Sabtu, 07 November 2026
21:42 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis
Citraan

Citraan

Bagikan:
250px-IMG_Hoffmannswaldau.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Halaman judul buku Herrn von Hoffmannswaldau und andrer Deutschen auserlesene und biBher ungedruckte Gedichte karya Christian Hoffmann von Hoffmannswaldau, diterbitkan di Leipzig pada tahun 1695. Buku ini merupakan kumpulan puisis dalam sastra Jerman yang memuat karya-karya pusisi dari periode Barok, yang menggunakan unsur bahasa puitis seperti gambaran dan ungkapan imajinatif.

Citraan adalah salah satu sarana kepuitisan yang digunakan oleh penyair untuk memperkuat gambaran pikiran dan perasaan pembaca.[1] Sarana ini berkaitan erat dengan pengalaman inderawi penyair atas objek-objek yang disebutkan atau diterangkan dalam puisi.[1] Guna tercapai kesinambungan maksud, pengalaman pembaca juga menjadi bagian dari sebuah proses pemahaman puisi.[1] Citraan bersifat deskriptif dan imajinatif yang diwujudkan dalam bentuk kebendaan melalui kata.[2] Jika dilihat dari fungsinya, maka hadirnya sebuah citraan bisa mengundang kembali ingatan pembaca atas berbagai pengalaman inderawi yang pernah dirasakan.[3] Oleh karena itu, kehadiran citraan tidak membawa kesan baru dalam pikiran melainkan melibatkan pembaca untuk terlibat dalam kreasi puitis.[3] Dalam membangun sebuah citraan yang menggugah perasaan, seorang penyair dapat melakukannya dengan dua cara, yaitu melalui deskripsi dan perlambangan (metafora).[4]

Jenis-jenis Citraan

Gambaran Citraan ada bermacam-macam, baik itu berkenaan dengan indra maupun gerak.[5] Berikut ini beberapa jenis Citraan:

  1. Citraan Penglihatan (Visual Imagery)[2]
  2. Citraan Pendengaran (Auditory Imagery)[2]
  3. Citraan Perabaan (Tactile Imagery)[2]
  4. Citraan Gerak (Kinaesthetic Imagery)[2]
  5. Citraan Penciuman (Olfactory Imagery)[2]
  6. Citraan Pengecapan (Gustatory Imagery)[2]

Citraan Penglihatan

Citraan Penglihatan merupakan Citraan yang bersentuhan dengan indra penglihatan.[5] Citraan penglihatan merupakan jenis yang paling banyak ditemukan dalam puisi.[5] Rangsangan yang distimulus oleh citraan penglihatan mata kepada indra penglihatan tidak akan menjadikan bayangan imajinasi yang tidak terlihat seolah-olah nyata.[5]

Citraan Pendengaran

Citraan Pendengaran juga merupakan Citraan yang sering muncul dalam puisi dan dihadirkan dengan mengurai atau mendeskripsikan bunyi.[6] Penyair yang sering menggunakan jenis citraan ini disebut sebagai penyair auditif.[6]

Citraan Perabaan

Citraan Perabaan berkenaan dengan aktivitas perabaan.[7] Citraan Perabaan berkenaan dengan Citraan Gerak bahwa melalui Citraan ini, kita seolah-olah dihadapakan dengan sebuah benda padat dan selanjutnya dapat dipegang.[8]

Citraan Gerak

Kehadiran Citraan gerak bisa menimbulkan hal yang ditandai terkesan bergerak.[9] Hal yang digambarkan bergerak sebenarya tidak bergerak tetapi dilukiskan bergerak shingga terlihat hidup dan dinamis.[7]

Citraan Penciuman

Citraan ini merupakan citraan yang menonjolkan peran indra pembau.[10] Citraan ini merupakan jenis citraan yang paling jarang digunakan.[10]

Citraan Pengecapan

Citraan Pengecapan merupakan citraan yang berkenaan dengan indra pengecapan.[9] Citraan jenis ini juga digunakan dalam puisi.[10]

Dengan berbagai kategori yang telah disebutkan di atas, tidak menutup kemungkinan bila terjadi perpaduan berbagai jenis Citraan dalam sebuah puisi sekaligus.[10] Kesatuan dari berbagai Citraan di atas, akan memberi warna sebuah puisi.[10]

Referensi

  1. 1 2 3 Rachmat Djoko Pradopo. Pengkajian Puisi. Gadjah Mada University Press. hlm. 80.
  2. 1 2 3 4 5 6 7 "Contoh-contoh Citraan dalam Puisi". AnneAhira. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-04-07. Diakses tanggal 4 April 2014.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. 1 2 "Puisi". Siswapedia. Diakses tanggal 5 April 2014.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ Suminto A. Sayuti. Perkenalan dengan Puisi. Gama Gramedia. hlm. 173.
  5. 1 2 3 4 Rachmat Djoko Pradopo. Pengkajian Puisi. Gadjah Mada University Press. hlm. 81.
  6. 1 2 Rachmat Djoko Pradopo. Pengkajian Puisi. Gadjah Mada University Press. hlm. 82.
  7. 1 2 Rachmat Djoko Pradopo. Pengkajian Puisi. Gadjah Mada University Press. hlm. 83.
  8. ↑ Suminto A. Sayuti. Perkenalan dengan Puisi. Gama Gramedia. hlm. 176.
  9. 1 2 Suminto A. Sayuti. Perkenalan dengan Puisi. Gama Gramedia. hlm. 174.
  10. 1 2 3 4 5 Rachmat Djoko Pradopo. Pengkajian Puisi. Gadjah Mada University Press. hlm. 85.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan