Rabu, 23 September 2026
15:59 WIB
TERKINI
Nasional Pemulihan Pascabencana NTT: PSI Desak Perhatian Berkelanjutan Setelah Kunjungan Presiden Megapolitan Diantar Ayah, Zaki Berburu Peluang Kerja di Job Fair Setelah 4 Kali Gagal Regional Misteri Terkuak: Jasad ABK Kapal Jurnalis di Enggano Teridentifikasi Lewat DNA Cek Fakta Waspada! Penipuan Cek Bansos 2026 Marak, Data Pribadi Jadi Incaran Cek Fakta Waspada Penipuan BLT Kesra 2026 via Telegram: Kenali Prosedur Resmi Cek Fakta Mengungkap Tiga Hoaks Besar Korupsi yang Menjerat Nama Mantan Presiden Jokowi Hukum & Kriminal Aktivis Desak Kemenimipas Transparan Ungkap Dokumen Remisi Pemerkosa Belasan Santriwati Eropa & Amerika Presiden Trump Serukan Negara Anggota Mundur dari ICC, Ancam Sanksi Lembaga Eropa & Amerika AS, Denmark, dan Greenland Sepakati Perluasan Militer Strategis Tanpa Batas Waktu Hukum KPK Ungkap Puluhan Celah Korupsi Pengurusan Dokumen Tanah di ATR/BPN Nasional Pemulihan Pascabencana NTT: PSI Desak Perhatian Berkelanjutan Setelah Kunjungan Presiden Megapolitan Diantar Ayah, Zaki Berburu Peluang Kerja di Job Fair Setelah 4 Kali Gagal Regional Misteri Terkuak: Jasad ABK Kapal Jurnalis di Enggano Teridentifikasi Lewat DNA Cek Fakta Waspada! Penipuan Cek Bansos 2026 Marak, Data Pribadi Jadi Incaran Cek Fakta Waspada Penipuan BLT Kesra 2026 via Telegram: Kenali Prosedur Resmi Cek Fakta Mengungkap Tiga Hoaks Besar Korupsi yang Menjerat Nama Mantan Presiden Jokowi Hukum & Kriminal Aktivis Desak Kemenimipas Transparan Ungkap Dokumen Remisi Pemerkosa Belasan Santriwati Eropa & Amerika Presiden Trump Serukan Negara Anggota Mundur dari ICC, Ancam Sanksi Lembaga Eropa & Amerika AS, Denmark, dan Greenland Sepakati Perluasan Militer Strategis Tanpa Batas Waktu Hukum KPK Ungkap Puluhan Celah Korupsi Pengurusan Dokumen Tanah di ATR/BPN
Calabaria reinhardtii

Calabaria reinhardtii

Sanca kalabar
250px-Calabar_Serpent2.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sanca kalabar di Kebun Binatang Louisville, Louisville, Kentucky
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Reptilia
Ordo: Squamata
Subordo: Serpentes
Famili: Boidae
Subfamili: Calabarinae
Genus: Calabaria
Gray, 1858
Spesies:
C. reinhardtii
Nama binomial
Calabaria reinhardtii
(Schlegel, 1851)
Sinonim[2]
  • Eryx reinhardtii
    — Schlegel, 1851
  • Calabaria fusca
    Gray, 1858
  • Rhoptrura reinhardtii
    W. Peters, 1861
  • Roptrura petiti
    Sauvage, 1884
  • Calabaria reinhardti
    Boulenger, 1893
  • Calabaria reinhardtii
    Stimson, 1969
  • [Charina] reinhardtii
    Kluge, 1993

Sanca kalabar (Calabaria reinhardtii) adalah spesies ular boa yang terdapat di Afrika bagian barat dan tengah.[3]

Sebelumnya, ular ini masuk ke dalam genus Charina, namun sekarang dipisah menjadi famili, genus, dan spesies tersendiri setelah dilakukan studi terhadap susunan DNA dan kromosomnya. Ular ini adalah satu-satunya anggota anak subfamili Calabariinae.[4]

Pengenalan

250px-Calabar_Serpent2.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Panjang tubuhnya mencapai 1 meter. Tubuh berbentuk silindris dan ramping. Tubuh bagian atas berwarna hitam kecokelatan atau cokelat tua dengan bercak-bercak halus berwarna cokelat terang atau jingga kusam. Bagian bawah tubuh berwarna cokelat kekuningan atau jingga kelabu. Ekor berwarna hitam dengan belang-belang tipis berwarna kuning pucat.[5][6]

Kalabar merupakan jenis ular penggali liang. Habitat utamanya adalah hutan yang lembap, padang rumput, dan pinggiran gurun pasir. Juka terganggu, ular ini akan menggulung dirinya membentuk seperti bola, pertahanan diri yang juga dilakukan ular sanca bola (Python regius). Makanan utama ular ini adalah hewan pengerat tanah dan kadal. Ular ini membunuh mangsanya dengan cara membelit. Perkembangbiakannya dengan bertelur (ovipar), dengan jumlah telur hanya satu atau dua butir saja.[3]

Sebaran geografis

Tersebar luas di Afrika bagian tengah dan barat dari Liberia dan Sierra Leone hingga Kamerun, Afrika Tengah, Gabon, Republik Kongo dan Republik Demokratik Kongo."[2]

Referensi

  1. Luiselli L, Penner J, Rödel M, Gonwouo NL, Kusamba C, LeBreton M (2021). "Boa nebulosa". IUCN Red List of Threatened Species. 2021 e.T13264749A13264760. Diakses tanggal 28 Maret 2022.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite iucn}}: uses deprecated |page= identifier (help)
  2. 1 2 McDiarmid, R.W. [in Prancis]; Campbell, J.A.; Touré, T.A. (1999). Snake Species of the World: A Taxonomic and Geographic Reference Vol. 1. Washington, DC: Herpetologists' League. ISBN 1-893777-00-6 (series). ISBN 1-893777-01-4 (volume).
  3. 1 2 Mehrtens JM. 1987. Living Snakes of the World in Color. New York: Sterling Publishers. 480 pp. ISBN 0-8069-6460-X.
  4. Pyron, R.A., Burbrink, F.T., Wiens, J.J., 2013. A phylogeny and revised classification of Squamata, including 4161 species of lizards and snakes. BMC evolutionary biology 13, 93.
  5. Parker HW, Grandison AGC. 1977. Snakes -- a natural history. Second Edition. British Museum (Natural History) and Cornell University Press. 108 pp. 16 plates. LCCCN 76-54625. ISBN 0-8014-1095-9 (cloth), ISBN 0-8014-9164-9 (paper).
  6. Boulenger, G.A. 1893. Catalogue of the Snakes in the British Museum (Natural History). Volume I., Containing the Families...Boidæ... Trustees of the British Museum (Natural History). London. xiii + 448 pp. + Plates I.-XXVIII. (Calabaria reinhardti, p. 92.)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan