Artikel ini membutuhkan lebih banyak rujukan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus. Cari sumber: "Cornel Simanjuntak" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR (November 2025) |
Cornel Simanjuntak | |
|---|---|
| Lahir | 1921 |
| Meninggal | 15 September 1946 (umur 25) |
Penyebab kematian | Tuberkulosis |
Tempat pemakaman | Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara, Yogyakarta |
| Kewarganegaraan | Indonesia |
| Dikenal karena | Komponis dan Pencipta lagu patriotik Indonesia |
Cornel Simanjuntak (lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara, 1921 - meninggal di Yogyakarta, 15 September 1946 (umur 25) adalah seorang pencipta lagu-lagu heroik dan patriotik Indonesia berdarah Batak. Ia dianggap sebagai tokoh yang membawa bibit unggul perkembangan musik Indonesia.
Riwayat hidup
Masa Pra-Kemerdekaan
Cornel Simanjuntak yang beragama Katolik dilahirkan di Pematang Siantar tahun 1921 dari keluarga pensiunan polisi kolonial. Cornel tamatan HIS St. Fransiscus Medan, 1937, HIK Xaverius College Muntilan 1942.[1] Kemudian Ia menjadi guru di Magelang beberapa bulan. Pindah ke Jakarta, Ia menjadi guru SD Van Lith. Namun, karena bakat seninya lebih garang, ia beralih profesi ke Kantor Kebudayaan Jepang, Keimin Bunka Shidosho. Di sanalah ia menciptakan lagu propaganda Jepang antara lain: Menanam Kapas, Bikin Kapal, Menabung — yang paling populer di antaranya berjudul Hancurkanlah Musuh Kita. Guru musiknya adalah Pater J. Schouten dan Ray serta juga mendiang Sudjasmin.
Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan
Cornel memiliki sejumlah pengalaman perang. Pada tahun 1945-1946, ia mengarahkan moncong senjatanya kepada tentara Gurkha/Inggris. Malang, dalam sebuah pertempuran di daerah Senen - Tangsi Penggorengan Jakarta, pahanya tertembak. Dirawat di RSUP. Belum sembuh benar, ia diselundupkan ke Karawang karena Gurkha melakukan pembersihan.
Dari Karawang ia dikirim ke Yogyakarta. Di kota inilah kemudian lahir lagu-lagu yang heroik dan patriotik. Antara lain: Tanah Tumpah Darah, Maju Tak Gentar, Pada Pahlawan, Teguh Kukuh Berlapis Baja, Indonesia Tetap Merdeka.
Peluru di paha Cornel konon tetap bersarang ketika penyakit kronis TBC menyerangnya — dan langsung menumbangkannya ke liang lahat. Ia meninggal pada tanggal 15 September 1946 di Sanatorium Pakem, Yogyakarta,[1] dalam status perjaka. Ia dimakamkan di Pemakaman Kerkop Yogyakarta.
Menjelang maut Cornel masih sempat mengangkat telepon untuk menyampaikan pesan, tidak diketahui kepada siapa dan pesannya, tapi ia sudah jatuh terlebih dahulu, dan mata serta mulutnya menjadi kaku. Menurut rekannya sesama pejuang, Karkono Kamajaya, menjelang ajal ia masih sempat menulis lagu bernama Bali Putra Indonesia. Lagu yang ditulis dengan gamelan itu belum selesai.
Pemindahan makam

Pemindahan Cornel ke Taman Makam Pahlawan sebenarnya sudah diusulkan sejak September 1978. Usulan tersebut sempat mengalami kesulitan, karena beberapa instansi meminta data-data berupa bintang jasa yang ada. Pada kenyataannya, Cornel tidak sebiji pun mengantongi persyaratan itu. Ia hanya mewariskan tanda kehormatan Piagam Satyalancana Kebudayaan yang dianugerahkan tahun 1961 oleh Pemerintah Indonesia. Letkol Suharsono S., Dandim 0734 Yogyakarta, menganggap Satyalancana itu setingkat dengan Bintang Gerilya atau bintang-bintang lainnya. Jadi bisa dipakai sebagai tiket masuk Mahkam Pahlawan, selama ada izin keluarga.
Usul yang didalangi para seniman yang tergabung dalam "Sasana Vocalia Yogya" pimpinan Suyudono H.R tersebut, akhirnya jadi lancar ketika KSAD Jenderal Widodo memberikan persetujuannya.
Dari Kerkop, kerangka sempat diinapkan di Art Gallery Senisono di samping Gedung Agung. Prosesi formal pemindahan kerangka digelar pada 10 November 1978. Selama prosesi tersebut, lagu-lagu ciptaanya berkumandang terus-menerus dibawakan oleh sejumlah anak-anak dari Paduan Suara Bocah Bocah Sasana Vokalia. Serentetan tembakan salvo mendampingi prosesi ketika sisa-sisa tubuh Cornel dimasukkan ke dalam liang lahat.
Karya
- Bungaku
- Indonesia Tetap Merdeka
- Kemuning
- Kupinta Lagi
- Maju Indonesia
- Maju Tak Gentar
- Mekar Melati
- O Ale Alogo
- Oh, Angin
- Pada Pahlawan
- Sorak Sorak Bergembira
- Tanah Tumpah Darahku
- Tjitra
- Topan

Tanda kehormatan
Indonesia
Bintang Mahaputera Nararya (25 Agustus 2025)[2]
Referensi
- 1 2 Ibrahim, Muchtaruddin; Riama, Espita; Maryam, Andi; Buchori, Sanggupri; Haryono, P Suryo; Wulandari, Triana; Gunawan, Restu (200). Ensiklopedi Tokoh Kebudayaan V (PDF). Jakarta: CV Putra Prima.
{{cite book}}:|first2=tidak memiliki|last2=;|first3=tidak memiliki|last3=Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Negara, Kementerian Sekretariat. "Presiden Prabowo Anugerahkan Tanda Kehormatan Kepada 141 Tokoh | Sekretariat Negara". www.setneg.go.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-08-26.
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Lain-lain | |