Sabtu, 10 Oktober 2026
05:16 WIB
TERKINI
Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Hukum Polemik Dokumen Pencalonan Gibran: KPU Didesak Transparan Pasca Putusan MK Hiburan Syahrini Kembali Guncang Panggung Musik: Rilis Lagu Baru dan Gebrak Pestapora 2026 Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober Hukum Pujianto Divonis 8 Bulan Penjara: Perdagangan Ajinomoto Palsu Merugikan Konsumen Lampung Lampung Diprediksi Cerah Berawan, Hujan Lokal Sambangi Beberapa Wilayah Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Hukum Polemik Dokumen Pencalonan Gibran: KPU Didesak Transparan Pasca Putusan MK Hiburan Syahrini Kembali Guncang Panggung Musik: Rilis Lagu Baru dan Gebrak Pestapora 2026 Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober Hukum Pujianto Divonis 8 Bulan Penjara: Perdagangan Ajinomoto Palsu Merugikan Konsumen Lampung Lampung Diprediksi Cerah Berawan, Hujan Lokal Sambangi Beberapa Wilayah
Cur Deus homo

Cur Deus homo

Bagikan:
Cur Deus homo
250px-Ms_224_anselm.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Bagian awal prolog dari Cur Deus Homo,
dari manuskrip abad ke-12 yang disimpan di Istana Lambeth
PengarangAnselmus dari Canterbury
GenreEsai
Diterbitkan1098

Cur Deus homo ("Mengapa Allah [menjadi] manusia") adalah judul dari karya teologi yang ditulis oleh biarawan dan filsuf Kristen, Anselmus dari Canterbury, pada tahun 1098. Karya ini, yang oleh sebagian orang dianggap sebagai karya terbesar Anselmus,[1] menjelaskan bagaimana, sebagai akibat dari kesalahan yang dilakukan oleh manusia terhadap Allah dalam peristiwa dosa asal, Allah mendamaikan diri dengan manusia melalui perantaraan Yesus, yang memiliki natur manusia dan ilahi secara bersamaan. Konsep mengenai dua natur dalam perantaraan keselamatan universal sudah ada dalam pengajaran Athanasius dari Aleksandria. Anselmus menambahkan bahwa kematian di salib dan kebangkitan dibutuhkan agar karya penyelamatan ini dapat diselesaikan.

Argumen utama Anselmus adalah bahwa hanya seorang Allah-manusia yang dapat menyelesaikan penebusan ini, karena manusia tidak bisa memenuhi tuntutan keadilan ilahi, sementara Allah tidak dapat berdosa dan karena itu tidak bisa menyerahkan diri-Nya sebagai kurban.

Latar belakang

Anselmus memulai penulisan karya yang kemudian menjadi Cur Deus Homo pada waktu ia berada di Inggris, tempat ia menjabat sebagai Uskup Agung Canterbury di bawah pemerintahan Raja William II. Namun, akibat ketegangan dengan kekuasaan politik, Anselmus diasingkan pada tahun 1097 dan tidak dapat menyelesaikan tulisannya sampai musim panas tahun 1098, saat ia tinggal bersama Abbas Giovanni dari Telese di Italia.[2]

Karya ini sangat kental dengan corak teologis dan membahas isu-isu yang bersifat dogmatis dan doktrinal. Karena itu, karya ini berbeda dengan beberapa tulisan Anselmus sebelumnya—seperti Monologion dan Proslogion—yang lebih bersifat filosofis.[3] Meskipun demikian, secara metodologis, Anselmus tetap mempertahankan pandangannya (diringkas dalam ungkapan fides quaerens intellectum, "iman yang mencari pemahaman") bahwa selain iman, rasio juga memegang peranan penting, baik untuk menjernihkan isi kepercayaan maupun untuk menunjukkan mengapa hal-hal itu layak dipercaya.[3][4]

Isi

Cur Deus homo ditulis dalam bentuk dialog antara Anselmus dan muridnya Boso. Di dalamnya, Anselmus mengungkapkan bagaimana, karena manusia tidak mampu menebus dosa Adam dan Hawa terhadap Allah, Allah mendamaikan umat manusia dengan cara menjelma menjadi manusia.[5] Karya ini juga memuat sebuah pembelaan terhadap dogma Kristen mengenai inkarnasi Allah (yang menjelma menjadi manusia dalam diri Yesus) terhadap kritik dari orang Yahudi dan Muslim. Gagasan tentang Allah yang menjelma menjadi manusia dan merendahkan diri hingga mati di salib memang dianggap tidak masuk akal oleh banyak orang yang tidak menganut agama Kristen.[3] Masalah dan cara penyelesaiannya dirangkum oleh Anselmus melalui dialog tanya jawab berikut:

(Bahasa Latin)
Boso: Obiciunt nobis deridentes simplicitatem nostram infideles quia deo facimus iniuriam et contumeliam, cum eum asserimus in uterum mulieris de scendisse, natum esse de femina, lacte et alimentis humanis nutritum creuisse, et – ut multa alia taceam quae deo non uidentur conuenire – lassitudinem, famem, sitim, uerbera et inter latrones crucem mortemque sustinuisse.
[...]

Anselmus: Sicut per hominis inoboedientiam mors in humanum genus intrauerat, ita per hominis oboedientiam uita restitueretur. Et quemadmodum peccatum quod ruit causa nostrae damnationis, initium habuit a femina, sic nostrae iustitiae et salutis auctor nasceretur de femina. Et ut diabolus, qui per gustum ligni quem persuasit hominem uicerat, per passionem ligni quam intulit ab homine uinceretur

(Bahasa Indonesia)
Boso: Orang-orang yang tidak beriman mengejek kesederhanaan kita, dengan mengatakan bahwa kita melakukan penghinaan dan pelecehan terhadap Allah, karena kita mengklaim bahwa Dia turun ke dalam rahim seorang wanita, dilahirkan oleh seorang perempuan, dibesarkan dengan susu dan makanan manusia, dan—untuk tidak menyebutkan banyak hal lain yang tampaknya tidak pantas bagi Allah—Dia menanggung kelelahan, rasa lapar, rasa haus, cambukan, serta menderita salib dan mati di antara para penjahat.
[...]

Anselmus: Seperti kematian masuk ke dalam umat manusia melalui ketidaktaatan manusia, demikian juga kehidupan harus dipulihkan melalui ketaatan manusia. Dan sebagaimana dosa yang menjadi penyebab kebinasaan kita berasal dari seorang wanita, demikian pula pembawa keadilan dan keselamatan kita harus lahir dari seorang wanita. Dan, seperti iblis mengalahkan manusia dengan membujuknya untuk mencicipi buah dari pohon, demikian juga ia harus dikalahkan oleh manusia melalui penderitaan yang ditanggung di atas salib.

Referensi

  1. ↑ "ANSELMO d'Aosta, santo - Enciclopedia". Treccani (dalam bahasa Italia). Diakses tanggal 2025-12-04.
  2. ↑
  3. 1 2 3
  4. ↑
  5. ↑ {{citation}}: Kutipan kosong
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan