Rabu, 04 November 2026
14:03 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare

Boestami Sjarif

hakim Indonesia

Bagikan:

Boestami Sjarif gelar Soetan Maharadjo (lahir 15 Oktober 1907 - wafat 27 September 1981) adalah seorang hakim Indonesia yang aktif pada masa Hindia Belanda dan pendudukan Jepang. Ia diketahui terakhir menjabat sebagai hakim di Tihoo Hooin (Pengadilan Sipil) dan Keizai Hooin (Pengadilan Polisi) Serang. Sebelumnya, ia bertugas di beberapa Landraad dan sempat menjabat sebagai plaatsvervangend (hakim pengganti) di Landrechter (pengadilan untuk orang Eropa dan golongan yang dipersamakan).[1]

Kehidupan awal

Boestami Sjarif bersaudara kandung dengan Dahlan Sjarif, yang merupakan ayah dari Muhammad Alwi Dahlan. Ia merupakan keponakan dari Abdoel Rivai. Pada masa mudanya, ia aktif di Jong Sumatranen Bond (JSB) dan mengetuai cabang JSB untuk Padang.

Bustami Syarif belajar hukum di Rechtshoogeschool (Sekolah Tinggi Hukum), Jakarta dan lulus pada tahun 1935. Sebelumnya, ia menyelesaikan pendidikan dasar HIS pada 1922, MULO di Padang pada 1926, dan AMS di Yogyakarta pada 1929.[1]

Karier

Bustami Syarif memulai kariernya di bidang hukum pada 1935 sebagai pegawai di ambtenaar ter beschikking di Raad van Justitie, Jakarta (1935-1938). Berikutnya, ia bertugas di berbagai pengadilan, yakni Jakarta (1938-1939), Garut (1939-1940), Nganjuk (1940-1941), dan Serang (1941-1942). Di dua tempat terakhir, ia merangkap sebagai plaatsvervangend Landrechter.[1]

Pada masa akhir Demokrasi Liberal, Boestami Sjarif mendukung Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang berpusat di Padang, Sumatera Barat. Ia dilaporkan menboyong keluarganya ke Singapura sebelum kembali ke Padang.[2]

Kariernya setelah PRRI tidak tercatat. Ia meninggal pada 27 September 1981 dan jenazahnya dimakamkan di TPU Jeruk Purut.[3]

Kehidupan pribadi dan keluarga

Bustami Syarif menikah dengan Soesmini, anak dari Raden Otto Soerapoetra.[3] Pasangan ini memiliki sepuluh anak.[4] Anak pertama, Soesmalijah Sjarif merupakan Dekan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Anak kedua, Sjarmilah Sjarif merupakan oseanografer perempuan pertama Indonesia.[5]

Referensi

  1. 1 2 3 Orang Indonesia jang terkemoeka di Djawa. Gunseikanbu. 1944. hlm. 138.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ↑ Ishak, Ismuwil (1959). Hantu subversi. Gerakan Massa Melawan Intervensi Asing.
  3. 1 2 Makam
  4. ↑ https://www.geni.com/people/Bustami-SYARIF/6000000195354485837
  5. ↑ Anugrah Nontji. "Syarmilah Syarif: Wanita Oseanografer Indonesia Yang Pertama". LIPI. 18 April 2017. Diarsipkan 31 Maret 2023 di Wayback Machine
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan