Selasa, 27 Oktober 2026
21:36 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung
Biomagnifikasi

Biomagnifikasi

Bagikan:
250px-Biomagnification.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Biomagnifikasi merupakan proses yang menyebabkan konsentrasi suatu zat meningkat pada tingkat lebih tinggi dalam rantai makanan.

Biomagnifikasi adalah peningkatan konsentrasi suatu zat kimia beracun, dalam jaringan organisme pada tingkat trofik yang lebih tinggi dalam rantai makanan.[1] Proses ini terjadi ketika zat xenobiotik berpindah dari makanan ke mahluk hidup sehingga konsentrasinya menjadi lebih tinggi dibandingkan sumber asalnya. Fenomena ini umum terjadi dalam jaring-jaring makanan laut.[2]

Proses Akumulasi

Biomagnifikasi mencakup proses perpindahan zat tertentu, seperti pestisida atau logam berat, melalui berbagai tingkat trofik dalam rantai makanan. Zat tersebut memasuki lingkungan akuatik, misalnya sungai atau danau, dan diserap oleh organisme produsen atau konsumen tingkat rendah seperti fitoplankton dan ikan kecil. Organisme pemangsa tingkat lebih tinggi, termasuk ikan predator, burung besar, mamalia, atau manusia, kemudian memakan organisme yang telah mengandung zat tersebut, sehingga konsentrasi zat meningkat pada setiap tingkat trofik. Akumulasi ini terjadi dalam jaringan atau organ internal, terutama karena zat bersifat lambat dimetabolisme atau diekskresikan, sehingga konsentrasi tertinggi ditemukan pada organisme di puncak rantai makanan.

250px-Bio-magnification_in_a_pond_ecosystem.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sebuah kolam terpapar menyebabkan kontaminan menumpuk dalam rantai makanan. Pada konsumen tingkat atas, akumulasi dapat mencapai tingkat berbahaya dan mengakibatkan kematian

[3][4][5]

Konsentrasi kimia dalam organisme dapat melebihi konsentrasi dalam makanannya melalui paparan utama dari konsumsi makanan yang terkontaminasi. Biomagnifikasi jaring-jaring makanan menggambarkan peningkatan konsentrasi zat kimia atau kontaminan secara bertahap di sepanjang jaring-jaring makanan, seiring dengan meningkatnya posisi trofik organisme. Pada tingkat trofik yang lebih tinggi, akumulasi zat menjadi lebih besar karena organisme memakan sejumlah besar organisme pada tingkat trofik di bawahnya, sehingga zat yang sulit diekskresikan menumpuk dalam jaringan dan organ internal.[6] Proses ini menciptakan perbedaan konsentrasi yang signifikan antara organisme predator dan mangsanya, menimbulkan efek ekologis dan potensi risiko bagi kesehatan organisme pada tingkat trofik atas. Untuk kontaminan yang tidak larut dalam air, biomagnifikasi didefinisikan lebih spesifik sebagai kondisi termodinamika di mana potensial kimia dalam organisme melebihi potensial dalam makanan dan lingkungannya, dan meningkat melalui tingkat trofik yang berturut-turut.[7]

Referensi

  1. ↑ Silvy, Nova J. (2012). The wildlife techniques manual (Edisi 7th ed). Baltimore: J. Hopkins university press. ISBN 978-1-4214-0159-1.{{cite book}}: |edition= memiliki teks tambahan
  2. ↑ Gray, John S. (2002). "Biomagnification in marine systems: the perspective of an ecologist". Marine Pollution Bulletin. 45 (1–12): 46–52. doi:10.1016/s0025-326x(01)00323-x. ISSN 0025-326X. PMID 12398366.
  3. ↑ "BIOMAGNIFICATION BIO ACCUMULATION CONCENTRATION". www.blue-growth.org. Diakses tanggal 2025-09-28.
  4. ↑ Dexter, Ray (2019-09-30). IB Chemistry Revision Guide (dalam bahasa Inggris). Anthem Press. ISBN 978-1-78527-083-3.
  5. ↑ Spellman, Frank R.; Bieber, Revonna M. (2012-02-02). Environmental Health and Science Desk Reference (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury Publishing USA. hlm. 107. ISBN 979-8-89205-371-6.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  6. ↑ Jorgensen, Erik (2010-04-16). Ecotoxicology (dalam bahasa Inggris). Academic Press. hlm. 95–98. ISBN 978-0-444-53629-7.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  7. ↑ Drouillard, K. G. (2008-01-01). Jørgensen, Sven Erik; Fath, Brian D. (ed.). Biomagnification. Oxford: Academic Press. hlm. 441–448. ISBN 978-0-08-045405-4.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan