Rabu, 21 Oktober 2026
16:26 WIB
TERKINI
Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama

Cagar Alam Imogiri

Bagikan:
40px-Wiki_letter_w.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Oktober 2025)

Cagar alam Imogiri disingkat (CA Imogiri) adalah kawasan konservasi yang berstatus cagar alam di Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Kawasan ini ditetapkan sebagai cagar alam karena memiliki nilai ekologis, keanekaragaman hayati, dan fungsi pelestarian ekosistem yang penting. [1]

Sejarah

Cagar Alam Imogiri resmi ditetapkan pada tahun 2000 berdasarkan SK Menhutbun nomor 171/KPTS-II/2000 dengan luas awal sekitar 11,4 hektar. Pada tahun 2014, penetapan kawasan hutan menjadi Cagar Alam Imogiri dikukuhkan kembali melalui SK Menhut No. 1869/Menhut-VII/KUH/2014 pada tanggal 25 Maret 2014.

Sebelum menjadi kawasan konservasi, lahan tersebut dikelola sebagai hutan produksi oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan Daerah Istimewa Yogyakarta. Di masa lalu kawasan ini termasuk dalam petak kerja “Pasarehan” (RPH Mangunan) dan sebagian besar ditanami kayu putih, jati, mahoni, pinus, dan tanaman lainnya. Namun dominasi vegetasi kini masih berat pada tanaman jati dan kayu putih.

Pada tahun 2011 dilakukan penataan batas wilayah cagar alam melalui Keputusan Gubernur DIY Nomor 15/PAN/2011. Setelah evaluasi, panjang garis batas yang disahkan mencapai 2.157,7 meter dan luasan sebesar 118.220 m², dengan 40 buah pal batas. [1]

Lokasi dan Geografi

Cagar Alam Imogiri terletak di Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara koordinat, kawasan ini berada di sekitar 7°54′55,6″ LS hingga 7°55′28,1″ LS dan 110°23′31,6″ BT hingga 110°23′48,0″ BT. [2] Kawasan ini berbatasan langsung dengan Desa Girirejo dan Desa Wukirsari, yang juga berfungsi sebagai desa penyangga kawasan konservasi.

Karena posisinya yang dekat dengan kompleks Makam Imogiri (Astana Pajimatan Himagiri), masyarakat setempat sering memandang cagar alam ini sebagai “hutan pelindung” bagi kompleks makam raja-raja Yogyakarta dan Surakarta.[1]

Keanekaragaman hayati

Kawasan ini meskipun relatif kecil, menyimpan keanekaragaman hayati yang menarik, khususnya dalam kelompok serangga dan flora pendukungnya.

Sebuah penelitian tentang keanekaragaman kupu-kupu di CA Imogiri pada tahun 2024 mencatat ada 51 spesies kupu-kupu dari 5 famili:

  • Papilionidae: 7 spesies
  • Pieridae: 9 spesies
  • Lycaenidae: 6 spesies
  • Nymphalidae: 27 spesies
  • Hesperiidae: 2 spesies
  • Famili Nymphalidae menjadi yang paling dominan dijumpai. [3]

Kelimpahan kupu-kupu ini dipengaruhi oleh keberadaan tumbuhan inang seperti Ficus sp. dan Memecylon sp. yang tumbuh di kawasan tersebut.

Sementara itu, informasi tentang mamalia di kawasan ini masih terbatas dan belum banyak terpublikasi. Beberapa kajian menyebutkan bahwa identifikasi jenis mamalia di kawasan hutan kecil cagar alam seringkali sulit karena ukuran populasi yang kecil dan tekanan lingkungan sekitarnya. [3]

Fungsi

Selain sebagai kawasan pelestarian alam, CA Imogiri memiliki fungsi penting sebagai penyangga ekosistem di sekitar kompleks makam raja Imogiri. Keberadaan cagar alam ini juga dianggap membantu menjaga keseimbangan lingkungan mikro di kawasan perbukitan Imogiri. [1]

Untuk mendukung kesejahteraan dan keterlibatan masyarakat di sekitar kawasan, disusunlah profil desa penyangga (Desa Girirejo dan Desa Wukirsari). Profil ini digunakan sebagai acuan untuk merancang program pemberdayaan masyarakat yang sesuai dengan potensi lokal dan mendukung konservasi. [3]

Akses wisata

Di dalam kawasan CA Imogiri terdapat jalur hiking/trail yang dikenal sebagai Imogiri Park. Jalur tersebut memiliki panjang sekitar 1,4 mil (≈ 2,2 km) dan tingkat kesulitan sedang. Meski kegiatan wisata dibatasi agar tidak merusak fungsi konservasi, kawasan ini menarik bagi pengunjung yang ingin menikmati alam, aktivitas pengamatan flora dan fauna, terutama kupu-kupu, dan sekaligus mendukung pelestarian lingkungan. [4]

Referensi

  1. 1 2 3 4 "Cagar Alam (CA) Imogiri". geoparkjogja.jogjaprov.go.id. Diakses tanggal 2025-09-25.
  2. ↑ "Kawasan INSITU". bksdajogja.org. Diakses tanggal 2025-09-25.
  3. 1 2 3 Surantiwi, Nur; Nugraha, Raditia; Wati, Dyahning Retno; Arzika, Icha (2025-06-13). "Jenis Kupu-kupu di Cagar Alam Imogiri Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta". Jurnal Riset Daerah. 25 (1): 1–11. doi:10.64730/jrdbantul.v25i1.137. ISSN 2829-2227.
  4. ↑ "porosbumi.com". porosbumi.pandutani.or.id. Diakses tanggal 2025-09-25.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan