Sabtu, 31 Oktober 2026
16:52 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Cahaya gempa

Bagikan:

Cahaya gempa (bahasa Inggris:Earthquake light) atau Kilatan gempa adalah fenomena udara bercahaya yang dilaporkan muncul di langit pada saat gempa bumi atau letusan gunung berapi. Cahaya gempa muncul akibat terganggunya jaringan listrik – seperti kabel listrik yang melengkung – yang dapat menghasilkan kilatan cahaya yang terang akibat guncangan tanah.[1]

Pandangan skeptis beranggapan bahwa fenomena tersebut kurang dipahami dan banyak penampakan cahaya gempa yang dilaporkan sebenarnya dapat dijelaskan dengan penjelasan biasa.[2] Cahaya gempa umumnya muncul saat malam terjadinya gempa bumi yang kuat, dan berlangsung saat atau setelah gempa terjadi. Kilatan ini mirip dengan fenomena Aurora atau sebuah Petir.[3][4]

Kemunculan

Kemunculan cahaya gempa tampaknya terjadi ketika gempa berkekuatan tinggi, cahaya gempa akan muncul jika gempa pada 5 Skala Richter atau lebih tinggi. Ada juga kejadian cahaya gempa berbentuk bola yang muncul sebelum gempa bumi.[5]

Salah satu catatan pertama mengenai cahaya gempa berasal dari gempa bumi Jōgan 869, yang digambarkan sebagai "cahaya aneh di langit" dalam Nihon Sandai Jitsuroku. Mereka digambarkan memiliki bentuk yang mirip dengan aurora, dengan rona putih hingga kebiruan, tetapi terkadang dilaporkan memiliki spektrum warna yang lebih luas.

Cahaya gempa muncul saat Gempa bumi Fukushima 2022, fenomena tersebut terekam dalam video dari berbagai sudut. Cahaya gempa juga muncul dalam rekaman saat Gempa bumi Kaikoura 2016 di Selandia Baru, dimana kilatan cahaya biru seperti petir terlihat di langit malam.[6]

Pada saat Gempa bumi Lombok Agustus 2018 cahaya gempa juga muncul, dalam kilatan cahaya berwarna biru dan kuning pada malam saat gempa terjadi. Dalam rekaman Gempa bumi Turki–Suriah 2023, banyak cahaya gempa muncul terus menerus di provinsi Kahramanmaras dan Hatay. Dan setelah itu, kilatan cahaya biru juga terlihat di Agadir saat Gempa bumi Maroko 2023.

Karateristik

Penelitian tentang cahaya gempa terus dilakukan; dengan demikian, beberapa mekanisme telah diusulkan. Teori lubang Positif adalah salah satunya.[1]

Beberapa penjelasan menyatakan bahwa munculnya cahaya gempa melibatkan ionisasi oksigen ke anion oksigen dengan memutus ikatan peroksi pada beberapa jenis batuan (dolomit, riolit, dll.) akibat tekanan tinggi sebelum dan selama gempa bumi.[7] Setelah ionisasi, ion bergerak melalui retakan di batuan. Begitu mereka mencapai atmosfer, ion-ion ini dapat mengionisasi kantong udara, membentuk plasma yang memancarkan cahaya.[8] Eksperimen laboratorium telah memvalidasi bahwa beberapa batuan benar-benar mengionisasi oksigen di dalamnya ketika mengalami tingkat tekanan yang tinggi. Penelitian menunjukkan bahwa sudut patahan terkait dengan kemungkinan timbulnya cahaya gempa, dengan patahan subvertikal (hampir vertikal) di lingkungan retakan yang paling sering memunculkan cahaya gempa.[9]

Salah satu hipotesis juga melibatkan medan listrik yang kuat yang dibuat secara piezoelektrik oleh gerakan tektonik batuan yang mengandung kuarsa.[10]

Penjelasan lain yang mungkin adalah gangguan lokal dari medan magnet bumi dan/atau ionosfer di wilayah tekanan tektonik, mengakibatkan efek cahaya yang diamati dari rekombinasi radiasi ionosfer di ketinggian rendah dan tekanan atmosfer yang lebih besar (aurora). Namun, efek ini belum pernah terlihat atau diamati pada semua kejadian gempa bumi dan belum diverifikasi secara eksperimental.[11]

Lihat pula

  • Pencairan tanah - Fenomena perubahan tanah menjadi cair akibat guncangan gempa bumi
  • Awan gempa - Fenomena kontroversial terkait dengan gempa bumi

Referensi

  1. 1 2 Whitehead, Neil Evan; Ulusoy, Ü. (17 Desember 2015). "Origin of Earthquake Light Associated with Earthquakes in Christchurch, New Zealand, 2010-2011" (PDF). Earth Sciences Research Journal. 19 (2): 113–120. doi:10.15446/esrj.v19n2.47000.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ Sheaffer, Robert. "Skeptics and Claims of "Earthquake Lights"". Bad UFOs: Skepticism, UFOs, and The Universe. Blogger. Diakses tanggal 6 September 2016.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ Dunning, Brian. "Skeptoid #534: Earthquake Lights: Do They Exist?". Skeptoid. Diakses tanggal 1 September 2016.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. ↑ Hill, Sharon. "Earthquake lights reported associated with New Zealand event". Doubtful News. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-02-16. Diakses tanggal 23 November 2016.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. ↑ Howard, Brian Clark. "Bizarre Earthquake Lights Finally Explained". National Geographic. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-01-09. Diakses tanggal 25 Agustus 2014.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. ↑ Clarke, Richard A.; Eddy, R. P. (2017). Warnings: Finding Cassandras to stop catastrophe. Harper Collins. hlm. 77.
  7. ↑ Thériault, Robert; St‐Laurent, France; Freund, Friedemann T.; Derr, John S. (2014-01-01). "Prevalence of Earthquake Lights Associated with Rift Environments". Seismological Research Letters (dalam bahasa Inggris). 85 (1): 159–178. doi:10.1785/0220130059. ISSN 0895-0695.
  8. ↑ http://www.smithsonianmag.com/science-nature/why-do-lights-sometimes-appear-in-the-sky-during-an-earthquake-180948077/
  9. ↑ Thériault, Robert; St-Laurent, France; Freund, Friedemann T.; Derr, John S. (2014). "Prevalence of Earthquake Lights Associated with Rift Environments". Seismological Research Letters. 85 (1). Seismological Society of America: 159–78. doi:10.1785/0220130059. ISSN 0895-0695.{{cite journal}}: Parameter tidak dikenal |lay-date= diabaikan; Parameter tidak dikenal |lay-source= diabaikan; Parameter tidak dikenal |lay-url= diabaikan
  10. ↑ Takaki, Shunji; Ikeya, Motoji (1998). "A Dark Discharge Model of Earthquake Lightning". Japanese Journal of Applied Physics. 37 (9A): 5016–20. Bibcode:1998JaJAP..37.5016T. doi:10.1143/JJAP.37.5016.
  11. ↑ "'Restless Earth' May Give Advance Notice of Large Earthquakes" (Rilis pers). NASA. Desember 7, 2001. Diakses tanggal Januari 4, 2014.{{cite press release}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2014-01-04. Diakses tanggal 2021-05-20.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan