Jumat, 30 Oktober 2026
23:48 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Bakar Tongkang

Bagikan:

Di Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir, Riau, masyarakat etnis Tionghoa mengadakan upacara budaya tahunan yang disebut Bakar Tongkang atau Go Gek Cap Lak. Tradisi ini dilakukan untuk menghormati sejarah imigran Tionghoa pertama yang tiba di daerah tersebut dan mengucapkan terima kasih kepada Dewa Kie Hu Ong Ya dan Dewa Tai Sun. [1]

Tradisi ini bermula ketika banyak orang Tiongkok melakukan migrasi besar-besaran pada tahun 1826 untuk mencari tempat tinggal baru. Menurut cerita lokal, para pendatang tersesat di lautan hingga mengikuti cahaya dari sekumpulan kunang-kunang yang membawa mereka ke daratan Bagansiapiapi. [2]

Tradisi ini bermula ketika banyak orang Tiongkok melakukan migrasi besar-besaran pada tahun 1826 untuk mencari tempat tinggal baru. Menurut cerita lokal, para pendatang tersesat di lautan hingga mengikuti cahaya dari sekumpulan kunang-kunang yang membawa mereka ke daratan Bagansiapiapi.[1]

Mereka membakar tongkang, atau kapal kayu, yang mereka tumpangi, sebagai tanda komitmen mereka untuk tinggal di sana selamanya dan tidak kembali ke tanah kelahiran mereka. Semangat "memutus jalan pulang" untuk membangun kehidupan baru di perantauan diwakili oleh tindakan ini.[2]

Pelaksanaan Ritual

Ritual ini dilaksanakan setiap tanggal 15 dan 16 bulan kelima menurut kalender Imlek. Rangkaian acara meliputi:[3]

  1. Sembahyang di Kelenteng : Kelenteng Hock Sieng Kiong, pusat peribadatan tertua di daerah itu, adalah tempat prosesi dimulai dengan doa bersama.
  2. Arak-arakan: Replika tongkang berukuran besar diarak menuju lokasi pembakaran akhir melalui jalan-jalan utama kota.
  3. Puncak Acara (Pembakaran): Replika kapal dibakar hingga habis. Memperhatikan arah jatuhnya tiang kapal, atau master mast, adalah perhatian utama masyarakat. Dipercaya bahwa arah jatuh tiang menunjukkan ke mana kemakmuran atau sumber rezeki akan datang dalam setahun ke depan, baik di laut maupun di darat.

Selain aspek spiritual, Bakar Tongkang telah ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya takbenda Indonesia. Secara ekonomi, festival ini menjadi penggerak utama pariwisata di Rokan Hilir, yang mempertemukan ribuan diaspora Tionghoa dari berbagai negara serta wisatawan mancanegara, menjadikannya salah satu festival budaya terbesar di Provinsi Riau.

Referensi

  1. 1 2 Ginting, Yanti Mayasari; Sitompul, Silvia Sari; Siregar, Helly Aroza; Nainggolan, Raya Desmawanto; Yusriadi, Yusriadi (2023-12-07). "Knowledge Management in Sustainable Competitive Destinations (SCD) of National Cultural Tourism Event Bakar Tongkang Bagansiapiapi". Migration Letters. 20 (5): 952–970. doi:10.59670/ml.v20i5.4157. ISSN 1741-8992.
  2. 1 2 Melisa, Melisa; M.Si.Par, Rianto (2021-11-30). "PERHELATAN ATRAKSI BUDAYA BAKAR TONGKANG SEBAGAI SALAH SATU ATRAKSI BUDAYA DI RIAU". Jurnal Hospitality dan Pariwisata. 7 (2). doi:10.30813/jhp.v7i2.3023. ISSN 2655-8165.
  3. ↑ Indonesia, C. N. N. "Filosofi Memulai Hidup Baru dalam Ritual Bakar Tongkang". gaya hidup. Diakses tanggal 2026-01-31.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan