Rabu, 28 Oktober 2026
20:14 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Lai

Lai

jenis durian hutan yang berasal dari pulau Kalimantan

Bagikan:
Untuk jenis lainnya, lihat Durian.
Lay / Pampaken
330px-Buah_paken.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Lai atau paken Durio kutejensis;
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Plantae
Klad: Tracheophyta
Klad: Angiospermae
Klad: Eudikotil
Klad: Rosidae
Ordo: Malvales
Famili: Malvaceae
Genus: Durio
Spesies:
D. kutejensis
Nama binomial
Durio kutejensis
Sinonim

Lahia kutejensis Hassk.

Lai adalah tumbuhan buah sejenis durian.[1] Jenis ini juga dikenal dengan beberapa nama lain, seperti durian kuning', durian tinggang, durian pulu, nyekak, ruas, papaken, sekawi, pekawai, dan lain-lain, dengan nama ilmiah Durio kutejensis (kutejensis (Adj.) = "berasal dari Kutai").[1] Durian jenis ini memiliki ciri khas, yakni tidak mengeluarkan bau menyengat dari dalam buahnya, sebagaimana durian pada umumnya.

Karakteristik Lai

Pohon berukuran sedang, dengan tinggi mencapai 24 m dan gemang 40 cm.[1]

Daun-daun pohon lai sama dengan durian pada umumnya, tetapi memiliki daun yang ukurannya lebih besar dan tebal. Panjang daunnya bisa mencapai 20–25 cm, dengan lebar 5–7 cm. Bunga besar, berwarna merah, berbau bangkai ketika mekar.[2] Bunga ini diserbuki baik oleh lebah madu hutan, burung, maupun kelelawar.[3]

Buah kapsul serupa durian, beruang lima, berbentuk bulat telur hingga lonjong, kuning kusam, dengan duri-duri yang agak membengkok.[1] Biji lonjong, cokelat mengilap, terbungkus oleh daging buah (arilus) yang berwarna kuning atau jingga, agak kering, manis dan berbau enak.[1] Buahnya kecil sampai sedang (1–2 kg), bertangkai pendek, berwarna hijau muda atau hijau kekuningan saat mentah.[4]

Varietas

Beberapa kultivar lai sudah beredar di masyarakat, baik yang sudah dilepas sebagai kultivar unggul maupun yang belum dilepas, di antaranya adalah 'Lai Mas', 'Lai Kayan', 'Lai Rencong', 'Lai Nangka', dan 'Lai Batuah'.[2] 'Lai Mas' merupakan kultivar yang pertama kali diperkenalkan ke umum. Walaupun belum dilepas sebagai varietas unggul, ia sudah cukup dikenal.[2] Di Taman Buah Mekarsari, varietas ini telah ditanam cukup banyak dan sudah berproduksi.[2] Pada musim buah, Lai menjadi salah satu daya tarik dalam pesta kebun bertema durian.[2] 'Lai Kayan', 'Lai Rencong', 'Lai Nangka', dan 'Lai Batuah' merupakan kultivar lai yang terbilang baru dan telah dilepas sebagai varietas unggul dari Kalimantan Timur.[2] Mereka sekarang sedang mulai dikembangkan. Beberapa kebun telah menghasilkan dan ternyata cukup diminati konsumen.[2] Informasi terbaru, varietas ini juga diminati oleh eksportir dari Singapura dan Malaysia.[2] Masih banyak lagi Lai yang tersebar di kawasan lain di Kalimantan yang belum dieksplorasi atau dipromosikan ke umum.[2]

Ekologi dan Penyebaran

Habitat asli pohon ini adalah hutan lereng berbukit di pedalaman Kalimantan bagian tengah.[1] Di daerah Kalimantan Selatan dan sebagian Kalimantan Tengah, buah ini disebut papaken.[5] Pohon ini merupakan pohon penyusun lapisan tajuk tengah, yang tumbuh di bawah lindungan atap tajuk (kanopi) hutan.[6]

Buah ini ditanam di berbagai wilayah Kalimantan, dan diintroduksi ke Queensland. Di Brunei Darussalam, buah ini lebih disukai oleh orang lokal daripada durian biasa.[6]

Referensi

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Durio kutejensis.
  1. 1 2 3 4 5 6 Verheij, E.W.M. dan R.E. Coronel (eds.). 1997. Sumber Daya Nabati Asia Tenggara 2: Buah-buahan yang dapat dimakan. PROSEA – Gramedia. Jakarta. ISBN 979-511-672-2. Hal. 427-428.
  2. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lai, durian berwarna daging atraktif Diarsipkan 2015-04-23 di Wayback Machine diakses 9 April 2015
  3. ↑ Yumoto, Takakazu (2000). "Bird-pollination of Three Durio Species (Bombacaceae) in a Tropical Rainforest in Sarawak, Malaysia". American Journal of Botany. 87 (8): p. 1181–1188.{{cite journal}}: |pages= memiliki teks tambahan
  4. ↑ Lai durian dengan aroma lebih ramah Diarsipkan 2014-03-09 di Wayback Machine diakses 9 April 2015
  5. ↑ Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Timur. 2009. Identifikasi Komoditas Unggulan Lokal Provinsi Kalimantan Timur. Samarinda: Distan.
  6. 1 2 M.B. Osman, Z.A. Mohamed, S. Idris and R. Aman (1995). "Tropical fruit production and genetic resources in Southeast Asia: Identifying the priority fruit species". International Plant Genetic Resources Institute (IPGRI). ISBN 92-9043-249-7. Diarsipkan dari asli tanggal 2008-09-30. Diakses tanggal 2007-03-14.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: terbitan berkala memiliki ISBN (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan