Sabtu, 07 November 2026
16:07 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis
Brynhildr

Brynhildr

Valkyrie dalam legenda kepahlawanan Nordik

Bagikan:
250px-Brunhild_%28Postkarte%29%2C_G._Bussiere%2C_1897.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
"Brunnhild" (1897) karya Gaston Bussière

Brynhildr, yang juga dikenal sebagai Brunhilda atau Brunhild (Nordik Kuno: Brynhildr [ˈbrynˌhildz̠], Jerman Tinggi Pertengahan: Brünhilt, Jerman Modern: Brünhild atau Brünhilde), merupakan tokoh wanita dari legenda pahlawan Jermanik. Tokoh ini kemungkinan berakar dari putri Visigoth sekaligus ratu Brunhilda dari Austrasia.

Dalam tradisi Nordik, Brynhildr merupakan seorang skjoldmø (prajurit wanita) atau valkyrie yang tampil sebagai tokoh utama dalam Völsunga saga dan beberapa puisi Edda mengenai peristiwa terkait. Dalam tradisi Jermanik kontinental, tempat ia menjadi tokoh sentral dalam Nibelungenlied, ia digambarkan sebagai seorang ratu perkasa yang menyerupai pahlawan Amazon. Dalam kedua tradisi tersebut, ia berperan penting dalam memicu kematian pahlawan Sigurd atau Siegfried seusai sang pahlawan memperdayanya agar menikahi raja bangsa Burgundia, Gunther atau Gunnar. Dalam kedua tradisi ini pula, penyebab langsung dari keinginannya agar Siegfried dibunuh adalah perselisihan dengan istri sang pahlawan, Gudrun atau Kriemhild. Berbeda dari tradisi kontinental, dalam tradisi Skandinavia, Brunhild mengakhiri hidupnya sendiri seusai kematian Sigurd.

Richard Wagner menjadikan Brynhildr (sebagai Brünnhilde) sosok penting dalam siklus operanya Der Ring des Nibelungen. Sebagian besar persepsi modern mengenai tokoh ini terinspirasi atau dipengaruhi oleh penggambaran Wagner.

Brynhildr disebut sebagai "tokoh paling utama dalam legenda Jermanik."[1] Nibelungenlied memperkenalkannya dengan menyatakan:


Ez was ein küneginne gesezzen über sê.
ir gelîche enheine man wesse ninder mê.
diu was unmâzen schoene. vil michel was ir kraft.
si schôz mit snellen degenen umbe minne den schaft.[2]

Ada seorang ratu yang bertakhta di seberang lautan,
Yang tiada tandingannya di mana pun jua.
Ia teramat jelita dan memiliki kekuatan fisik yang luar biasa.
Ia bertanding melempar tombak melawan kesatria pemberani – dengan cinta sebagai hadiahnya.[3]

Etimologi

Nama Brynhildr dalam berbagai bentuknya diturunkan dari kata-kata yang setara dengan brunia (baju zirah) dan hiltia (konflik) dalam bahasa Jerman Tinggi Kuno.[4] Nama ini pertama kali dicatat pada abad keenam untuk sosok historis Brunhilda dari Austrasia,[5] dalam bentuk Brunichildis.[6]

Dalam konteks tradisi kepahlawanan, unsur pertama namanya mungkin berkaitan dengan peran Brynhildr sebagai seorang skjoldmø.[7] Dalam puisi Edda Helreið Brynhildar, sosok valkyrie Sigrdrífa dari Sigrdrífumál diidentifikasikan dengan Brynhildr. Nama ini terdiri atas unsur sigr dan drífa, yang dapat diterjemahkan sebagai "pendorong menuju kemenangan". Nama tersebut mungkin sekadar merupakan sinonim bagi valkyrie.[8]

Asal-usul

Teori paling populer mengenai asal-usul Brynhildr legendaris menyatakan ia berasal dari dua tokoh sejarah Dinasti Meroving: Brunhilda dari Austrasia, seorang putri Visigoth yang menikahi raja Franka Sigebert I, serta Fredegunda, yang menikahi saudara Sigebert, Chilperic I.[9] Sejarawan Franka Gregorius dari Tours menuduh Fredegund atas pembunuhan Sigebert pada tahun 575. Sejak saat itu, Fredegund dan Brynhildr berseteru hingga tahun 613, ketika putra Chilperic, Chlothar II, menangkap dan membunuh Brynhildr.[9] Apabila teori ini benar, Brynhildr pada dasarnya mengambil alih peran Fredegund dalam kisah Nibelungen sembari mempertahankan nama Brynhildr dari Austrasia.[9][10]

Teori lain yang kurang diterima secara luas menempatkan asal-usul sosok Brynhildr dalam kisah jenderal Ostrogoth, Uraias. Istri Uraias menghina istri dari raja Ostrogoth, Ildibad, yang kemudian berujung pada tindakan istri sang raja yang memerintahkan pembunuhan Uraias.[11]

Referensi

  1. ↑ Andersson 1980, hlm. 5.
  2. ↑ Heinzle 2013, hlm. 108.
  3. ↑ Edwards 2010, hlm. 34.
  4. ↑ Gillespie 1973, hlm. 15.
  5. ↑ Gillespie 1973, hlm. 16.
  6. ↑ Gentry et al. 2011, hlm. 58.
  7. ↑ Uecker 1972, hlm. 45.
  8. ↑ Gentry et al. 2011, hlm. 119.
  9. 1 2 3 Haymes & Samples 1996, hlm. 22.
  10. ↑ Lienert 2015, hlm. 30.
  11. ↑ Uecker 1972, hlm. 38.

Sumber

  • Andersson, Theodore M. (1980). The Legend of Brynhild. Ithaca, NY: Cornell University. ISBN 0801413028.
  • Böldl, Klaus; Preißler, Katharina (2015). "Ballade". Germanische Altertumskunde Online. Berlin, Boston: de Gruyter.
  • Edwards, Cyril (trans.) (2010). The Nibelungenlied. The Lay of the Nibelungs. Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-923854-5.
  • Gentry, Francis G.; McConnell, Winder; Müller, Ulrich; Wunderlich, Werner, ed. (2011) [2002]. The Nibelungen Tradition. An Encyclopedia. New York, Abingdon: Routledge. ISBN 978-0-8153-1785-2.
  • Gillespie, George T. (1973). Catalogue of Persons Named in German Heroic Literature, 700-1600: Including Named Animals and Objects and Ethnic Names. Oxford: Oxford University. ISBN 9780198157182.
  • Haymes, Edward R. (trans.) (1988). The Saga of Thidrek of Bern. New York: Garland. ISBN 0-8240-8489-6.
  • Haymes, Edward R.; Samples, Susan T. (1996). Heroic legends of the North: an introduction to the Nibelung and Dietrich cycles. New York: Garland. ISBN 0815300336.
  • Haymes, Edward R. (2009). "Ring of the Nibelung and Nibelungenlied: Wagner's Ambiguous Relationship to a Source". Dalam Fugelso, Karl (ed.). Defining medievalism(s). Cambridge: D. S. Brewer. hlm. 218–246. ISBN 9781843841845.
  • Heinzle, Joachim, ed. (2013). Das Nibelungenlied und die Klage. Nach der Handschrift 857 der Stiftsbibliothek St. Gallen. Mittelhochdeutscher Text, Übersetzung und Kommentar. Berlin: Deutscher Klassiker Verlag. ISBN 978-3-618-66120-7.
  • Holzapfel, Otto (Otto Holzapfel), ed. (1974). Die dänischen Nibelungenballaden: Texte und Kommentare. Göppingen: Kümmerle. ISBN 3-87452-237-7.
  • Lienert, Elisabeth (2015). Mittelhochdeutsche Heldenepik. Berlin: Erich Schmidt. ISBN 978-3-503-15573-6.
  • McKinnell, John (2014). "Female Reactions to the Death of Sigurðr". Dalam McKinnell, John; Kick, Donata; Shafer, John D. (ed.). Essays on Eddic Poetry. Toronto: University of Toronto. hlm. 249–267. ISBN 9781442615885. JSTOR 10.3138/j.ctt6wrf94.
  • Millet, Victor (2008). Germanische Heldendichtung im Mittelalter. Berlin, New York: de Gruyter. ISBN 978-3-11-020102-4.
  • Müller, Jan-Dirk (2009). Das Nibelungenlied (Edisi 3). Berlin: Erich Schmidt.
  • The Poetic Edda: Revised Edition. Diterjemahkan oleh Larrington, Carolyne. Oxford: Oxford University. 2014. ISBN 978-0-19-967534-0.
  • Sprenger, Ulrike (1999a). "Gudrunlieder". Dalam Beck, Heinrich; Geuenich, Dieter; Steuer, Heiko (ed.). Reallexikon der Germanischen Altertumskunde. Vol. 13. New York/Berlin: de Gruyter. hlm. 149–153.
  • Sprenger, Ulrike (1999b). "Helreið Brynhildar". Dalam Beck, Heinrich; Geuenich, Dieter; Steuer, Heiko (ed.). Reallexikon der Germanischen Altertumskunde. Vol. 14. New York/Berlin: de Gruyter. hlm. 341–342.
  • Sturluson, Snorri (2005). The Prose Edda: Norse Mythology. Diterjemahkan oleh Byock, Jesse L. New York, London: Penguin Books.
  • Quinn, Judy (2015). "Scenes of vindication. Three Icelandic heroic poems in relation to the continental traditions of Þiðreks saga af Bern and the Nibelungenlied". Dalam Mundal, Else (ed.). Medieval Nordic Literature in its European Context. Oslo: Dreyers Forlag. hlm. 78–125. ISBN 978-82-8265-072-4.
  • Uecker, Heiko (1972). Germanische Heldensage. Stuttgart: Metzler. ISBN 3476101061.
  • Voorwinden, Norbert (2002). "Brünhilds Schicksal - oder: Was machen Autoren und Regisseure im 20. Jahrhundert mit Brünhild?". Dalam Zatloukal, Klaus (ed.). 6. Pöchlarner Heldenliedgespräch: 800 Jahre Nibelungenlied: Rückblick, Einblick, Ausblick. Vienna: Fassbaender. hlm. 179–196. ISBN 3900538719.
  • Würth, Stephanie (2005). "Sigurdlieder". Dalam Beck, Heinrich; Geuenich, Dieter; Steuer, Heiko (ed.). Reallexikon der Germanischen Altertumskunde. Vol. 28. New York/Berlin: de Gruyter. hlm. 424–426.

Pranala luar

Ikon rintisan

Artikel bertopik mitologi, mitos, atau legenda ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan