Dimyathi Syafi'ie | |
|---|---|
K.H. Dimyathi Syafi'ie (1912–1959) | |
| Lahir | Muhibbut Thobari 1912 |
| Meninggal | 1959 (umur 47) Makkah, Arab Saudi |
| Pendidikan |
|
| Pekerjaan | Ulama, Pengasuh Pesantren, Pejuang Kemerdekaan |
| Era | Abad ke-20 |
| Organisasi | Nahdlatul Ulama |
| Gelar | Rais Syuriah PCNU Blambangan Banyuwangi Pertama (1944–1959) |
K.H. Dimyathi Syafi'ie (lahir dengan nama Muhibbut Thobari; 1912 – 1959) adalah seorang ulama, pejuang kemerdekaan, dan tokoh Nahdlatul Ulama asal Banyuwangi. Ia merupakan pendiri Pondok Pesantren Kepundungan di Srono, Banyuwangi, serta menjabat sebagai Rais Syuriah Pertama Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Blambangan Banyuwangi sejak tahun 1944 hingga wafatnya. Pada masa revolusi fisik, ia bertindak sebagai Komandan Laskar Hizbullah wilayah Blambangan.[1]
Nasab dan kehidupan awal
Dimyathi lahir pada tahun 1912 M di Desa Wonokromo, Pleret, Bantul, Yogyakarta dengan nama kecil Muhibbut Thobari. Ia merupakan putra dari Kyai Syafi'i dan Nyai Munthosiroh. Dari jalur ayahnya, nasabnya tersambung hingga Kyai Istad Sepuh Bleberan, Kyai Hasan Mubarok, Kyai Ageng Minak, Kyai Ageng Kalimundu, hingga Kyai Landoh (Syekh Jangkung). Menurut sebagian riwayat, silsilahnya masih memiliki keterikatan keturunan dengan Sunan Gunung Jati melalui jalur Sultan Cirebon / Syaikh Abdul Karim yang dimakamkan di Astana Girilaya.
Saat berusia 5 tahun, ayahnya wafat. Ia kemudian diasuh dan dibimbing ilmu agamanya oleh pamannya, Kyai Kholil Wonokromo (seorang murid dari Kyai Sholeh Darat). Pada tahun 1922 (usia 10 tahun), ia diajak ibunya berpindah menetap ke tanah Blambangan, Banyuwang[2]i.
Pendidikan
Dengan semangat menuntut ilmu yang tinggi, Dimyathi rela menjual tanah sawah warisannya kepada tetangganya untuk dibelikan kitab-kitab agama. Pendidikan pesantren yang pernah ditempuhnya antara lain:
- Pesantren Cemoro, Banyuwangi (di bawah asuhan K.H. Abdulloh Faqih) selama kurang lebih 1 tahun.
- Pesantren Damsari, Sempu, Genteng (di bawah asuhan K.H. Abdulloh Syuja') selama 3 tahun. Di pesantren ini, kakaknya yang bernama Marjuned wafat karena hanyut di Sungai Setail.
- Pondok Pesantren Tremas, Pacitan (di bawah bimbingan K.H. Dimyathi Tremas) selama 7 tahun sejak tahun 1926. Untuk mencukupi kebutuhan hidup dan kitabnya selama di Tremas, ia bekerja sebagai buruh penyalin kitab.
Sekembalinya dari Pacitan pada tahun 1934 (usia 22 tahun) atas permintaan ibunya, ia mengganti namanya menjadi Dimyathi sebagai bentuk penghormatan (tabarruk) kepada gurunya di Tremas.[butuh rujukan]
Perjuangan dan kiprah
Modernisasi pendidikan pesantren
Pada tahun 1934, K.H. Dimyathi mendirikan Pondok Pesantren Kepundungan di Srono, Banyuwangi. Selain mengajar dengan metode tradisional (*sorogan* dan *bandongan*), ia bersama Kyai Achyad Irsyad memodernisasi sistem pendidikan pesantren pada tahun 1939 melalui pendirian **Madrasah Nahdlatut Thullab**, madrasah pertama di Kabupaten Banyuwangi yang menerapkan sistem klasikal.
Perjuangan kemerdekaan dan Laskar Hizbullah
Sebagai Komandan Laskar Hizbullah wilayah Blambangan (Banyuwangi selatan), K.H. Dimyathi memimpin para santri dan rakyat mengobarkan semangat jihad melawan penjajah. Merespons deklarasi Resolusi Jihad oleh Hasyim Asy'ari, ia berkoordinasi dengan ulama Banyuwangi lainnya seperti K.H. Askandar Berasan, K.H. Abdul Mannan, dan K.H. Masrur Tegalpare.[butuh rujukan]
Akibat aktivitas perlawanan tersebut:
- Pasukan Belanda membakar habis bangunan Pondok Pesantren Kepundungan yang dicurigai sebagai markas pergerakan Laskar Hizbullah. Peristiwa ini melenyapkan kompleks pesantren beserta kitab-kitab dan manuskrip karya tulisnya.
- K.H. Dimyathi ditangkap Belanda dan ditahan selama 27 bulan hingga pertengahan tahun 1949. Rencana eksekusi mati terhadapnya batal dilaksanakan karena berkas dokumen pidananya hilang.[3]
Organisasi dan keumatan
Pada tahun 1944, K.H. Dimyathi terpilih sebagai Rais Syuriah Pertama PCNU Kabupaten Banyuwangi dan menjabat hingga akhir hayatnya. Di bawah kepemimpinannya, Pesantren Kepundungan kerap dikunjungi oleh tokoh-tokoh nasional dan pejabat negara, seperti Menteri Agama RI pertama Wahid Hasyim, Saifuddin Zuhri, dan Muhammad Dahlan.[butuh rujukan]
Karya tulis
Sebagian besar karya tulis K.H. Dimyathi musnah saat peristiwa pembakaran pesantren oleh tentara Belanda. Beberapa karya tulisnya yang berhasil terselamatkan antara lain:
- Syi'ir Jawen Li Mau'idhoti As-Shibyan (Syi'ir bahasa Jawa berisi nasihat untuk pemuda/anak-anak)
- Syi'ir Safinatun Najah (Syi'ir bahasa Jawa pengantar kitab Safinah)
Wafat
Pada tahun 1959, K.H. Dimyathi berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Ia wafat di Tanah Suci dalam usia 47 tahun dan dimakamkan di Makkah. Pengasuhan Pondok Pesantren Kepundungan selanjutnya diteruskan oleh keluarga dan murid-muridnya.{cn}}
Referensi
- ↑ "KH. Dimyathi Syafi'e". Laduni.id. Diakses tanggal 2026-08-22.
- ↑ "KH. Dimyati Syafii". Bimas Islam Kemenag Kabupaten Banyuwangi. 2021-09-26. Diakses tanggal 2026-08-22.
- ↑ "Komandan Hizbullah Pendiri Madrasah Pertama di Blambangan Selatan". NU Online. Diakses tanggal 2026-08-22.