Kamis, 29 Oktober 2026
05:09 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Batik Gringsing

Batik Gringsing

Bagikan:
250px-Kain_Batik_Motif_Kreasi_Gringsing%2C_Seritan%2C_Latohan_Batik_Tiga_negeri.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kain Batik Motif Kreasi Gringsing, Seritan, Latohan Batik Tiga negeri

Batik Gringsing adalah salah satu motif batik khas Indonesia yang memiliki nilai filosofis mendalam, terutama dikenal dalam kebudayaan Jawa dan Bali. Motif ini dicirikan dengan pola lingkaran kecil yang menyerupai sisik ikan atau tumpukan lingkaran yang saling bersinggungan. Nama "Gringsing" berasal dari gabungan kata dalam bahasa Jawa, yaitu gering (sakit) dan sing (tidak), sehingga secara harfiah bermakna "tidak sakit" atau penolak bala.[1]

Etimologi dan Filosofi

Secara semantik, kata Gringsing dimaknai sebagai upaya manusia untuk menghalau segala bentuk kesialan atau penyakit, baik jasmani maupun rohani. Dalam kepercayaan masyarakat tradisional, motif ini dianggap memiliki kekuatan spiritual untuk melindungi pemakainya dari gangguan gaib atau pengaruh buruk.[2]

Pola dasarnya yang berbentuk lingkaran konsentris sering dikaitkan dengan konsep keseimbangan alam semesta. Pengulangan motif yang konsisten melambangkan ketidakterhinggaan dan kesatuan antara manusia dengan penciptanya.[3]

Sejarah dan Asal-Usul

Motif Gringsing merupakan salah satu motif tertua dalam khazanah tekstil Nusantara. Jejak visual motif ini dapat ditemukan pada relief-relief candi di Jawa Timur yang berasal dari abad ke-13 hingga ke-15, yang menunjukkan bahwa pola sisik ini telah digunakan sebagai busana bangsawan sejak zaman Kerajaan Majapahit.[3]

Di Bali, teknik Gringsing berkembang menjadi Tenun Ikat Ganda Gringsing yang sangat spesifik di Desa Tenganan Pegringsingan. Meskipun teknik pembuatannya berbeda dengan batik (tenun vs. rintang warna), akar filosofis dan nama yang digunakan tetap merujuk pada fungsi perlindungan yang sama.[2]

Karakteristik Visual

Motif Gringsing memiliki ciri khas yang sangat spesifik dibandingkan motif batik lainnya:[1]

  • Pola Dasar: Terdiri dari lingkaran-lingkaran kecil yang tersusun rapi.
  • Titik Tengah: Di tengah setiap lingkaran biasanya terdapat titik (cecek) atau bentuk silang kecil.
  • Warna: Secara tradisional menggunakan warna-warna soga (cokelat), putih, dan hitam, yang merupakan warna dasar batik klasik (Batik Vorstenlanden).

Penggunaan dalam Adat

Dalam tradisi Jawa, Batik Gringsing sering digunakan dalam berbagai upacara adat, antara lain:[3]

  1. Mitoni (Tujuh Bulanan): Digunakan sebagai salah satu kain dalam prosesi ganti busana, dengan harapan bayi yang lahir akan sehat dan terhindar dari penyakit.
  2. Khitanan: Dikenakan dengan harapan anak yang dikhitan segera sembuh dan menjadi pribadi yang kuat.
  3. Pernikahan: Terkadang digunakan sebagai kain latar atau dekorasi untuk melambangkan doa keselamatan bagi kedua mempelai.

Referensi

  1. 1 2 Doellah, H. Santosa. (2002). Batik: Pengaruh Zaman dan Lingkungan. Solo: Danar Hadi.
  2. 1 2 Musman, Asti & Arini, Ambar B. (2011). Batik: Warisan Adiluhung Nusantara. Yogyakarta: G-Media
  3. 1 2 3 Kuswadji K. (1981). Mengenal Seni Batik di Yogyakarta. Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan