Selasa, 22 September 2026
08:03 WIB
TERKINI
Cek Fakta Menteri Keuangan Suahasil Nazara Diserang Hoaks: Dana Hibah Fiktif dan Korupsi Fantastis Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Mengatasnamakan BRI Marak di Medsos Cek Fakta Klarifikasi Hoaks: Nusron Wahid Tak Pernah Sebut Jokowi Terima Suap Rp 700 Miliar Hukum & Kriminal Pengusaha RI Tersandung Dolar Singapura Palsu di Kasino Mewah Sentosa Peristiwa Misteri 22 Penumpang KM Virgo Tak Terdaftar: Menyoroti Akurasi Manifes Kapal Olahraga Pedro Acosta Pecah Telur di MotoGP Austria 2026, Penantian Panjang Berakhir Kolom Warisan Otoriter: Jejak Kekuasaan Kolonial dalam Rezim Orde Baru Kolom Obligasi Daerah Rp 5,6 Triliun DKI: Cerminan Kebutuhan Pembiayaan Ibu Kota Politik Partai Pendukung Prabowo Usulkan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Presiden Megapolitan Pria Penendang Wanita di Senayan City Resmi Tersangka, Polisi Ungkap Motifnya Cek Fakta Menteri Keuangan Suahasil Nazara Diserang Hoaks: Dana Hibah Fiktif dan Korupsi Fantastis Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Mengatasnamakan BRI Marak di Medsos Cek Fakta Klarifikasi Hoaks: Nusron Wahid Tak Pernah Sebut Jokowi Terima Suap Rp 700 Miliar Hukum & Kriminal Pengusaha RI Tersandung Dolar Singapura Palsu di Kasino Mewah Sentosa Peristiwa Misteri 22 Penumpang KM Virgo Tak Terdaftar: Menyoroti Akurasi Manifes Kapal Olahraga Pedro Acosta Pecah Telur di MotoGP Austria 2026, Penantian Panjang Berakhir Kolom Warisan Otoriter: Jejak Kekuasaan Kolonial dalam Rezim Orde Baru Kolom Obligasi Daerah Rp 5,6 Triliun DKI: Cerminan Kebutuhan Pembiayaan Ibu Kota Politik Partai Pendukung Prabowo Usulkan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Presiden Megapolitan Pria Penendang Wanita di Senayan City Resmi Tersangka, Polisi Ungkap Motifnya

Drypoint

Drypoint adalah teknik pembuatan cetakan dari kelompok intaglio, di mana gambar diukir ke dalam pelat (atau "matriks") dengan "jarum" berujung keras dari logam tajam atau berlian. Pada prinsipnya, metode ini praktis identik dengan teknik mengukir gravir. Perbedaannya terletak pada penggunaan alat, dan bahwa tonjolan yang terangkat di sepanjang alur tidak dikerok atau dihaluskan seperti pada ukiran.[1] Secara tradisional pelatnya terbuat dari tembaga, tetapi sekarang asetat, seng, atau pleksiglas juga umum digunakan.

Seperti pada etsa, drypoint lebih mudah dikuasai daripada gravir bagi seorang seniman yang terlatih dalam menggambar karena teknik penggunaan jarum lebih mirip dengan penggunaan pensil daripada pahat ukir (burin) . Sayatan pada pelat juga biasanya jauh lebih dangkal, sehingga membutuhkan lebih sedikit usaha dan keterampilan teknis dalam penggunaan pahat ukir, tetapi berarti lebih sedikit cetakan (salinan) yang dapat dibuat sebelum keausan pada pelat terlihat. Edisi terbatas modern dari cetakan drypoint (jika tidak menggunakan pelat baja) seringkali memiliki kurang dari tiga puluh cetakan. Teknik ini dapat digunakan pada pelat bersamaan dengan teknik intaglio lainnya, dan memang sering digunakan demikian, terutama dengan etsa dan ukiran. Istilah ini juga digunakan untuk tulisan yang digores tanpa tinta, seperti catatan penjelasan dalam manuskrip.

Garis dan gerigi

Garis-garis yang dihasilkan oleh teknik cetak drypoint terbentuk oleh gerigi yang muncul di tepi garis yang digoreskan, di samping lekukan yang terbentuk di permukaan pelat. Gerigi yang lebih besar, yang terbentuk oleh sudut alat yang curam, akan menampung banyak tinta, menghasilkan garis yang khas, lembut, dan padat yang membedakan drypoint dari metode intaglio lainnya seperti etsa atau ukiran yang menghasilkan garis halus dan bertepi tajam. Ukuran atau karakteristik gerigi biasanya tidak bergantung pada seberapa besar tekanan yang diberikan, tetapi pada sudut jarum. Sudut tegak lurus akan meninggalkan sedikit atau tidak ada gerigi, sedangkan semakin kecil sudut di kedua sisinya, semakin besar penumpukan gerigi. Garis drypoint yang paling dalam meninggalkan cukup gerigi di kedua sisinya sehingga mencegah kertas menekan ke tengah goresan, menciptakan garis hitam seperti bulu dengan bagian tengah putih yang halus. Garis yang lebih tipis mungkin tidak memiliki gerigi sama sekali, menciptakan garis yang sangat halus pada hasil cetak akhir dengan menampung sangat sedikit tinta.

Teknik ini berbeda dari teknik ukiran, di mana sayatan dibuat dengan menghilangkan logam untuk membentuk lekukan pada permukaan pelat yang menampung tinta, meskipun kedua metode tersebut dapat dengan mudah digabungkan, seperti yang sering dilakukan Rembrandt van Rijn. Karena tekanan berulang dari pencetakan segera menghancurkan gerigi, drypoint hanya berguna untuk edisi yang relatif kecil; hanya sepuluh atau dua puluh cetakan dengan gerigi yang dapat dibuat, dan setelah gerigi hilang, garis-garis yang relatif dangkal akan aus relatif cepat. Sebagian besar cetakan karya Rembrandt yang menggunakan drypoint tidak menunjukkan gerigi, dan seringkali garis-garis drypoint sangat lemah, sehingga bagian yang terukir tetap kuat. Untuk mengatasi hal ini dan memungkinkan pencetakan dalam jumlah lebih banyak, penyepuhan (disebut steelfacing oleh para pencetak) dapat mengeraskan permukaan pelat dan memungkinkan ukuran edisi yang sama seperti yang dihasilkan oleh etsa dan ukiran.

Sejarah

Teknik ini tampaknya ditemukan oleh Housebook Master, seorang seniman Jerman selatan abad ke-15, yang semua cetakannya hanya menggunakan teknik drypoint. Di antara seniman cetak master lama yang paling terkenal, Albrecht Dürer menghasilkan 3 karya drypoint sebelum meninggalkan teknik tersebut; Rembrandt sering menggunakannya, tetapi biasanya bersamaan dengan etsa dan ukiran. Sebagai teknik intaglio , semuanya dapat digunakan pada pelat yang sama. Alex Katz menggunakan proses ini untuk menciptakan beberapa karyanya yang terkenal, seperti "Sunny" dan "The Swimmer".

Pada abad ke-20 banyak seniman menghasilkan drypoint, termasuk Max Beckmann , Milton Avery , Hermann-Paul dan Martin Lewis. Dengan menambahkan teknik aquatint pada pelat dan tinta dengan berbagai warna, seniman seperti Mary Cassatt telah menghasilkan drypoint berwarna. Seniman Kanada David Brown Milne dianggap sebagai orang pertama yang menghasilkan drypoint berwarna dengan menggunakan beberapa pelat, satu untuk setiap warna.[2] Di Pantai Barat Amerika Serikat, pembuat cetakan yang dihormati Pedro Joseph de Lemos menyederhanakan metode pembuatan drypoint di sekolah seni.[3]

Seniman kontemporer yang banyak menggunakan teknik drypoint antara lain Louise Bourgeois , Vija Celmins , William Kentridge , dan Richard Spare .

Referensi

  1. Glossary of Printmaking Terms
  2. David Milne, The Canadian Encyclopedia
  3. Edwards, Robert W. (2015). Pedro de Lemos, Lasting Impressions: Works on Paper. Worcester, Mass.: Davis Publications Inc. hlm. 66–67, 91 notes 353–354. ISBN 9781615284054.

Pranala luar

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Drypoint prints.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan