Minggu, 08 November 2026
20:31 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis

Debasement

Bagikan:

Debasement adalah praktik merendahkan nilai mata uang. Praktik tersebut biasanya dilakukan berkenaan dengan uang komoditas seperti koin emas atau perak. Koin dikatakan debased jika kadar emas, perak, perunggu atau nikel dikurangi.

Contoh

Contohnya, nilai denarius dalam mata uang Romawi secara bertahap berkurang sepanjang waktu saat pemerintah Romawi mengubah ukuran dan kadar perak dari sebuah koin. Awalnya, perak yang digunakan nyaris murni, dengan berat sekitar 4.5 gram. Dari waktu ke waktu, nilainya berkurang. Pada masa dinasti Julio-Claudia, Denarius memiliki kadar sekitar 4 gram perak, dan kemudian berkurang menjadi 3.8 gram di bawah masa pemerintahan Nero. Denarius makin berkurang ukuran dan kemurniannya, sampai pada paruh kedua dari abad ketiga, kabarnya hanya sekitar 2% perak, dan digantikan oleh Argenteus.[1]

Karena peningkatan kekayaan, kekaisaran Wijayanagara mengeluarkan koin emas dalam jumlah besar. Harihara-I dan Bukka (pendiri kekaisaran Wijayanagara di India Selatan) mencetak koin-koin emas menggunakan emas debased. Fanam emas (sebuah jenis dari koin) dan turunan-turunannya dicetak untuk media transaksi akhir.[2]

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ "Archived copy". Diarsipkan dari asli tanggal 2015-11-28. Diakses tanggal 2015-12-01.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Salinan terarsip sebagai judul (link)
  2. ↑ http://www.forumancientcoins.com/india/vijayngr/vij_coinage.html


Ikon rintisan

Artikel bertopik ekonomi ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan