Sabtu, 10 Oktober 2026
12:39 WIB
TERKINI
Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Hukum Polemik Dokumen Pencalonan Gibran: KPU Didesak Transparan Pasca Putusan MK Hiburan Syahrini Kembali Guncang Panggung Musik: Rilis Lagu Baru dan Gebrak Pestapora 2026 Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober Hukum Pujianto Divonis 8 Bulan Penjara: Perdagangan Ajinomoto Palsu Merugikan Konsumen Lampung Lampung Diprediksi Cerah Berawan, Hujan Lokal Sambangi Beberapa Wilayah Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Hukum Polemik Dokumen Pencalonan Gibran: KPU Didesak Transparan Pasca Putusan MK Hiburan Syahrini Kembali Guncang Panggung Musik: Rilis Lagu Baru dan Gebrak Pestapora 2026 Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober Hukum Pujianto Divonis 8 Bulan Penjara: Perdagangan Ajinomoto Palsu Merugikan Konsumen Lampung Lampung Diprediksi Cerah Berawan, Hujan Lokal Sambangi Beberapa Wilayah
Batik Gringsing

Batik Gringsing

Bagikan:
250px-Kain_Batik_Motif_Kreasi_Gringsing%2C_Seritan%2C_Latohan_Batik_Tiga_negeri.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kain Batik Motif Kreasi Gringsing, Seritan, Latohan Batik Tiga negeri

Batik Gringsing adalah salah satu motif batik khas Indonesia yang memiliki nilai filosofis mendalam, terutama dikenal dalam kebudayaan Jawa dan Bali. Motif ini dicirikan dengan pola lingkaran kecil yang menyerupai sisik ikan atau tumpukan lingkaran yang saling bersinggungan. Nama "Gringsing" berasal dari gabungan kata dalam bahasa Jawa, yaitu gering (sakit) dan sing (tidak), sehingga secara harfiah bermakna "tidak sakit" atau penolak bala.[1]

Etimologi dan Filosofi

Secara semantik, kata Gringsing dimaknai sebagai upaya manusia untuk menghalau segala bentuk kesialan atau penyakit, baik jasmani maupun rohani. Dalam kepercayaan masyarakat tradisional, motif ini dianggap memiliki kekuatan spiritual untuk melindungi pemakainya dari gangguan gaib atau pengaruh buruk.[2]

Pola dasarnya yang berbentuk lingkaran konsentris sering dikaitkan dengan konsep keseimbangan alam semesta. Pengulangan motif yang konsisten melambangkan ketidakterhinggaan dan kesatuan antara manusia dengan penciptanya.[3]

Sejarah dan Asal-Usul

Motif Gringsing merupakan salah satu motif tertua dalam khazanah tekstil Nusantara. Jejak visual motif ini dapat ditemukan pada relief-relief candi di Jawa Timur yang berasal dari abad ke-13 hingga ke-15, yang menunjukkan bahwa pola sisik ini telah digunakan sebagai busana bangsawan sejak zaman Kerajaan Majapahit.[3]

Di Bali, teknik Gringsing berkembang menjadi Tenun Ikat Ganda Gringsing yang sangat spesifik di Desa Tenganan Pegringsingan. Meskipun teknik pembuatannya berbeda dengan batik (tenun vs. rintang warna), akar filosofis dan nama yang digunakan tetap merujuk pada fungsi perlindungan yang sama.[2]

Karakteristik Visual

Motif Gringsing memiliki ciri khas yang sangat spesifik dibandingkan motif batik lainnya:[1]

  • Pola Dasar: Terdiri dari lingkaran-lingkaran kecil yang tersusun rapi.
  • Titik Tengah: Di tengah setiap lingkaran biasanya terdapat titik (cecek) atau bentuk silang kecil.
  • Warna: Secara tradisional menggunakan warna-warna soga (cokelat), putih, dan hitam, yang merupakan warna dasar batik klasik (Batik Vorstenlanden).

Penggunaan dalam Adat

Dalam tradisi Jawa, Batik Gringsing sering digunakan dalam berbagai upacara adat, antara lain:[3]

  1. Mitoni (Tujuh Bulanan): Digunakan sebagai salah satu kain dalam prosesi ganti busana, dengan harapan bayi yang lahir akan sehat dan terhindar dari penyakit.
  2. Khitanan: Dikenakan dengan harapan anak yang dikhitan segera sembuh dan menjadi pribadi yang kuat.
  3. Pernikahan: Terkadang digunakan sebagai kain latar atau dekorasi untuk melambangkan doa keselamatan bagi kedua mempelai.

Referensi

  1. 1 2 Doellah, H. Santosa. (2002). Batik: Pengaruh Zaman dan Lingkungan. Solo: Danar Hadi.
  2. 1 2 Musman, Asti & Arini, Ambar B. (2011). Batik: Warisan Adiluhung Nusantara. Yogyakarta: G-Media
  3. 1 2 3 Kuswadji K. (1981). Mengenal Seni Batik di Yogyakarta. Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan