Sabtu, 24 Oktober 2026
04:09 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada

Demokrasi defensif

Bagikan:

Demokrasi defensif adalah konsep yang menegaskan perlindungan sistem politik dari ancaman internal yang dapat menghancurkannya. Gagasan ini lahir dari pengalaman Eropa pada abad ke-20, ketika kebebasan justru dimanfaatkan oleh kelompok otoriter untuk menghancurkan demokrasi dari dalam. Hal ini menunjukkan bahwa demokrasi tidak cukup hanya dengan partisipasi rakyat, tetapi juga membutuhkan instrumen hukum untuk mencegah hadirnya gerakan yang mengancam tatanan konstitusional. [1]

Praktik demokrasi defensif biasanya melibatkan pembatasan, pengawasan, dan regulasi terhadap kelompok atau aktivitas yang dianggap berbahaya bagi negara konstitusional. Sebagai contoh nyata dapat dilihat di Jerman, yang melarang partai politik dengan ideologi Nazi demi mencegah kebangkitan otoritarianisme. Namun, penerapan serupa sering menimbulkan dilema di negara lain. Di Indonesia, perdebatan soal wacana pembubaran organisasi tertentu dan pengaturan ruang digital memunculkan perdebatan tentang batas antara menjaga demokrasi dan membatasi kebebasan sipil. Ketegangan ini memperlihatkan bahwa demokrasi defensif selalu berhadapan dengan tarik menarik kepentingan politik. Dengan kata lain, langkah-langkah protektif akan efektif apabila diterapkan dengan dasar hukum yang kuat, tetapi dapat menurunkan tingkat kebebasan sipil bila diterapkan secara berlebihan.

Keberhasilan demokrasi defensif sangat bergantung pada kepastian hukum, prinsip proporsionalitas, dan pengawasan independen. Di satu sisi, ia mampu menjaga stabilitas politik dan mencegah kembalinya ideologi antidemokratis. Namun di sisi lain, instrumen ini dapat disalahgunakan jika tidak diatur dengan prinsip proporsionalitas dan transparansi. Oleh karena itu, perlindungan demokrasi hanya akan sah jika tetap selaras dengan nilai kebebasan sehingga tidak berubah menjadi otoritarianisme yang justru melemahkan demokrasi itu sendiri. [2]

Referensi

  1. ↑ Loewenstein, Karl (1937-06). "Militant Democracy and Fundamental Rights, I". American Political Science Review (dalam bahasa Inggris). 31 (3): 417–432. doi:10.2307/1948164. ISSN 1537-5943.{{cite journal}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=
  2. ↑ "Marking 50 Years in the Struggle for Democracy". Freedom House (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-10.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan