Jumat, 30 Oktober 2026
15:56 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Bapapai

Upacara Adat di Indonesia

Bagikan:

Bapapai merupakan upacara permandian sebelum upacara perkawinan pengantin dari kalangan rakyat biasa suku Banjar, Kalimantan Selatan, Indonesia.[1] Ritual Bapapai juga diartikan sebuah acara mandi kembang calon pengantin yang dilaksanakan pada malam hari, biasanya setelah akad nikah, sekitar pukul 20:00 hingga pukul 10:00 waktu setempat.[2] Kata papai dalam bahasa Indonesia berarti percik. Dalam praktiknya, bapapai seperti memercik-mercikkan air menggunakan mayang pinang kepada calon mempelai yang sedang dimandi-mandikan.[3]

Perlengkapan

Alat kelengkapan dalam bapapai ini antara lain:[4]

  1. Tempat air (gayung/ember);
  2. Kembang (bunga-bunga harum);
  3. Mayang pinang;
  4. Daun tulak yang dicampur air;
  5. Piduduk yang berisi beras, gula, kelapa. Ada juga yang memuat cingkaruk (kue dari kelapa), nasi kuning, dan nasi lamak.

Tradisi

Upacara Bapapai dilaksanakan oleh wanita-wanita yang sudah sepuh (dituakan dalam keluarga).[1] Tradisi lokal di Kalimantan Selatan ada juga yang mempergunakan sumber air untuk Bapapai ini dari ulak (pusaran air pada sungai besar) sungai.[1] Ini ada kaitannya dengan kepercayaan naga yang berdiam di ulak sungai tersebut.[1] Diyakini, dengan memakai air ulak tempat naga itu terhindar dari pengaruh tidak baik dari sang naga.[1] Tradisi mandi-mandi pengantin Bapapai dimulai dari diarak nya pengantin pria ke kediaman mempelai perempuan pada malam hari menjelang hari perkawinan.[1] Calon pengantin didudukkan berdampingan di serambi muka rumah atau dibagian belakang rumah, lalu dimandikan dengan cara memercikkan air oleh wanita-wanita tua dari pihak kerabat pengantin perempuan maupun laki-laki.[1] Jumlah yang memandikan selalu dalam angka ganjil 3, 5, atau 7 orang secara bergantian.[1] Usai dimandikan, pengantin disisir dan diolesi minyak.[1] Tetap berdampingan, kedua pengantin kemudian dikelilingi dengan cermin dan sumbu lilin sejenis obor kecil yang dibuat dari kain dicampur lilin lebah.[1] Lilin yang menyala bersama cermin tersebut dikelilingkan tiga kali oleh wanita-wanita yang bertugas memandikan pengantin. Cermin ini kemudian diambil untuk sarat tinggiran, supaya tinggiran tersebut disenangi wanyi atau lebah untuk bersarang.[1] Setelah upacara selesai, calon mempelai pulang ke rumah semula.[1]

Tradisi mandi kembang ini diharapkan mempelai membersihkan dan membuang masa lalu atau masa remaja.[5] Kemudian bersiap dengan jiwa raga yang bersih menyongsong hari depan yang lebih bersih seperti layaknya seorang yang baru saja dimandikan.[5] Bapapai ini harus dilakukan di lapangan terbuka sehingga menjadi tontonan bagi masyarakat.[5] Mereka memercayai, warga yang tidak melaksanakan Bapapai, kemungkinan besar calon pengantin akan selalu ada masalah dalam berkeluarga atau sering disebut siksa, karena tidak mematuhi aturan para leluhur.[5]

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 kabarbanjarmasin.com[pranala nonaktif permanen] diakses 20 Maret 2015
  2. ↑ disbudpar barito selatan[pranala nonaktif permanen] diakses 20 Maret 2015
  3. ↑ kerajaan banjar Diarsipkan 2015-08-01 di Wayback Machine diakses 20 Maret 2015
  4. ↑ kerajaan banjar wordpress diakses 20 Maret 2015
  5. 1 2 3 4 borneonews diakses 20 Maret 2015
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan