Selasa, 13 Oktober 2026
23:58 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Bandar Lampung Siaga Banjir Rob: BPBD Fokus Pantau Empat Kecamatan Pesisir Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: STNK Truk Roda Enam Diperiksa Bandar Lampung TNI AL Gagalkan Ribuan Paket Kokain Cair, Selamatkan Ribuan Jiwa dan Anggaran Negara Cuaca Gunung Anak Krakatau Berstatus Siaga, Asap Kawah dan Sinar Api Terpantau Jelas Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 13 Oktober 2026: Waspada Hujan dan Angin Kencang Lampung Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Tulang Bawang Terbanyak Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM Bandar Lampung Bandar Lampung Siaga Banjir Rob: BPBD Fokus Pantau Empat Kecamatan Pesisir Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: STNK Truk Roda Enam Diperiksa Bandar Lampung TNI AL Gagalkan Ribuan Paket Kokain Cair, Selamatkan Ribuan Jiwa dan Anggaran Negara Cuaca Gunung Anak Krakatau Berstatus Siaga, Asap Kawah dan Sinar Api Terpantau Jelas Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 13 Oktober 2026: Waspada Hujan dan Angin Kencang Lampung Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Tulang Bawang Terbanyak Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM

Ben Kiernan

Bagikan:

Benedict F. "Ben" Kiernan (kelahiran 1953 di Melbourne) adalah Profesor Sejarah Whitney Griswold, Profesor Kajian Lapangan dan Mancanegara dan Kepala Program Kajian Genosida di Universitas Yale.

Biografi

Pada awal usia dua puluh tahunan, Kiernan mengunjungi Kamboja namun hengkang sebelum Khmer Merah mengusir seluruh warga asing pada 1975. Meskipun ia tampaknya meragukan skala genosida pada zaman Kamboja Demokrat, ia mengubah pikirannya pada 1978[1][2][3] setelah permulaan serangkaian wawancara dengan ratusan pengungsi asal Kamboja. Ia mempelajari bahasa Khmer, melakukan riset di Kamboja dan para pengungsi di luar negeri, dan menulis beberapa buku tentang topik tersebut.

Daftar pustaka pilihan

Referensi

  1. ↑ Kiernan, Benedict (17 November 1978). "Why's Kampuchea Gone to Pot?". Nation Review (Melbourne).{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ Kiernan, Benedict (Oktober–Desember 1979). "Vietnam and the Governments and People of Kampuchea". Bulletin of Concerned Asian Scholars.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ Shawcross, William (1984). The Quality of Mercy – Cambodia, Holocaust and Modern Conscience. Simon and Schuster, New York. ISBN 0-671-44022-5.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan