Rabu, 30 September 2026
12:24 WIB
TERKINI
Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Megapolitan Demo Buruh di DPR Lumpuhkan Gatot Subroto: Simak Jalur Alternatifnya Megapolitan Komunikasi Terputus Jadi Akar Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Regional KPU Batam Musnahkan Ribuan Surat Suara Rusak, Jaga Integritas Pemilu Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Megapolitan Demo Buruh di DPR Lumpuhkan Gatot Subroto: Simak Jalur Alternatifnya Megapolitan Komunikasi Terputus Jadi Akar Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Regional KPU Batam Musnahkan Ribuan Surat Suara Rusak, Jaga Integritas Pemilu
Batang Garing

Batang Garing

pohon simbolis kepercayaan suku Dayak

Bagikan:
250px-Tugu_Batang_Garing.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tugu Batang Garing yang ada di Kapuas, Kalimantan Tengah, mengambil inspirasi dari kepercayaan suku Dayak Ngaju tentang Pohon Kehidupan.

Batang Garing (atau Batang Haring) adalah konsep simbolis berupa Pohon Kehidupan dalam kepercayaan tradisional masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah. Dalam kosmologi Dayak Ngaju, Batang Garing dipandang sebagai gambaran hubungan antara manusia, alam, dan dunia spiritual, serta menjadi simbol yang berkaitan dengan asal-usul dan tata kehidupan masyarakat.[1]

Menurut tradisi Dayak Ngaju, Batang Garing diciptakan bersamaan dengan penciptaan leluhur manusia. Simbol ini kemudian menjadi salah satu gambaran kosmologis yang digunakan sebagai pedoman dalam memahami keteraturan kehidupan dan hubungan antara berbagai unsur dalam alam semesta. Makna Batang Garing selanjutnya diwariskan kepada generasi berikutnya melalui tradisi, ritual, dan berbagai bentuk ekspresi budaya Dayak Ngaju.[2]

Kisah penciptaan

Suatu waktu, Ranying Hatalla Langit (penguasa alam atas) bersama sang istri, Jata Balawang Bulau (penguasa alam bawah) sepakat untuk menciptakan dunia, diawali dengan penciptaan Batang Garing (Pohon Kehidupan). Batang, daun, tangkai dan buah Batang Garing semuanya terdiri dari berbagai jenis logam dan batu mulia.[1]

Jata Balawang Bulau melepaskan burung tingang betina (enggang betina) dari sangkar emasnya. Burung itu kemudian terbang, lalu hinggap menikmati buah-buahan Batang Garing, bersamaan dengan itu Ranying Hatalla Langit melemparkan keris emasnya, lalu menjelma menjadi tingang jantan yang disebut Tembarirang. Sang jantan turut hinggap dan menikmati buah-buahan Batang Garing.[1]

Kedua tingang berlainan jenis ini rupanya saling iri dan cemburu, sampai akhirnya terjadi perang. Pertempuran ini menghancurkan Batang Garing dan kedua burung itu sendiri. Dari keping-keping kehancuran inilah tercipta kehidupan baru, alam semesta dan segala jenisnya.[1]

Dari kehancuran tadi tercipta pula sepasang insan. Sang wanita bernama Putir Kahukum Bungking Garing (puteri dari kepingan Gading) dan sang pria bernama Manyamei Limut Garing Balua Unggon Tingang (sari pohon kehidupan yang dipatahkan oleh Tingang). Masing-masing insan ini memperoleh perahu, untuk sang wanita bernama bahtera emas (Banama Bulau) dan untuk sang pria bernama bahtera intan (Banama Hintan).[1]

Kedua insan ini kemudian menikah dan mendapatkan keturunan pertama berupa babi, ayam, anjing dan kucing. Keturunan kedua berwujud manusia, yaitu Maharaja Sangiang, Maharaja Sangen, dan Maharaja Bunu.[1]

Sumber tertulis

Suku Dayak Ngaju memiliki keyakinan bahwa keberadaan alam kehidupan ini berawal dari sebuah pohon yang disebut Batang Garing atau Batang Haring. Keyakinan ini dijelaskan pula dalam kitab suci Panaturan (Kitab suci umat Hindu Kaharingan). Dalam Panaturan Pasal 2 ayat 5, dijelaskan mengenai penciptaan Batang Garing, yaitu:

RANYING HATALLA haduanan panatau RANYING PANDEREH BUNU, IE mantejek huang bentuk tasik lumbah; Hayak Auh Nyahu Batengkung Ngaruntung Langit, homboh Malentar Kilat Basiring Hawun, panatau Ranying Pandereh Bunu basaluh manjadi BATANG HARING, hayak IE mananggare jete bagare BATANG KAYU JANJI; Kalute RANYING HATALLA mampajadi kahandake ije katelue.

Artinya:

Kemudian RANYING HATALLA mengambil lagi panatau RANYING PANDEREH BUNU, yaitu sifat kemuliaan-NYA Yang Maha Lurus, Maha Jujur dan Maha Adil, IA menempatkan itu di tengah-tengah samudera luas, yang disertai bunyi Guntur menggemuruh memenuhi alam semesta, Petir Halilintar menggetarkan buana, Ranying Pandareh Bunu berubah menjadi BATANG HARING; Bersama itu IA menyebutkan namanya BATANG KAYU JANJI; Begitulah RANYING HATALLA menjadikan kehendak-NYA yang ketiga.[1]

Bagian Pohon Batang Garing

  • Batang: Batang Garing berbentuk seperti mata tombak yang mengarah ke atas atau ke langit. Hal ini dipercaya melambangkan kepercayaan agama Kaharingan (kepercayaan suku Dayak) kepada Ranying Hatala Langit, sumber segala kehidupan.
  • Dahan: Setiap dahan memiliki tiga buah yang menghadap ke atas dan ke bawah. Dahan tersebut melambangkan tiga kelompok besar manusia sebagai keturunan Maharaja Sangiang, Maharaja Sangen, dan Maharaja Bunu.
  • Buah: Buah yang ada pada Batang Garing melambangkan kelompok umat manusia. Ada buah yang mengarah ke atas dan ada yang mengarah ke bawah, sebagai pengingat bagi manusia untuk selalu menghargai antara sesama.
  • Daun: Daun dari Batang Garing melambangkan ekor dari burung yang menjadi identitas suku Dayak, yaitu burung enggang (burung tingang).
  • Guci: Bagian bawah Batang Garing terdapat guci berisi air suci, serta dahan berlekuk yang melambangkan Jatha atau dunia bawah, atau sering disebut dengan Pulau Batu Nindan Tarung, pulau yang menjadi tempat manusia pertama kali sebelum diturunkan ke bumi.[1]

Galeri

  • Pakaian adat Dayak dengan motif Batang Garing
    Pakaian adat Dayak dengan motif Batang Garing
  • Pakaian adat Dayak dengan motif Batang Garing
    Pakaian adat Dayak dengan motif Batang Garing

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 Mirim; Sudiman (2018). "Batang Haring (Sebuah Kajian Mitologi, Fungsi dan Makna)". Jurnal Widya Katambung. 9 (1).
  2. ↑ Febriyana, Wahyu. "Batang Garing dan Tingang Simbol Puspa dan Satwa Dayak". mmckalteng. Diakses tanggal 2025-06-18.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan