saat digunakan.[1]

Efek teleskopik sering menyebabkan banyak korban jiwa, terutama jika kereta yang terdorong ke atas sepenuhnya menindih kereta di bawahnya, menghancurkan struktur kabin dan mengurangi ruang penyelematan diri bagi penumpang.

Mitigasi

Peluang terjadinya efek teleskopik dapat dikurangi dengan penggunaan anticlimber dan penerapan sistem kontrol manajemen keselamatan perkeretaapian.

Anticlimber adalah pelat horizontal yang dipasang di ujung sasis kereta dan berfungsi untuk mencegah tumpang tindih antarkereta saat terjadi tabrakan. Saat benturan terjadi, anticlimber pada satu kereta akan bertumbukan dengan anticlimber pada kereta di depannya, sehingga membantu menjaga stabilitas dan mengurangi risiko kereta saling menumpuk.

Pemasangan anticlimber pada sarana perkeretaapian merupakan kewajiban di beberapa negara. Kereta rel listrik seri SFC120-V milik KAI Commuter memiliki fitur anticlimber.

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ Solomon, Brian (2001). The Heritage of North American Steam Railroads. London: Amber Books. hlm. 101. ISBN 1-897884-75-3.


Ikon rintisan

Artikel bertopik perkeretaapian ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan