Kamis, 08 Oktober 2026
22:57 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya
Heungseon Daewongun

Heungseon Daewongun

Bagikan:
250px-Heungseon_Daewongun_Portrait.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Heungseon Daewongun

Heungseon Daewongun atau Pangeran Heungseon (흥선대원군;興宣大院君) adalah ayah dari Raja Gojong, yang naik tahta tahun 1863 sebagai raja ke-26 Dinasti Joseon.[1] Heungseon Daewongun tidak dilahirkan sebagai seorang pangeran namun mendapatkan gelar Daewongun (pangeran) karena diangkatnya Gojong sebagai raja.[1] Sebagai pengendali Gojong yang masih berusia 12 tahun, ia menjadi pemimpin de facto Joseon dan mengendalikan kekuatan negara selama sepuluh tahun.[1]

Heungseon Daewongun meyakini bahwa ia harus mengeliminasi musuh dalam negeri dan menyatukan masyarakat agar dapat menghadapi kekuatan asing.[1] Ia memerintahkan pengeksekusian ribuan umat Katolik di Korea guna mencegah terjadinya pembangkangan.[1] Ia juga membuat kebijakan reformasi pajak untuk mencegah penindasan dan eksploitasi terhadap para petani oleh bangsawan, yang merupakan penyebab utama dari perlawanan petani di Joseon.[1] Dalam pandangannya, raja adalah kekuatan untuk membuat negara yang tersentralisasi, dan kebijakan politiknya dimaksudkan untuk merealisasikan visi bagi pendirian kerajaan.[1] Programnya untuk merestorasi Istana Gyeongbok secara besar-besaran dimaksudkan untuk meningkatkan otoritas kerajaan.[1]

Pada tahun 1866 dan 1871, dua buah insiden meletus antara Joseon dengan Amerika Serikat dan Prancis.[1] Prancis dan Amerika Serikat meminta Joseon membuka pintu dan menjalin hubungan dagang dan budaya dengan dunia luar, tetapi Heungseon Daewongun menolak dengan asumsi bahwa negosiasi dengan negara asing sama dengan mengkhianati kepentingan negara.[1] Setelah Restorasi Meiji pada tahun 1868, Jepang pun meminta Korea membuka diri, tetapi ditolak oleh Heungseon Daewongun.[1] Ia bersikeras bahwa pihak asing hanya akan memanfaatkan kepentingan Joseon.[1]

Pada tahun 1873, Raja Gojong mulai mengambil alih kekuasaan dan memaksa ayahnya untuk pensiun.[1] Pada tahun 1876, Gojong menandatangani Perjanjian Ganghwa dan membuka Korea untuk Jepang.[1] Terdapat banyak pihak yang menentang kebijakan Heungseon Daewongun untuk menutup negara dari pihak asing, salah satunya adalah Gojong.[1] Dengan terbukanya Joseon terhadap dunia luar, maka teknologi dan kebudayaan baru dapat diperkenalkan.[1] Namun, perjanjian Ganghwa tahun 1876 adalah paksaan yang menyebabkan Korea kehilangan statusnya di dunia internasional.[1]

Lihat pula

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 (Inggris) Yukhoon, Kim (2007). Korean History for International Citizens. Northeast Asian History Foundation, Seoul, Republic of Korea. hlm. 58–60. ISBN 978-89-91448-90-2.


Ikon rintisan

Artikel bertopik biografi tokoh ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan