Kamis, 15 Oktober 2026
07:35 WIB
TERKINI
Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: Satpol PP Cek STNK Kendaraan Besar di SPBU Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Merosot Rp20 Ribu, Cek Rincian Lengkap per Gram Hari Ini Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 14 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan di Tanggamus Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: Satpol PP Cek STNK Kendaraan Besar di SPBU Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Merosot Rp20 Ribu, Cek Rincian Lengkap per Gram Hari Ini Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 14 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan di Tanggamus
Carmel Budiardjo

Carmel Budiardjo

aktivis dan pejuang HAM asal Britania Raya

Bagikan:
Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia. Silakan kembangkan artikel ini semampu Anda. Merapikan artikel dapat dilakukan dengan wikifikasi atau membagi artikel ke paragraf-paragraf. Jika sudah dirapikan, silakan hapus templat ini. (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
250px-Carmel_Budiardjo_%281973%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Carmel Budiardjo (1973)

Carmel Budiardjo (18 Juni 1925 – 10 Juli 2021) adalah warga negara Britania Raya yang menikah dengan orang Indonesia yang dijumpainya di Praha, Cekoslowakia, ketika ia bekerja dengan Perhimpunan Mahasiswa Internasional pada 1950. Saat itu, pemuda-pemuda Indonesia baru saja menghirup udara kebebasan setelah perjuangan merebut kemerdekaan dari tangan Belanda. Carmel lulus dari Universitas London dalam bidang ekonomi pada tahun 1946.

Pada 1951 Carmel pindah ke Indonesia bersama suaminya. Mula-mula ia bekerja untuk Departemen Luar Negeri RI dan Himpunan Sarjana Indonesia. Melalui organisasi ini, ia terkait erat dengan Partai Komunis Indonesia.

Setelah peristiwa G30S pada tahun 1965, Budiardjo, suami Carmel, ditahan oleh pemerintahan Suharto selama 12 tahun. Tak lama kemudian Carmel sendiri pun dijebloskan ke penjara selama tiga tahun tanpa pernah diadili. Pada tahun 1971, Carmel dideportasi ke Inggris.

Pada 1973 Carmel bersama dengan sejumlah temannya mendirikan TAPOL, sebuah organisasi yang dibaktikan untuk membela para tahanan politik dan hak-hak asasi manusia di Indonesia. Nama organisasinya sendiri, TAPOL, adalah akronim dari tahanan politik.

Hingga sekarang, TAPOL, dengan dukungan beberapa orang staf saja dan suatu jaringan relawan yang luas, menerbitkan Buletin TAPOL yang diterbitkan secara teratur dua bulan sekali, tanpa interupsi. Tujuan TAPOL pertama-tama adalah mengadakan kampanye demi pembebasan ratusan ribu orang tahanan politik yang dipenjarakan atas tuduhan sebagai anggota atau simpatisan Partai Komunis Indonesia. Namun kampanye TAPOL diperluas setelah sejumlah mahasiswa Indonesia ditahan setelah berbagai unjuk rasa pada 1974 dan 1978.

Pada Agustus 1975, TAPOL mengeluarkan peringatan bahwa penyerangan Indonesia ke Timor Timur akan mengakibatkan pertumpahan darah dan terror. Penyerangan itu terjadi empat bulan kemudian.

Pada tahun 1980-an, Buletin TAPOL menerbitkan banyak wawancara terinci dengan para pemimpin perlawanan di wilayah Papua Barat, para korban pelanggaran hak asasi manusia di Timor Timur, dan para aktivis hak-hak asasi manusia di Indonesia.

Selain menerbitkan bulletin dan Laporan Berkala, TAPOL juga menerbitkan sejumlah buku, antara lain, An Act of Genocide: Indonesia’s Invasion of East Timor (Genosida: Penyerangan Indonesia atas Timor Timur) (1979), West Papua: The Obliteration of a People (Papua Barat: Pemusnahan Suatu Bangsa) (1983), dan Indonesia: Muslims on Trial (Indonesia: Orang-orang Muslim yang Diadili) (1984).

Pada 1995, sebuah organisasi yang berbasis di Jepang, International Federation for East Timor (IFET), menominasi Carmel Budiardjo untuk The Right Livelihood Award.

Pasangan Budiardjo dan Carmel mempunyai dua orang anak, Tari dan Anto.

Carmel meninggal dunia pada 10 Juli 2021 di London, Inggris.[1]

Referensi

  1. ↑ Affan, Heyder; Bonasir, Rohmatin (11 Juli 2021). "Carmel Budiardjo, pendiri TAPOL dan pejuang HAM dari kasus 1965, Aceh, Timor Leste serta Papua, tutup usia". BBC Indonesia. Diakses tanggal 11 Juli 2021.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan