Minggu, 27 September 2026
08:12 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG

Developmentalisme

teori ekonomi yang menyatakan bahwa pembangunan negara-negara Dunia Ketiga dapat diwujudkan dengan baik melalui pasar dalam negeri yang kuat dan beragam dan tarif barang impor yang tinggi.

Developmentalisme adalah teori ekonomi yang menyatakan bahwa pembangunan negara-negara Dunia Ketiga dapat diwujudkan dengan baik melalui pasar dalam negeri yang kuat dan beragam dan tarif barang impor yang tinggi.

Developmentalisme adalah pemikiran lintas disiplin[1] yang menjadikan pembangunan sebuah strategi utama menuju kemakmuran ekonomi. Pemikiran ini muncul sebagai tanggapan atas upaya Amerika Serikat untuk membendung komunisme dan mengurus gerakan pembebasan nasional di Asia dan Afrika.[1] Developmentalisme dalam konteks ekonomi internasional dapat dipahami sebagai kumpulan ide yang bersama-sama menempatkan pembangunan ekonomi di tengah proses politik dan lembaga serta cara untuk menciptakan legitimasi politik. Pendukung teori developmentalisme berpendapat bahwa perkembangan kesuksesan ekonomi di negara berkembang (terutama di Amerika Latin dan Asia Timur) memicu terbentuknya pemerintahan sah yang dipimpin para tokoh politik yang mendapatkan manfaat dari kesepakatan bersama mengenai siapa yang harus memimpin dan bagaimana mereka harus berperilaku di dunia internasional. Developmentalis percaya bahwa otonomi nasional di negara-negara Dunia Ketiga dapat dicapai dan dipertahankan melalui pemanfaatan sumber daya luar oleh negara-negara kapitalis. Dalam definisi tersebut, developmentalisme merupakan paradigma yang digunakan untuk memutar balik dampak negatif ekonomi internasional terhadap negara berkembang pada tahun 1950-an sampai 1960-an, masa ketika negara-negara Amerika Latin mulai menerapkan strategi substitusi impor. Dengan teori ini, pembangunan ekonomi dirancang mengikuti kriteria Barat modern: kesuksesan ekonomi diciptakan mengikuti pemikiran kapitalisme bahwa sebuah negara perlu berkembang, otonom, dan berdiri secara sah.[2]

Teori ini didasarkan pada asumsi bahwa selain tiga tahap pembangunan untuk semua negara, ada satu gerakan linier dari satu tahap ke tahap lain yang merentang dari ekonomi tradisional atau primitif ke ekonomi modern atau terindustrialisasi.[3]

Contoh

Kebijakan-kebijakan di atas ini berubah fokus dari rekonstruksi ke pembangunan, kemudian ke pengentasan kemiskinan. Peralihan fokus ini memunculkan tuntutan intervensi pembangunan secara global dan peralihan program bantuan Amerika Serikat dari eksploitasi ke pembangunan. Selain itu, kebijakan ini menciptakan norma dan statistik bagi donor internasional.

Lihat pula

Referensi

  1. 1 2 Smith, Tony "Requiem or New Agenda for Third World Studies?" World Politics, Vol. 37, No. 4 (July 1985), pp. 533–534
  2. ↑ Yü, Bin, Yu, Bin, and Chung, Tsungting "Dynamics and Dilemma: Mainland, Taiwan and Hong Kong in a Changing World", Nova Publishers, Taiwan, 1996, pp. 22–24
  3. ↑ Smith, Tony "Requiem or New Agenda for Third World Studies?" World Politics, Vol. 37, No. 4 (Jul., 1985), pp.537
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan