Jumat, 09 Oktober 2026
08:10 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya
Bola Dyson

Bola Dyson

Hipotesis megastruktur oleh Olaf Stapledon

Bagikan:
250px-A_Dyson_Swarm_Superstructure_%2821983905140%29.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Ilustrasi Bola Dyson, dengan sebuah bintang di dalamnya.

Bola Dyson (bahasa Inggris:Dyson sphere) adalah hipotesis tentang megastruktur yang dicetuskan pertama kali oleh Olaf Stapledon pada novel sains-fiksinya yang berjudul Star Maker (1937), lalu dipopulerkan kembali oleh Freeman Dyson dalam tulisannya yang berjudul "Search for Artificial Stellar Sources of Infrared Radiation".[1][2] "Bola" ini merupakan sistem satelit tenaga Matahari yang memerangkap sebuah bintang dan menangkap semua energinya. Dyson menyatakan bahwa struktur semacam itu mungkin saja terjadi, akibat dari meningkatnya kebutuhan energi suatu peradaban yang maju dan pengupayaan untuk menjaga keberlangsungan jangka panjang. Ia mengusulkan bahwa pencarian bukti keberadaan struktur semacam ini akan mengantarkan kita pada penemuan kehidupan ekstraterestrial yang cerdas.

Sejak itu, bola Dyson banyak dikutip dalam karya-karya fiksi ilmiah. Usulan bola ini lalu berkembang dan tidak hanya terbatas pada stasiun tenaga Matahari saja, tetapi juga tempat tinggal atau pusat industri.

Bentuk Bola Dyson

Bola Dyson bisa memiliki bentuk berupa roket-roket kecil yang berjumlah ribuan, yang mengelilingi matahari. Karena fungsi Bola Dyson adalah menangkap energi, maka roket-roket ini dilengkapi oleh panel surya, yang bernama "Dyson swarm". Alasan kenapa bentuk bola Dyson berupa kumpulan roket-roket adalah karena bila Bola Dyson berupa materi padat, maka bola Dyson ini akan menghalangi sinar matahari mencapai Bumi dan Mars (yang kala itu diperkirakan telah di-terraformasi), yang merupakan hal yang fatal.[3]

Bentuk yang ideal untuk Dyson Swarm

Seperti yang telah disebutkan, kegunaan dari Bola Dyson adalah untuk mendapat energi dari matahari. Jadi bentuknya haruslah sebuah panel surya. Namun, panel surya biasa memiliki kekurangan yaitu mudah hancur dan memiliki biaya pembuatan yang sangat tinggi. Oleh karena itu, para ilmuwan merancang desain baru, dan desain tersebut harus bekerja seefisien mungkin. Desain tersebut berupa kaca-kaca kecil yang menyerap panas matahari.

Peluncuran roket-roket

Untuk meluncurkan kaca-kaca tersebut dengan biaya sesedikit mungkin, Para ilmuwan berspekulasi bahwa lokasi yang ideal untuk peluncuran tersebut berada di planet Merkurius. Alasan mengapa planet ini dipilih, adalah karena alasan-alasan berikut:

  • Jaraknya yang dekat dengan matahari, mempercepat proses peluncuran roket-roket ke Matahari
  • Komposisi daratan Merkurius yang kaya akan mineral langka, memudahkan serta menambah efesiensi pembuatan panel surya.
  • Gaya gravitasinya yang lemah, memudahkan peluncuran roket ke matahari (diperkirakan juga akan dibantu dengan tekonologi hyperloop (mirip maglev)
  • Tidak adanya kemiringan sumbu pada Merkurius, menyebabkan beberapa kawah di dekat kutub, samasekali tidak terkena sinar matahari. Koloni manusia masa depan diperkirakan dapat membuat pangkalan disana.

Lihat pula

Pranala luar

Referensi

  1. ↑ "SETI Articles". web.archive.org. 2022-01-20. Diakses tanggal 2023-11-25.
  2. ↑ Dyson, Freeman J. (1960-06-01). "Search for Artificial Stellar Sources of Infrared Radiation". Science. 131: 1667–1668. doi:10.1126/science.131.3414.1667. ISSN 0036-8075.
  3. ↑ Cara Membangun Sphere Dyson - Megastruktur Utama, diakses tanggal 2020-05-12
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan