Senin, 02 November 2026
15:08 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare
Daun kentut

Daun kentut

spesies tumbuhan

Bagikan:
Sembukan
250px-Starr_001101-0044_Paederia_foetida.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Plantae
Klad: Tracheophyta
Klad: Angiospermae
Klad: Eudikotil
Klad: Asteridae
Ordo: Gentianales
Famili: Rubiaceae
Genus: Paederia
Spesies:
P. foetida
Nama binomial
Paederia foetida
Sinonim[2]

Daun kentut (Paederia foetida) merupakan spesies tumbuhan menahun dari famili Rubiaceae (suku kopi-kopian). Spesies ini memiliki kebiasaan tumbuh memanjat. Tanaman ini berasal dari bioma beriklim sedang dengan rentang sebaran mulai dari Nepal timur hingga Jepang dan kawasan Malesia.[3] Di Indonesia, daun kentut memiliki beberapa nama, antara lain ada yang menyebutnya sembukan atau simbuan (Jawa),[4] kahitutan (Sunda), atau bintaos (Madura). Nama ilmiahnya pertama kali dipublikasikan oleh botanis Carolus Linnaeus dalam Species Plantarum tahun 1767.[5]

Pemerian

Paederia foetida adalah tanaman tahunan yang tumbuh cepat, ramping, dan merambat. Batangnya sepanjang 1,5 - 7 meter yang melilit tanaman lain untuk menopang dirinya. Seluruh bagiannya mengeluarkan aroma busuk ketika diremas. Daun kentut adalah tanaman obat yang populer di Timur, ia biasanya dikumpulkan dari alam liar dan juga dibudidayakan. Tumbuhan ini dijual sebagai ramuan obat di pasar lokal dan juga sering ditanam sebagai tanaman hias.[6]

Sebaran dan habitat

Tumbuhan ini tersebar di wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara: Cina bagian selatan dan timur, Jepang, Korea, anak benua India, Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Malaysia, Indonesia, Filipina.[6]

Daun kentut tumbuh di semak belukar dan hutan, juga di sepanjang tepi hutan, di hutan sekunder yang selalu hijau hingga berganti daun, dan di lahan terbuka di hutan primer. Ia juga tumbuh di vegetasi pegunungan hingga ketinggian 3.000 meter, di lereng hutan yang curam, atau di pantai berpasir atau berbatu.[6]

Kegunaan

Daun kentut dapat dikonsumsi sebagai makanan manusia, antara lain untuk lalapan dan sayuran. Di Jawa Timur, ia dijadikan masakan pelas atau gembrot sembukan. Sering dimasak bersama kelapa parut berbumbu yang disebut botok. Tanaman ini juga memiliki khasiat sebagai obat tradisional. Ia disebut memiliki sejumlah khasiat, antara lain antiinflamasi, antidiuretik, karminatif, obat sakit lambung (maag), gangguan usus, obat disentri, obat sakit mata, sakit telinga, buang air kecil tidak lancar, rematik, serta obat kurap.[4]

Referensi

  1. ↑  Spesies ini pertama kali dideskripsikan secara botani dan dipublikasikan dalam Mantissa Plantarum 1: 52. 1767. "Name - Paederia foetida L." Tropicos. Saint Louis, Missouri: Missouri Botanical Garden. Diakses tanggal 9 Agustus 2010.
  2. ↑ "Daun kentut". Germplasm Resources Information Network (GRIN) online database. Diakses tanggal 9 Agustus 2010.
  3. ↑ "Paederia foetida L." Plants of the World Online (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-24.
  4. 1 2 "Paederia foetida". www.socfindoconservation.co.id. Diakses tanggal 2025-11-24.
  5. ↑ "Paederia foetida". plantamor.com. Diakses tanggal 2025-11-24.
  6. 1 2 3 "Paederia foetida - Useful Tropical Plants". tropical.theferns.info. Diakses tanggal 2025-11-24.


Ikon rintisan

Artikel bertopik tumbuhan ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan