Bupati Kediri adalah jabatan kepala pemerintahan yang memerintah Kabupaten Kediri. Jabatan Bupati Kediri telah diadakan sejak tahun 1830 pada masa Hindia Belanda dan berlanjut hingga masa Pemerintah Indonesia. Dinasti politik pernah terbentuk dalam jabatan Bupati Kediri sejak tahun 1999 hingga tahun 2021 melalui penjabatan Sutrisno dan Haryanti Sutrisno yang memiliki hubungan suami-istri. Salah satu peninggalan bersejarah mengenai Bupati Kediri adalah Astana Gedong yang merupakan komplek makam bagi keluarga Bupati Kediri selama masa Keresidenan Kediri.
Sejarah pengadaan jabatan
Masa Pemerintah Hindia Belanda
Jabatan Bupati Kediri dalam masa Pemerintah Hindia Belanda dibentuk setelah berakhirnya Perang Jawa pada tahun 1830. Bupati Kediri menjabat sebagai kepala pemerintahan Kabupaten Kediri yang beribu kota di Kediri. Kabupaten Kediri dalam wilayah Hindia Belanda termasuk salah satu dari lima kabupaten dalam Keresidenan Kediri. Kediaman Bupati Kediri selama masa Hindia Belanda terletak di bagian timur Alun-Alun Kediri dan menghadap ke arah barat.[1]
Penjabat dan masa pemerintahan
Dinasti politik pernah terbentuk dalam jabatan Bupati Kediri dalam masa Pemerintah Indonesia sejak tahun 1999 hingga tahun 2021.[2] Pembentukan dinasti politik dalam jabatan Bupati Kediri terjadi pada masa pemerintahan Sutrisno dan Haryanti Sutrisno yang memiliki hubungan keluarga yaitu suami-istri. Sutrisno menjabat sebagai Bupati Kediri untuk periode 1999–2004 dan 2004–2009. Jabatan Sutrisno sebagai Bupati Kediri kemudian digantikan oleh istrinya yaitu Haryanti Sutrisno yang menjabat pada periode 2010–2015 dan periode 2016–2021.[3] Dinasti politik yang terbentuk oleh Sutrisno dan Haryanti Sutrisno dalam jabatan Bupati Kediri merupakan dinasti politik yang pertama kali terbentuk di Indonesia. Selain itu, dinasti politik Sutrisno dan Haryanti Sutrisno dalam jabatan Bupati Kediri merupakan dinasti politik di Indonesia dengan masa jabatan yang terlama.[2]
Peninggalan bersejarah
Di Kota Kediri terdapat salah satu peninggalan bersejarah mengenai Bupati Kediri dalam masa Keresidenan Kediri yaitu komplek makam kuno yang disebut Astana Gedong. Lokasi Astana Gedong berada di sebelah kanan sungai Brantas yang membelah Kota Kediri menjadi sisi kiri dan sisi kanan. Makam di Astana Gedong terdiri dari para keluarga Bupati Kediri. Keberadaan Astana Gedong berkaitan dengan pembagian Kota Kediri untuk pemerintahan Keresidenan Kediri dan Kabupaten Kediri. Kawasan pemerintahan Bupati Kediri ditetapkan di sisi kanan sungai Brantas dalam wilayah Kota Kediri. Sementara itu, sisi sebelah kiri dari sungai Brantas dalam wilayah Kota Kediri menjadi kawasan pemerintahan bagi Keresidenan Kediri.[4]
Referensi
Catatan kaki
- ↑ Raap, Olivier Johannes (Mei 2017). Udiani, Christina M. (ed.). Kota di Djawa Tempo Doeloe. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. hlm. 17. ISBN 978-602-424-361-6.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - 1 2 Guritno 2024, hlm. 3.
- ↑ Guritno 2024, hlm. 6.
- ↑ Cabaton, A. (Desember 2025). Asmasubrata, Astrajingga (ed.). Kekuasaan Hindia Belanda di Jawa, Sumatra, dan Pulau-Pulau Lainnya: Sistem Pemerintahan, Etnologi, Bentang Alam, Flora dan Fauna. Diterjemahkan oleh Maurilla, Amalia Putri. Yogyakarta: IRCiSoD. hlm. 94. ISBN 978-634-7446-63-3.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Daftar pustaka
- Guritno, Danur Condro (September 2024). Dinasti Politik Tipe Regenerasi: Kinerja Pemerintah Daerah dan Kemiskinan. Klaten dan Makassar: Penerbit Nasmedia. ISBN 978-623-155-881-7.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)